my graduation

my graduation

Kamis, 18 Januari 2018

Rosyda Amalia : Penulis Buku dan Pakar Pengembangan Diri Berbasis Studi Al Qur’an



When you know Rosyda Amalia, you know her as a book author and the expert of self-improvement based on Al Qur’an studies

Selamat malam, Pembaca. Ada yang tahu sudah berapa lama aku tidak menulis? Satu tahun? Ah, memalukan sekali. Tidak bisa ku pungkiri, Pembaca. Kegiatan kampus menggila. Dan aku adalah pribadi yang bisa dikatakan belum cukup istiqomah menulis di tengah kegiatan yang super padat. Baiklah, itu menjadi pelajaran besar bagiku. Semoga ke depan yang seperti ini tidak lagi terulang.
Pembaca, aku punya misi mulia menulis tulisan ini. Tulisan pertama di blog, di tahun 2018. Harapanku, pembaca bisa mendukung dan membantuku mewujudkan misi mulia ini, seminimal-minimalnya, dengan doa.
Evaluasi semester 3 di asrama, membuatku semakin bersemangat untuk segera keluar dari rumah ini. Bukan, bukan karena aku tidak betah, tetapi karena aku tahu, orang-orang yang senasib dan sepenanggungan denganku tidak berada di rumah ini. Aku harus menjelajah, pergi ke banyak tempat untuk menemukan orang-orang yang kata Bang Robi, unik―itulah sebabnya aku mesti sering ke luar rumah.
Diawali dengan kegelisahan mahasiswa sastra ketika ditanya soal pekerjaan. Aku ingat betul saat PPSMB, aku diberi stiker dengan tulisan, “Mau jadi apa?”―pertanyaan yang tampaknya jauh lebih menakutkan ketimbang “Apa kabar skripsi?”
Kegelisahan ini kemudian semakin menjadi-jadi ketika aku dihadapkan dengan teman-teman yang asik sekali bicara soal kerja di pemerintahan, di kantor, di perusahaan ternama, dan lain-lain. Keren sekali, bukan? Membuatku amnesia tentang dua buku yang sudah berhasil kuterbitkan―hal yang tidak ku sadari bahwa itu sebetulnya adalah sebuah peluang besar―karena asik melihat pencapaian orang lain. Lalu Bang Robi hadir, memberikan banyak sekali masukan sekaligus dukungan.
Pertama, Bang Robi memintaku bertanya pada diri sendiri, “Kamu ingin orang-orang mengingat apa ketika disebut nama Rosyda Amalia?” Lalu aku bicara pada diriku sendiri. Akan berbeda bukan, ingatan orang-orang antara Sapardi dengan Joko Pinurbo meskipun mereka sama-sama menulis puisi? Akan berbeda bukan, ingatan orang-orang ketika disebut nama Asma Nadia dan Habiburrahman El Shirazy meskipun mereka sama-sama menulis novel populer? Nah, bagaimana dengan aku?
Kedua, Bang Robi memintaku bertanya pada diri sendiri, “Dengan cara apa, atau bagaimana kamu bisa mendapatkan penghasilan 10 juta perbulan dengan jalan menulis?” Lalu aku bicara pada diriku sendiri. Kalau si A dengan pekerjaan B bisa mendapatkan penghasilan 10 juta per bulan dengan melakukan x, y, z, bagaimana dengan aku?
Ketiga, Bang Robi memintaku untuk mencari orang-orang yang bisa mendukung dan membantu mewujudkan mimpi dan cita-citaku. Mencari orang yang senasib sepenanggungan, yang paham betul bagaimana jatuh bangun dan asam garam kehidupan menjadi seorang penulis.
Dan inilah ketiga jawabanku.
Pertama, personal branding. Aku sadar sebetulnya jika sejak kecil jiwaku dekat dengan Al-Qur’an. Aku tidak habis pikir bagaimana dulu saat SD aku bisa semangat sekali menghafal Al Qur’an padahal guru tahfidzku bisa dibilang menyeramkan. Belum lagi ujian kenaikan surat, jangan ditanya bagaimana sulitnya. SMP dan SMA pun begitu. Tasmi’ 5 juz tanpa henti yang biasanya menghabiskan waktu semenjak usai sholat subuh hingga menjelang dhuhur, seringkali membuat suaraku berubah menjadi seperti kodok―suatu hal yang sulit sekali kulakukan sekarang.
Lalu, apa hubungannya dengan personal branding?
Ya, kegelisahanku adalah tentang memahami Al Qur’an. Banyak orang yang berinteraksi dengan Al Qur’an berhenti hanya sampai pada membaca ayatnya saja―kadang aku pun begitu. Tidak membaca artinya, apalagi paham, bahkan mengamalkan. Padahal sebagai umat muslim kita tahu, Al Qur’an adalah pedoman hidup. Al Qur’an mengatur segala macam aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Lantas, apa yang mencegah kita dari mengembalikan segala solusi permasalahan kepada Al Qur’an?
Dari kegelisahan inilah kemudian aku akan membuat personal branding. Aku akan menulis buku-buku self improvement berbasis Al Qur’an. Aku akan fokus di situ. Orang-orang yang gelisah, tak punya semangat, tak percaya diri, ingin mendapatkan kekayaan hati, ingin bahagia, boleh membaca buku-buku motivasi dan pengembangan diri berbasis psikologi, tetapi aku menawarkan Al Qur’an dan pemahamannya yang detail sebagai solusi.
Buku Belajar Keagungan Tuhan dari Alam yang ku tulis, lahir dari kegelisahan soal ketidakpekaan orang-orang terhadap tanda-tanda dan peringatan Tuhan yang Ia sampaikan lewat hal-hal kecil dan sederhana di sekitar kita. Dan kegelisahan ini didukung oleh banyaknya firman Allah di dalam Al-Qur’an, seperti,
(1)   80. Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera. 81. Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari? (QS. Gafir : 80-81)
(2)   Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (QS. Az Zumar : 21)
(3)   Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya (QS. Ar Ruum : 24)
Lalu, langkah konkret apa yang harus kulakukan? Jelas, mempelajari dan mendalami Al Qur’an itu sendiri. Aku berencana menyelesaikan hafalanku setelah lulus kuliah (Februari 2019) hingga akhir tahun tersebut. Sembari menghafal, aku juga meniatkan untuk mempelajari dan mendalami tafsirnya, mempelajari segala hal tentang Al Qur’an, sambil terus latihan menulis. Selanjutnya, aku akan melanjutkan program master of Islamic Studies, University Malaya. Nantinya di sana aku akan melakukan riset dalam bidang studi Al Qur’an dan Hadith. Aku sudah beberapa kali berdiskusi dengan dosen, mencari info sebanyak-banyaknya soal studi lanjut di Malaysia, beasiswa yang mendukung program tersebut, dan lain-lain. Doakan semoga segalanya berjalan dengan lancar ya, Pembaca. So, when you know Rosyda Amalia, you know her as a book author and the expert of self-improvement based on Al Qur’an studies.
Jawaban kedua, hitung-hitungan penghasilan. Sejujurnya, aku sangat tidak ahli dalam hal ini. Karenanya, aku menawarkan pada Pembaca, barangkali ada yang ahli dalam urusan ini, aku dengan senang hati bersedia untuk diajak berkolaborasi. Tetapi, aku akan mencoba melakukan hitungan kasar terlebih dahulu―sebisaku.
            Juli lalu, aku mendapat kabar bahwa pihak Elex Media Komputindo telah mentransfer uang sebesar Rp836.181,00 yang merupakan DP awal royalti. Besarnya adalah 15% dari estimasi penjualan. Jumlah tersebut sudah dipotong pajak sebesar 30%. Aku benar-benar belum paham bagaimana cara menghitungnya, yang aku paham adalah uang sebesar Rp836.181,00 jelas tidak layak dibilang cukup sebagai penghasilan bulanan. Apalagi, rentang pengiriman uang royalti itu adalah Agustus-Februari. Lalu, bagaimana aku bisa mendapatkan penghasilan yang sama dengan si A yang bekerja di kantor? Hitunglah Juli-Januari ini royalti bukuku adalah Rp800.000,00. Itu artinya satu bulan aku hanya mendapat Rp100.000,00. Bagaimana menaikkan pendapatan Rp100.000,00 menjadi 10 juta?
Aku berencana untuk membuat pemasaran yang lebih masif lagi. Kemarin, aku tidak begitu peduli soal royalti, sebab niat awalku menulis bukan untuk mencari uang. Tetapi kemudian, keputusanku untuk bekerja menjadi penulis, mau tidak mau membuatku harus berkutat dengan angka-angka penghasilan. Jadi, aku akan lebih gencar mempromosikan bukuku lewat media sosial―dibantu dengan desain yang unik dan menarik. Aku juga akan meminta testimoni dari orang-orang ternama sehingga mampu menarik lebih banyak pembaca. Aku juga akan membuat video profile yang menjelaskan secara singkat seperti apa isi bukuku. Selain itu, aku berencana untuk mengadakan launching buku sehingga akan lebih banyak orang yang tahu bahwa aku baru saja menerbitkan buku.
Nah, tetapi, kembali pada perhitungan tadi, katakanlah dengan berbagai macam cara di atas aku bisa menaikkannya hingga Rp8.000.000,00 yang itu artinya jika dibagi 8, aku mendapatkan penghasilan Rp1.000.000 perbulan. Itu satu buku. Untuk melipatgandakannya menjadi 10 juta, itu artinya aku harus bisa paling tidak menghasilkan 10 buku dalam waktu 8 bulan. Waw! Bahkan buku pertamaku selesai dalam waktu 2 tahun. Oke, berarti yang harus dipikirkan sekarang adalah, bukan sulit dan tidak mungkinnya. Bang Robi sudah sangat baik mendukungku dengan memberi begitu banyak nasihat dan kemungkinan yang mesti dicoba, kenapa aku mesti pesimis? Yakin bahwa niat awal menulis adalah menyebar kebaikan, lalu berusaha dan berdoa pada Allah supaya Allah memberikan bantuan yang besar untuk menyebarkan kebaikan via tulisan itu untuk jutaan orang di dunia ini. Semakin banyak dibaca orang, semakin banyak memberikan manfaat! Bismillah!
Melihat hasil perhitungan di atas, mau tidak mau aku harus belajar ilmu marketing. Aku juga harus terus berinovasi dan paham bagaimana cara lain untuk mendapatkan penghasilan X sebulan dengan cara a, b, c, dan d. Nah Pembaca, ada yang bersedia mengajariku? :)
Jawaban ketiga, daftar orang-orang yang akan kuhubungi, guna meminta dukungan atas mimpi dan cita-citaku. Mulai dari orang yang cukup dekat denganku, yakni Sucia Ramadhani―penulis 23 novel. Kemudian Mas Robi Afrizan Saputra―penulis 11 buku motivasi Islam. Selanjutnya, ada beberapa tokoh Forum Lingkar Pena yang cukup bisa dijangkau, seperti Bunda Sinta Yudisia, Bunda Afra (Afifah Afra), Bunda Helvy Tiana Rosa, Bunda Asma Nadia, Kang Abik (Habiburrahman), dan beberapa penulis lainnya yang saya yakin, telah sangat berpengalaman di bidang kepenulisan. Selain itu, tentunya saya juga harus menghubungi tokoh untuk segi keilmuan Al Qur’annya. Saya berencana untuk bisa menghubungi teman dan adik-adik kelas saya yang sudah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya, seperti Galuh Ratna, Muhammad Aufa Aulia, Mujahid, dan Abdi Firmansyah. Saya juga berencana untuk menghubungi Ustad Salim A. Fillah, Ustad Ransi Al-Indragiri, Ustad Anton Ismunanto, dan Ustad Hamid Fahmy Zarkasy. Mohon doanya semoga dilancarkan ya, Pembaca :’)
Nah, sudah sampai di penghujung tulisan. Doa saya, semoga setelah ini akan ada banyak pembaca yang tertarik dan berkenan untuk berkolaborasi dengan saya menjaga firman-firman Allah. Bisa dengan desain, marketing, saran, nasihat, atau yang lain. Bagi saya, menjaga Al Qur’an tidak cukup hanya dengan menghafalnya saja. Tetapi juga memahami, mengamalkan, dan membaginya dengan banyak orang sehingga akan semakin banyak muslim yang menyimpan Al Qur’an di dada mereka. Dan saya akan mewujudkan mimpi itu melalui buku-buku yang saya tulis. In sya Allah. Bantu saya dengan doa Anda sekalian ya, Pembaca :’)

So, do you wanna join this mission? Let’s collaborate!

Terima kasih banyak untuk,
Ayah dan Ibuku, yang tak pernah lelah mendukung dan mendoakanku.
Bang Robi, yang telah memberikan banyak sekali masukan dan pencerahan.
Cia dan Mas Robi, yang membantu menjawab kegelisahan-kegelisahanku.
Dan Pandu, yang sering sekali kubuat repot. Sebab katanya matahari muncul ketika malam semakin pekat.

Terima kasih untuk Anda semua, Pembaca! 

Sabtu, 17 Juni 2017

Kenangan Ramadhan 4 : Cabut Saja Tuhan, Kalau Kesuksesan Ini Membuat Kami Lupa



Dari kiri : Ridha-Huda-Mas Fery-Rosyda
Selamat malam, Pembaca. Meski besok harus bangun jam 1 untuk SOTR, kusempatkan untuk menulis ilmu menarik yang kudapatkan hari ini. penasaran? Yuk simak :)
Fery Atmaja. Seorang moslem entrepreneur muda dengan wajah mirip seorang pemain film Thailand, kisah pebisnis sukses juga. Ada yang tahu? Ya, pemain film the Billionaire, Pachara Chirathivat. Alhamdulillah, aku dan teman-teman RK dan teman-teman peserta RK Academy diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengan beliau.
Pada awal pembicaraan, Mas Fery memberikan sebuah nasihat yang mirip dengan apa yang selama ini menjadi pedomanku, “Setiap musibah, pasti ada hikmahnya. Jadi, disyukuri saja.” Bedanya dengan pedomanku, aku menanamkan pada diriku bahwa setiap kejadian, apapun itutidak hanya musibah, pastilah mengandung hikmah dan pelajaran kehidupan. Lantas beliau mulai bercerita.
Rupanya, beliau sudah memulai bisnis sejak duduk di bangku kuliah semester 2. Padahal sebelum kuliah, beliau anak yang manja, apa-apa minta orang tua. Sampai pada suatu saat, yakni saat beliau kelas 2 SMA, ayah beliau meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.. Sejak saat itulah kemudian beliau berpikir bahwa mau tidak mau ia harus bisa membiayai hidupnya sendiri. Akhirnya, dengan tekad yang kuat, ketika duduk di bangku kuliah semeseter 2, beliau memulai untuk berbisnis. Bisnis pertama beliau adalah berjualan baju. Beliau membeli baju dari kakak beliau, kemudian menjualnya kembali kepada teman-teman beliau. “Saya selalu berangkat lebih pagi saat mau ke kampus. Saya mampir dulu kos temen-temen saya, saya gedorin pintunya satu-satu, beli..! beli..!” cerita Mas Fery.
Alhamdulillah, selain berjualan baju, Mas Fery juga mendapatkan beasiswa sehingga bisa terus kuliah dan akhirnya lulus. Setelah lulus, Mas Fery berniat untuk membuka usaha. Namun ketika meminta izin kepada ibunya, tidak diperbolehkan. “Sekolah tinggi kok hanya untuk jadi pedagang.” Begitu kata ibunya saat itu. Mas Fery diminta untuk bekerja. Sebab ridha orang tua adalah ridha Allah, Mas Fery pun menuruti permintaan ibunya tersebut. Mas Fery berkali-kali melamar pekerjaan, tidak ada satu pun yang diterima. Akhirnya ibu Mas Fery pun pasrah, lantas membolehkan beliau untuk membuka usaha. Lantas Mas Fery berkata, “Saya ini mau jadi entrepreneur, bukan pedagang. Sebab, pedagang dan entrepreneur itu beda. Kalau pedagang, dapat segitu ya Alhamdulillah. Sebatas itu saja. Tapi kalau entrepreneur, mengonsep usahanya sedemikian rupa supaya bisa terus berkembang dan memberikan banyak manfaat untuk umat.”
Lalu, mulailah Mas Fery membuka usaha pertamanya, yakni kedai jus. Singkat cerita, beliau bangkrut selama 1,5 tahun dan akhirnya kedai jus tersebut mati. Lantas apakah beliau menyerah? Tentu tidak. “Belajar bisnis itu intinya action. Kita akan berkembang dan menjadi kreatif sepanjang proses di dalam aksi tersebut. Sebab kreativitas itu tumbuh bersama proses. Belum tentu sekian banyak materi dan cara bisnis yang saya sampaikan nanti, jika diterapkan persis ke bisnis kalian bisa sukses juga.”
Selanjutnya, beliau mulai menyampaikan beberapa hal yang mesti dilakukan sebelum memulai bisnis. Pertama, memperbaiki hubungan. Memperbaiki hubungan dengan siapa? Dengan Allah, dengan keluarga, juga dengan sahabat dan teman-teman. Memperbaiki hubungan dengan Allah itu sangat penting. Sebab ketika bangkrut itu, Mas Fery merasa ada yang salah. Beliau akhirnya menemukan bahwa kesalahan beliau terletak pada niatnya. Awalnya beliau meniatkan ibadah sebagai usaha, bukan usaha sebagai ibadah. “Ibaratnya seperti ‘Aku mau tahajjud ah, biar warungku ramai, dll.’ Padahal mestinya tidak begitu. Mestinya adalah menjadikan usaha sebagai ibadah, bukan ibadah sebagai usaha. Ingat ya temen-temen, kalau kita mintanya dunia, belum tentu dunianya aja dapet. Tapi kalo kita mintanya akhirat, in sya Allah dunianya dapet, akhiratnya pun dapet.” Terang Mas Fery panjang lebar. Lalu beliau bercerita,  saat bangkrut dan akhirnya menutup kedai jusnya tersebut, beliau memutuskan untuk bersilaturrahmi. Beliau mendatangi teman-teman beliau dan saling bertukar nasihat serta informasi.
Kemudian, menyampaikan beberapa hal yang dapat mempercepat rezeki, yakni bertakwa, bersilaturrahmi, dan bersedekah. Nah, ada hal yang sanagt bagus di sini pembaca. “Balasan Allah atas sedekah kita itu, bukan hanya uang aja. Bukan hanya materi. Kesehatan, umur panjang, itu adalah balasan yang tidak mungkin kita dapatkan dari siapapun kecuali Allah.” Seketika tubuhku merinding. Betapa selama ini kita sering lupa. Ketika sudah sedekah, inginnya di balas harta yang banyak, begitu terus. Padahal benar, panjang umur dalam kebaikan dan takwa adalah nikmat yang tiada bandingnya.
Kalau boleh sedikit share, keluargaku bisa dibilang cukup. Tidak kaya sekali, tapi juga Alhamdulillah tidak pernah kurang. Mungkin tidak glamour dan sering pergi keluar negri, tapi Alhamdulillah keberkahan atas sedekah dan zakat yang tidak pernah lupa dibayarkan itu selalu ada. Ayahku selalu berkata, “Bersyukur, Nak. Banyak orang di luar sana yang kelihatannya sangat kaya tapi tidak bahagia. Bapak sehat, ibu sehat, anak-anak sehat dan berbakti serta rajin belajar adalah anugerah yang luar biasa dari Allah. Alhamdulillah kalau butuh apapun uang juga selalu ada, tidak perlu hutang sana-sini. Balasan Allah itu ga selalu harta yang banyak, Nak. Bersyukur.”
Kemudian Mas Fery melanjutkan, “Allah itu maha tahu kondisi kita. Bisa jadi nih, kalo kita dikasih rezeki lebih sedikit aja, dari apa yang harusnya kita dapet, kita jadi sombong dan jauh dari Allah. Pun saya, saya selalu berdoa, ‘Ya Allah, kalau apa yang ada pada diriku sekarang ini membuatku lupa dan jauh dari-Mu, maka ambil ya Allah. Ambil semuanya sekarang juga, jangan ditunda-tunda.’ Karena apa? Karena sebenarnya ujian terberat itu bukan saat kita jatuh, tetapi justru saat kita sukses.”
Singkat cerita, setelah bersilaturrahmi dan bertanya serta berusaha menyusun proposal bisnis untuk diajukan kepada investor guna mendapatkan modal, mulailah Mas Fery membuka warung makan Preksu (Geprek dan Susu). Sebetulnya ada beberapa cerita yang cukup menarik, Pembaca. Tapi kalau di tulis di sini akan panjang sekali. Hehe. Begitu pula dengan cara-cara bisnis yang beliau terapkan pada warung beliau ini, sebetulnya ada juga. Tapi berhubung tulisan ini kutekankan pada faktor eksternalnya, jadi perihal perbisnisan tidak akan kutulis di sini. Kalau penasaran, lihat catatanku saja ya. Wkwk.
Semoga kesuksesan tidak membuat kita lupa pada Allah ya, Pembaca :)