my graduation

my graduation

Rabu, 28 Oktober 2015

Kisah Inspiratif 11 (Secuil Potongan Ayam dalam Semangkuk Sup)

27 Oktober 2015

Selamat malam. Aku tidak tahu apakah kisahku kali ini adalah kisah inspiratif atau bukan. Tapi aku hanya ingin bercerita saja.

Kenapa judulnya secuil ayam dalam sup? Ya, karena secuil ayam ini senantiasa mengingatkanku pada sesorang. Seseorang yang sangat menginspirasi hidupku. Merry Riana.

Aku tidak tahu. Beberapa orang menganggapku lebay dengan caraku bertahan hidup di Jogja. Dengan pola makanku, dan beberapa tingkah lakuku. Memang bagaimana?

Aku bukanlah tipe orang yang bisa meninggalkan makan pagi. Atau ya, sebut sajalah sarapan. Terlebih bila hari itu aku harus beraktivitas. Jadi, aku men-setting makanku seperti ini. Aku selalu membeli nasi 3000. Ini untuk dua kali makan. Malam, dan esok paginya. Tenang, nasi 3000 yang dijual warung makan samping asramaku ini banyak sekali. Untuk manusia mungil seperti aku, itu sudah sangat cukup untuk 2x makan. Kemudian aku membeli sup 2000, dan sayur yang lain yang bisa tahan hingga esok hari 2000 pula. Jadi untuk makan satu hari, kira-kira aku hanya mengeluarkan 7000 rupiah, yah, 8000 kalau dengan tempe goreng 2 potong. Aku tidak melakukan pengiritan apapun. Kalau memang tidak perlu, kenapa harus banyak-banyak? Aku tetap makan dengan sayur, meski terkadang tanpa lauk. Tapi kalian harus tahu. Sup yang biasa aku beli, isinya macam-macam. Tidak hanya sayur saja. Terkadang ada secuil potongan daging ayam, atau beberapa potong sosis. Pernah juga waktu itu bakso. Nah, inilah yang membuatku teringat pada miss Merry. Saat masa perjuangannya mengenyam pendidikan tinggi di Singapore, ia hampir tidak pernah makan siang. Kalaupun memang ingin makan, ia selalu memilih menu yang paling murah. Yakni nasi dan sayur tahu. Beruntungnya, kantin tersebut menyediakan kuah kaldu ayam gratis. Jadi, miss Merry selalu menggunakan kuah tersebut untuk makan. Terkadang malah hanya makan dengan kuah kaldu tersebut. Seringnya juga, miss Merry menciduk dalam-dalam kuah kaldu tersebut, dengan harapan bisa menemukan secuil potongan-potongan ayam yang biasanya ada di bagian bawah. Inilah yang kemudian mengingatkanku padanya setiap kali menemukan potongan ayam pada sup yang kubeli. Sama seperti perasaan miss Merry kala itu, aku senang sekali. Karena di sini pun, ayam adalah sesuatu yang mewah sekali buatku. Aku sampai tidak ingat kapan kali terakhirku makan ayam saking jarangnya. Mungkin saat acara studi karya beberapa minggu yang lalu. Bahagia itu sederhana ya? Menemukan secuil ayam pada semangkuk sup.

Nah, karena hal ini, beberapa orang beranggapan aku lebay. Terlalu irit. Yah, kalau boleh jujur, aku bisa saja makan ayam setiap hari. Berganti menu setiap waktu. Menggunakan lauk-lauk mahal ditambah minuman seperti es teh, atau semacamnya. Aku bisa saja menghabiskan jatah uangku setiap bulan untuk makan. Tapi, apa asiknya?

Aku rasa berjuang tidak memiliki arti yang sempit. Belajar keras sampai larut malam bahkan sampai tidak tidur, ke kampus setiap hari dari pagi sampai malam, membabat habis seluruh buku di perpustakaan, ya, itu perjuangan. Tapi rasanya, definisi perjuangan tidak hanya sampai di situ. Hidup sulit dalam kesederhanaan juga perjuangan. Apa asiknya berjuang dalam kemewahan dan gelimang harta?

Apa yang akan kubagikan pada anak cucuku nanti? Apa yang akan mereka ambil pelajaran dariku bila selama berjuang di bumi Gadjah Mada aku tidak bersusah payah?

Aku senang, bahkan terkadang sempat iri dengan orang tuaku. Mereka hidup di zaman yang ah, tidak bisa dibandingkan dengan apa yang kualami saat ini. Aku begitu kagum dengan perjuangan mereka semasa sekolah. Bagaimana mereka harus berjalan jauh, berkilo-kilo meter. Sedangkan aku? Bersepeda. Bagaimana kaki mereka melepuh karena sepatu yang sudah rusak, bahkan terkadang tak memakai sepatu. Sedangkan aku? Sepatu saja dua. Bagaimana mereka makan hanya dengan tempe tahu, bahkan terkadang hanya nasi? Sedangkan aku, sudah dengan sayur.

Bolehlah kalian berpendapat sekarang zaman sudah maju. Semuanya serba cepat. Teknologi semakin canggih dan bla bla bla. Tapi kalian harus tahu. Jati diri itu dibentuk atas dasar perjuangan, kerja keras, dan rasa sakit. Agar apa? Agar kita tidak lupa saat nanti sudah berjaya.

Ayahku, ibuku, dan orang-orang yang hidup pada masa sulit, sekarang badannya kuat. Jalan jauh tidak mudah lelah. Padahal mereka sudah tua. Sedang kita? Kebanyakan dari kita maksutku, jalan sedikit saja sudah mengeluh ini itu, lapar, haus, dan sebagainya. Padahal kita lebih muda. Perihal waktupun begitu. Mengandalkan mobil atau motor, berangkat lima menit sebelum acara dimulai dan akhirnya terlambat. Enteng sekali sepertinya. Aku bukan membela diri karena sampai sekarang tidak berani mengendarai motor, bukan. Tapi pemikiran para pejalan kaki dan pesepeda bahwa mereka membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai ke tempat tujuan, membuat mereka jauh lebih siap dan jauh lebih awal mempersiapkan diri. Belajar dari ayah dan ibuku, mereka memang bisa saja mengendarai kendaraan bermotor dalam waktu cepat. Ngebut, dan menyalip sana-sini. Tapi tidak. Baik ayah maupun ibuku-aku pikir begitu juga dengan orang yang hidup di masa sulit-mereka selalu meng-agendakan berangkat awal, dan sampai tujuan setidaknya 15-30 menit sebelum acara dimulai. Beberapa hal ini yang membuatku terkadang sering kesal, pada orang-orang yang sering terlambat, padahal mereka membawa kendaraan sendiri. Bisa dipastikan aku adalah orang yang tidak pernah terlambat. Silahkan tanya beberapa temanku. Aku sering datang kuliah paling awal, dan sendiri. Karena memang pada dasarnya aku tidak terlalu suka terburu-buru. Lebih tenang datang awal, dan santai sejenak sambil menunggu masuk kelas.

Aku tidak mau, anak-anakku nanti mendengarkan kisah indah kehidupan mahasiswa Gadjah Mada yang berlimang harta. Aku mau mereka tahu, bahwa belajar kehidupan itu penting. Dengan makan sederhana, kita akan tahu bagaimana orang-orang di sana yang juga makan seadanya, bahkan tidak bisa makan. Kita akan sangat sangat bersyukur ketika suatu saat diberi rezeki lebih untuk makan enak. Kalian harus percaya, rasanya sampai ingin menangis. Pun dengan berjalan kaki, mengayuh sepeda atau menaiki kendaraan umum, kita akan tahu, bagaimana menjadi orang-orang yang tak punya kendaraan. Bagaimana orang-orang yang hanya punya sepeda sedangkan harus berangkat bersama. Sedikit cerita selipan, suatu sore saat perjalanan pulang, aku melihat seorang bapak-bapak menaiki sepeda. Di belakangnya ada keranjang belanja yang entah isinya apa, lalu diatasnya ada seorang perempuan-mungkin istrinya. Aku tak berhenti menatap mereka hingga berbelok. “Oh Allah, aku sudah bawa sepeda sendiri, tapi kalau panas menyengat saja kadang masih suka mengeluh. Bagaimana dengan bapak itu tadi? Sudah bawa sepeda, masih bawa keranjang belanja, ada istrinya pula yang duduk diatasnya. Ampuni hamba bila masih tergolong manusia yang tidak bersyukur, Allah..”

Dengan hidup seperti ini pun, kita menjadi lebih sehat. Semenjak di Jogja, aku jadi jarang sekali makan atau minum yang aneh-aneh. Air putih saja cukup. Ya, karena minuman selain air putih mahal. Sekali-kali jus, amanah dari ibuku, hehe. Pun aku tidak pernah makan mie. Selain tidak mengenyangkan, aku juga malas membeli. Aku jarang makan makanan berlemak, atau yah, semacamnya lah. Karena menurut penelitian tahu dan tempe juga sangat baik untuk tubuh ya, jadi fine-fine saja setiap hari aku hanya makan dengan tahu atau tempe dan sayur.

Saat itu ada yang berkomentar, “Tapi, Rosy. Miss Merry pas itu kan emang ga punya duit. Kalo kamu ini di buat buat. Lebay.”
Ya, pandangan orang memang tidak ada habisnya. Tapi aku tidak malu kok. Aku justru senang karena dengan begini aku bisa tahu bagaimana rasanya hidup sulit, jadi sedikit tahu-sangat sedikit tahu-bagaimana rasanya menjadi orang tuaku di masa dulu. Bahkan terkadang aku malu bila bisa hidup enak, sementara ingat bagaimana orang tuaku berjuang dulu.

Pun saat godaan untuk laundry muncul, aku berusaha sekuat tenaga untuk menepisnya. Selain membuang uang, kalau memang punya tangan kenapa tidak dimanfaatkan? Teringat bagaimana orang-orang yang jangankan mencuci, memakai baju pun sulit karena tidak punya tangan.

Yah, intinya, secuil potongan ayam yang menjadi judul kisahku kali ini melambangkan kesederhanaan. Terkadang kesederhaan membuat kita menjadi lebih kreatif, lebih bersyukur, dan lebih menghargai terhadap apa-apa yang diberikan Tuhan kepada kita.

Semoga bermanfaat :D


Salam #MudaMenginspirasi !

Senin, 26 Oktober 2015

Kisah Inspiratif 10 (Perenungan)

22 Oktober 2015

Hai :D

Fiuh, ternyata menulis yang sregep itu memang tidak mudah yah. Butuh tekad dan perjuangan yang keras.

Kali ini aku mau cerita soal kejadian beberapa hari lalu. Sebenernya pas habis kejadian hari itu aku udah niat mau langusung nulis. Tapi saking bad day nya hari itu-bad night sih lebih tepatnya-walhasil aku langsung bobok biar ga makin banyak orang yang kena imbas atas kekeselanku. Wkwk

Jadi, pas itu hari kamis. Tanggal 22. Ada pembukaan bulan bahasa-acaranya Sastra Indonesia. Beberapa hari sebelum itu aku emang udah ditawarin sama bagian acara, mau ga tampil baca puisi. Ya, buat pengalaman kenapa engga? Akhirnya aku iyain aja. Trus yaudah, aku cari-cari puisi yang bagus, lalala lilili(kebiasaan Rosyda buat ngomong bla bla bla..) dan,  ga ada yang sreg. Yaudah akhirnya aku mutusin buat baca puisi buatanku sendiri aja. Oke fiks, aku pelajari, akukasih tanda mana-mana yang kudu dibaca biasa, pelan ato teriak, ya, pokoknya aku latian sebisaku deh.

Nah, pas kamisnya nih. Dari sore menjelang maghrib gitukan aku udah dateng ke FIB, udah mulai dingin tuh tangannya-biasa Rosyda suka alay kalo mau maju. Padahal acara masih ntar habis isya. Yaudah aku akhirnya buka, trus sholat maghrib deh. Sambil nunggu, aku mencoba melawan deg-deg an dengan main hp*alaybangetkan? -_- Haha. Eh trus aku bilang deh sama ibuku kalo aku mau tampil gitu-biasa, baru jadi anak rantau apa-apa dibilang ke ortu :D trus kata ibuku ya, semoga sukses, trus jangan lupa baca surat Al-Kahfi, soalnya malem Jum’at. Oh iya aku malah lupa. Yaudah akhirnya sambil nunggu isya aku ngaji deh. Jangan dikira tenang, ngaji gitu hatiku tetep dag dig dug der oy! Wkwk. Sampe akhirnya isya, trus aku sholat isya deh. Trus pas udah aku langsung ke depan panggung terbuka-tempat pembukaan acara bulan bahasanya. Eh ternyata, temenku udah ada yang maju satu. Kan yang dimintai tolong buat nampil empat orang termasuk aku, nah, satunya udah maju. Beeeh, tambah tambah deh aku deg-deg-annya.

Mencoba untuk rileks, aku duduk deh di tiker yang udah disediain. Sambil liat temen keduaku yang tampil-aku dapet urutan terakhir-trus ada juga dari band apa ya kemarin aku lupa eh. Pokoe bagus. Mbanya yang nyanyi cantik, suaranya juga apik banget :D ketok.e menikmati ya? Padahal aku takut vrooh :v sampe ditawari temenku cemilan aku gamau, saking deg-degannya.

Habis temen ketigaku tampil, ini nih saatnya aku maju. Lepas kacamata, dan melangkah ke depan!*apasihrosy-_-

Oke, di depan ditanya-tanyain bentar sama MC nya, judul puisinya apa, lalala lilili, trus dipersilahkan deh buat baca. Aku ngambil nafas pelan dan, alhamdulillah deg-degannya hilang. Kakiku juga ga bergetar. Wkwk. Baguslah. Nah, tapi…

Awalnya aku udah niat gamau pake mic. Karena suaraku udah cukup besar buat teriak dan baca puisi*gapercaya? Soalnya pas baca puisi di acara studi karya dulu aku juga ga pake mic-cuman aku inget kalo dulu itu di ruangan tertutup. Nah, berhubung ini sekarang ruangganya terbuka, aku jadi mikir. Wah,jangan-jangan ntar ga kedengeran. Kebetulan dua temenku yang sebelumnya juga pake mic. Jadi galau kan akunya. Tapi yaudahlah, daripada ga kedengeran, aku coba aja pake mic. Nah, mic nya yang model standmic, yang biasanya buat nyanyi para penyanyi kece*apasihrosy-_-

Bait pertama, lancar. Tapi udah mulai kerasa ga nyaman nih. Karena aku ga bisa gerak kemana-mana. Trus tanganku yang megang map puisi juga ga nyaman. Kehalang gagang stand mic nya itu. wah, mulai deh aku ga fokus. Pas bait ketiga kalo ga salah, bagian itu kan aku harusnya teriak kenceng, nah, aku lupa dibagian akhirnya ya Allah tolong, piye jal perasaankuuuu. Itu harusnya dibaca rada cepet sambil teriak gitu malah aku lupa kata belakangnya -___- hah, that’s really a bad thing. Jadi kalimatnya kan gini, “bayangkan bila Indonesia macam negri arab. Macam negri, yang bila panas membakar kulit bila dingin meremukkan tulang!” Nah, yang “bila panas membakar kulit bila dingin meremukkan tulang” itu kan harusnya cepet+teriak, aku lupa kata-kata “meremuk”kannya -_- yang ada dipikiranku malah menusuk -_-jadilah aku bacanya, “yang bila panas membakar kulit bila dingin me… bila dingin meremukkan tulang!” Jiaaah masya Allah malu-maluin bangeeet.

Huft, gegara itu, ke belakang fokusku malah makin hancur. Ada kesalahan lagi di beberapa kata di bait terakhir. Ya Allah, sediiih banget. Emang sih seleseaku baca aku sok senyum dan ketawa. Tapi aslinya masya Allah aku malu dan jengkel setengah mati. Bener-bener ga sesuai sama yang aku rencanain. Akhirnya begitu turun panggung, aku langsung duduk dan uring-uringan sama temenku. Tapi ya biasa,kata temenku, “gapapa, salah itu biasa. Kan masih belajar.” Hmmh. Oke. Pada akhirnya itu membuat moodku jelek-sangat jelek, sampai kemudian aku memutuskan untuk langsung pulang-karena memang aku juga tidak bisa pulang terlalu malam.

Sepanjang jalan aku terus istighfar, heran juga sebenarnya kenapa bisa sekesal ini. Padahal juga hanya tampil biasa, penonton juga tidak banyak, toh juga bukan lomba atau kompetisi, tak ada yang komentar dan mengkritik pula. Lalu kenapa bisa sekesal ini? Sampai di asrama pun masih begitu. Beberapa orang terkena imbas atas kekesalanku-btw maaf yak :$ sampai akhirnya aku memtuskan untuk duduk dengan tenang dan berfikir sejenak.

Menghirup lalu menghembuskan nafas beberapa kali, dan mendesah pelan. “Oh Allah, ada apa ini sebenarnya? Kenapa aku bisa sekesal ini? Seharusnya aku bersyukur, bayangkan saja bila tadi aku tidak salah dan gagal saat membaca puisi, tentu aku tidak akan pernah tahu bahwa caraku membaca puisi bukanlah dengan standmic. Jadi bila suatu saat kesempatan seperti tadi ada lagi, aku tidak akan menggunakan stand mic, dan mengulangi kesalahn yang sama. Seharusnya aku bersyukur, aku salah di tempat seperti tadi. Tidak ramai penonton, bukan dalam rangka lomba maupun kompetisi, pun tidak ada yang berkomentar ataupun mengkritik secara langsung. Seharusnya aku bersyukur disalahkan sekarang, supaya ke depan tidak salah lagi. Aku jadi teringat salah satu kalimat di buku pemulihan jiwa “Bila tidak melalui si A, pelajaran tetap akan datang padamu entah melalui si B atau si C.” apa maksutnya? Ya, kesalahan itu akan tetap terjadi dengan tujuan memberiku pelajaran agar selanjutnya tidak salah lagi. Jadi kalaupun seandainya malam itu aku memutuskan untuk tidak memakai mic dan akhirnya berhasil, kesalahan akan tetap terjadi, entah esok, lusa ataupun kapan yang aku juga tidak tahu waktunya, dengan tujuan memberiku pelajaran, memberiku petunjuk, bahwa puisi-puisi yang kubacakan, tidak seharusnya dibacakan dengan menggunakan stand mic. Aku butuh berekspresi, bergerak ke sana kemari, yang itu pastinya tak mungkin kulakukan jika berdiri di belakang stand mic.”

Oke, baiklah. Perenungan malam ini cukup. Aku cukup lega karena berhasil memberi pengertian terhadap diriku sendiri bahwa apa yang terjadi barusan adalah semuanya sudah diatur oleh Allah. Akupun memejamkan mata sembari berdoa “Allah, maafkan aku karena terlalu kesal malam ini. Aku yakin, akan ada hikmah dan pelajaran besar yang akan Kau ajarkan padaku atas apa yang sudah terjadi malam ini. Entah esok, lusa atau kapanpun, aku yakin ada hikmah besar di balik peristiwa malam ini. Terimakasih, Allah.
Dan aku merebahkan diri dikasur, lalu terlelap.

Lalu, apa yang ingin kusampaikan di sini?
Ya, lagi-lagi perenungan. Betapa perenungan dan pemahaman terhadap diri kita sendiri itu sangat penting. Ketika pikiran dipenuhi oleh hal-hal negatif yang mengesalkan, cobalah merenung sejenak dan flashback kembali. Akan ada hal-hal positif yang sebenarnya dapat diambil sebagai pelajaran, tapi tak terlihat karena diri sudah dikuasai emosi dan kemarahan.

So, merenung dan quality time untuk diri sendiri itu penting. Untuk mengevaluasi apa-apa yang sudah terjadi, agar tidak mengulangi kesalahan lalu kemudian membuat rencana-rencana hebat selanjutnya.

Keep spirit and positive thinking, guys! :D


Salam #MudaMenginspirasi !

Minggu, 18 Oktober 2015

Kisah Inspiratif 9 (REMINDER)

17 Oktober 2015

Sekujur tubuhku bergetar hebat saat mengetahui adik kelasku tersebut meninggal dalam keadaan tengkurap dan mendekap Al-Qur’an. Bahkan detik ini pun saat aku menulis, sekujur tubuhku masih saja merinding dan gemetar, Maha Suci Allah.

Semalam, memang ada sesuatu yang sedikit aneh padaku. Padahal semalam adalah acara perdana Sastra Indonesia 2015. Memang saat pertama, saat mempersiapkan peralatan, konsumsi, dan sebagainya, aku semangat, tersenyum dan tertawa gembira, menyemangati teman-temanku, meski tidak mandi dan wajahku kotor sekali, it’s fine. Aku baik-baik saja. Pun saat acara mulai tepatnya sekitar pukul tujuh lebih sedikit. Selama acara berlangsung pun aku bahagia. Melihat bagaimana Alhamdulillah sekali acara kami berhasil. Saat menyanyikan lagu flashlight dan sahabat kecil, saat flashmob, semuanya masih baik-baik saja. Tapi..

Tiba-tiba saja begitu selesai acara, aku resah dan gelisah. Seperti ada yang salah dalam diriku. Tapi apa? Saat membereskan barang-barang dan peralatan, lalu memunguti sampah di rerumputan, tiba-tiba tanganku terhenti, lalu melihat ke satu arah. Mengapa tiba-tiba aku merasa hampa dan sepi di tempat seramai ini? Tawa dan canda teman-teman di sekitarku terdengar bahagia sekali. Tapi kenapa aku gelisah? Aku pun menghembuskan nafas, gelisah. Dan dari detik itu, aku menjadi diam.

Setelah semuanya benar-benar selesai, aku mengambil hp yang sejak tadi tak kulihat. Rupanya, mati. Habis baterai. Segera saja aku mencari stop kontak dan men-charge hpku. Tak lama, kunyalakan. Beberapa notif masuk, dan, salah satu diantaranya adalah kabar bahwa salah satu adik kelasku, ada yang meninggal. Jujur, aku juga tidak tau siapa dia. Dengar namanya pun sepertinya belum pernah. Tapi entah kenapa, hatiku jadi semakin gelisah. Tiba-tiba aku rindu keluargaku. Rindu ayah dan ibuku, rindu kakak adikku. Aku juga tak tahu mengapa tiba-tiba begini. Beberapa saat aku diam, mengehela dan menghembuskan nafas kegelisahan. Sebenarnya ada apa ini?

Pulang ke kos temanku, rasanya lelah sekali. Kemudian akupun tidur dengan perasaan gelisah yang masih saja ada.

Paginya, aku pulang ke asrama dan membereskan semuanya. Setelah mandi, aku duduk di kursi dan merenung sebentar. Yang aku baca dari beberapa postingan orang-orang, adik kelasku ini orang baik. Tidak pernah macam-macam. Seketika perasaan gelisah itu hadir kembali. Oh Allah, aku yakin, dia pasti orang yang sangat baik sampai-sampai Kau rindu dan ingin sekali segera bertemu dengannya. Sejujurnya, aku juga ingin, Allah, menjadi hamba yang juga dirindukan oleh-Mu. Bukan, bukan berarti aku ingin cepat mati. Tapi kalau ditanya rindu dan ingin bertemu, aku sudah sangat dan sangat-sangat ingin bertemu Allah. Aku ingin bertemu dengan dzat yang Maha Baik, yang Maha Sempurna. Diizinkan mempunyai jalan dan kisah hidup yang unik lalu bisa membagikannya kepada banyak orang saja aku sudah senang, bagaiamana bila aku bisa benar-benar bertemu dan berada di sisi Allah? Pastinya akan jauh lebih menyenangkan.

Beberapa saat aku berfikir, akhirnya aku tahu apa yang salah dariku. Akhir-akhir ini, aku lupa pada satu kalimat utama yang seharusnya aku ingat setiap hari. Rosyda, ingat mati. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, terlalu banyak bercanda, terlalu banyak tertawa, dan akhirnya lupa. Lupa bahwa tawa dan canda tak akan bersama saat kita kembali pada Allah nanti.  Lupa bahwa teman yang membuat kita bahagia setiap hari tak kan menemani kita saat mati nanti. Lupa bahwa seramai apapun dunia sekarang, saat menghadap Allah nanti, kita hanya sendiri! seorang diri, sepi! Sama seperti yang kurasakan malam tadi. Ketika sekelilingku ramai dengan tawa dan canda, aku merasa sepi.. Ya. Rupanya aku lupa. Aku lupa pada kalimat itu. Kalimat yang seharusnya kuingat dan kutancapkan pada hati dan pikiranku setiap waktu. Tapi beberapa hari ini tidak. Mungkin itu salah satu penyebab kegelisahku malam tadi, dan Allah membuatku merasa sepi diantara ramainya tawa dan canda teman-temanku, untuk mengingatkanku pada kematian.

Akhirnya aku segera bangkit dan me-reset ulang hati dan pikiranku. Aku sudah cukup jauh sampai bisa melupakan kalimat tersebut. Aku berdiri, mengenakan pakaian, menyiapkan buku dan laptop sambil berniat dalam hati untuk tidak lagi mengulang hal-hal buruk yang sudah lalu. Setelah siap, aku berangkat mencari tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas dan belajar.

Di sela mengerjakan tugas, aku membuka hp ku sebentar. Mengecek instagram, sekujur tubuhku bergetar dan merinding hebat. Salah satu adik kelasku memosting sebuah percakapan yang isinya membahas mengenai adik kelasku yang meninggal kemarin. Di sana dijelaskan, adik kelasku meninggal tanpa ada yang tahu. Saat ditemui di kamarnya, ia sudah dalam kondisi meninggal dengan posisi tengkurap dan mendekap Al-Qur’an. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un..

Membaca postingan tersebut, rasanya ingin menangis. Antara haru dan takut, bercampur menjadi satu. Haru, karena ia bisa kembali pada Allah dalam keadaan yang baik. Takut, bagaimana bila suatu saat aku yang kembali pada Allah? Akankah aku bisa kembali dalam keadaan yang baik pula, di hari jum’at, dengan kondisi beribadah kepada Allah?

Sungguh ini merupakan teguran nyata buatku. Betapa sepertinya akhir-akhir ini aku memang melupakan apa yang disebut kematian. Aku terlena, merasa bahwa aku masih muda dan umurku tentu akan lama. Lalu datang kabar meninggalnya adik kelasku, menamparku. Menyadarkan bahwa umur memang tak ada yang tahu. Bahkan dia yang lebih muda darimu sudah lebih dulu pergi meninggalkan dunia ini.

Beberapa saat kemudian aku mendapat kabar lagi, bahwa ternyata dia adalah salah satu santri yang lulus pondok dengan predikat syahadah. Subhanallah.. lagi-lagi aku merinding hebat. Allah, aku yang tak kenal dengannya saja mendengar itu kagum dan tahu bahwa dia adalah seorang yang baik, lebih-lebih Engkau? Maha Besar Allah, semoga Khoirul Miftah termasuk ke dalam hamba-hamba Allah yang sholih, dan senantiasa tenang di sisi-Nya. Aamiin..

Terimakasih, Allah. Karena tidak lelah menegurku dengan memberikan rasa gelisah itu. Terimakasih Allah, karena masih memberiku waktu untuk kembali kepada jalan-Mu. Terimakasih, Allah. Semoga aku tak lagi menjadi hamba yang lalai dan termasuk golongan orang yang merugi karena melupakan kematian. Naudzubillahi min dzalik.


Rosyda, ingat mati.

Selasa, 13 Oktober 2015

Kisah Inspiratif 8 (Di Tengah Penantian)

12 Oktober 2015

Selamat pagi :D

Menunggu itu memang tidak enak ya? Tapi itu bisa menjadi sesuatu yang keren kalau kita bisa menyikapinya dengan baik. Seperti saat ini, aku sedang dalam penantian. Penantian menunggu apa? Kereta. Hahaha.

Aku merasa menjadi keren sekali sekarang. Bagaimana tidak? Duduk di depan laptop, dengan segelas coklat dingin di sampingku. Sendiri? Ya, sendiri. Sudah biasa. Hahaha. Sejujurnya tadi aku bingung. Aku datang pukul setengah 8 dan kudapati antrean tiket kereta lokal, sangat lengang. Batinku Tumben. Biasanya antre berderet-deret.” Akhirnya aku segera membeli tiket dan, ternyata keberangkatan keretanya masih nanti sekitar 2 jam lagi, yakni jam setengah sepuluh. Sebenarnya ada kereta yang berangkat pukul setengah sembilan. Tapi, mahal. Akhirnya aku putuskan untuk tetap naik prameks. Yah, maklumlah. Kantong mahasiswa. Lalu, aku bingung. Mau ngapain nih? Dua jam menunggu di stasiun. Ga asik banget. Akhirnya, aku duduk di salah satu kursi tunggu, dan, beberapa saat melamun. Lalu aku berfikir, ah, tidak produktif sekali. Dua jam itu sangat berharga! Tiba-tiba, aha! Aku kan bawa laptop. Kenapa tidak menulis aja? Sekali kali nulis di stasiun, kan keren! Akhirnya, aku memutuskan untuk berdiri, dan mencari tempat yang bisa kugunakan untuk menulis. Awalnya ingin di lantai, tapi, selain kotor, sepertinya kurang leluasa juga untuk membuka laptop. Akhirnya, ketemu deh. Di roti’o, ada tempat duduk yang lumayan bagus dan nyaman lah untuk  menulis. Akhirnya aku pesan minum, dan duduk di sinii :D

Lalu, apa yang akan kubahas? Ya, mungkin pelajaran yang bisa kuambil dari waktu sekian menit yang terjadi barusan adalah, tanpa sadar kita sering sekali melewatkan waktu begitu saja. Kita sering lupa, bahwa waktu sangatlah berharga. Seringkali kita menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu tanpa melakukan apapun. Padahal sebenarnya banyak sekali hal yang bisa kita lakukan sembari menunggu. Kalau kata om Mario Teguh, sebenarnya kita semua ini sama. Sama-sama menungu. Tapi yang membedakan kualitas seseorang nantinya adalah, apa yang dia lakukan selama menunggu. Tentu akan beda bukan, orang yang menghabiskan waktu menunggunya dengan hanya duduk diam dengan yang menghabiskan waktu menunggunya dengan mengasilkan karya? Nah,kalian termasuk yang mana?

Oke. Singkat saja sebenarnya untuk masalah yang ini. Oh ya, minuman coklatnya pahit. Wkwk.

Hm, sepertinya untuk masalah ini sampai di sini saja ya. Aku akan bahas soal lain di tulisan berikutnya.  Intinya aku hanya berusaha mengingatkan diri sendiri dan juga kalian pastinya, kalau ada waktu-waktu menunggu, jangan biarkan diri kita terdiam begitu saja dan waktu terlewat tanpa kita menghasilkan apapun. Aku juga masih belajar, kawan :D selagi masih muda, ayo berkarya bersama, sebanyak-banyaknya :D
*****
Hai :D setelah membahas mengenai pemanfaatan waktu-waktu menunggu, sekarang  aku akan menceritakan pada kalian hal lain yang cukup menarik-dengan bahasa yang lebih santai-perihal apa yang terjadi di kereta tempo hari.

Sabtu sore habis acara bulschool, aku langsung ke stasiun Tugu buat beli tiket kereta. Alhamdulillah dapet prameks yang jam 6*Jadi inget waktu naik sancaka :D Nah, kan itu aku di stasiun sekitar jam 4 ya, sedangkan keretanya berangkat jam 6. Yaudah akhirnya nunggu deh. Sambil nunggu akhirnya aku sholat ashar dulu, trus duduk-duduk di tempat banyak orang duduk-duduk*piyesih. Wkwk. Nah, ngapain? Berhubung pas itu laptopku rusak, dan emang situasinya ga bagus sih buat nyalain laptop kerena emang rame banget, aku duduk aja gitu. Bengong? Oh, jelas bukan. Mungkin sekilas terlihat seperti bengong dan ga ngapa-ngapain. Eits, tapi jangan salah, aku diam-diam memperhatikan sekitar dan perilaku orang-orang lho.

Nah, ada yang keren nih. Kalian pasti tau dong jogja itu turisnya mbludak. Apalagi kalo di stasiun, beeeh, dimana mana isinya orang bule. Trus kenapa? Nah, ada beberapa perilaku bule yang menurutku bagus buat dijadikan pelajaran. Pertama, kekuatan dan kemandirian. Namanya aja turis, bawaannya pasti banyak. Koper, tas gendong, dkk. Tapi kalian pasti juga tau dong, kalo mereka pasti dan selalu bawa semua itu sendiri. Yang aku liat kemarin, mau itu anak-anak, nenek-nenek, mereka bawa barang mereka sendiri-sendiri. Apalagi yang nenek-nenek itu, aku mbatin “weh, subhanallah ya. Udah tua tapi masih kuat banget.” Itu jadi pelajaran sih buat aku. Mungkin juga karena faktor mereka yang emang udah terbiasa begitu. Dalam arti, aku juga sering liat nih, bule-bule itu jalan jauh, padahal bawaannya berat juga. Kan keren, kalo dibandingkan sama kita yang rata-rata jalan jauh sedikit aja udah capek dan ga kuat. Apalagi bawa barang banyak. Nah, perilaku bule yang kayak tadi itu tuh, perlu di contoh. Kuat :D

Kedua. Mereka ramah dan ga malu bertegur sapa. Aku liat pas itu, ada bule cowo lagi berdiri entah nunggu apaan. Trus agak lama, ada bule lagi, cewe, baru keluar gitu, trus berdiri di samping bulenya yang cowo tadi sambil senyum. Kalo dari yang aku liat, mereka kayaknya ga saling kenal. Tapi setelah senyum satu sama lain tadi, mereka langsung ngobrol yang aku juga gatau mereka ngobrolin apaan. Trus ga lama, bule cewe ini tadi pergi dan dan bule cowonya tetep di situ. Nah, berarti emang mereka awalnya belum saling kenal kan tadi?*soktau. Wkwk. Yah, pokoknya pelajaran yang aku ambil dari sini tadi itu, mereka ramah banget sama orang. Ketemu sama orang yang belum dikenal aja disenyumin dan diajak ngobrol, ramah banget.

Gimana? Asikkan merhatiin orang? Makanya kalo lagi sendiri jangan bengong aja. Perhatiin sekitar kamu, pasti nanti akan ada hal-hal yang akan bikin kamu bergumam oh.. gitu ya.. oh.. kayak gitu ternyata.. dan berbagai macam oh lainnya.

Nah, itu cerita dari pengamatanku selama nunggu kereta. Sekarang, cerita pas di keretanya yaa.
Jadi pas berhenti di stasiun Maguwo, kan otomatis keretanya udah penuh tuh, maksutnya udah ga ada tempat duduk yang kosong gitu. Akhirnya ya pada berdiri gitu deh. Nah, di samping tempat dudukku, ada mba-mba sama mas-mas masih muda gitu yang baru masuk dan berdiri. Mereka hadep-hadepan. Awalnya cuman ngobrol satu sama lain. Aku ga ada niat nguping lho ya. Emang kalo mereka ngomong kedengeran gitu. Cuman aku juga gatau sih apa yang mereka omongin. Eh tapi terusan…  pas udah dimana aku juga gatau, mereka itu mainan. Mainan tangan tau ga? Pokoknya yang itu lho, yang ditambah-tambah, ntar kalo udah hasilnya lima, kita mati satu. Duh gimana ya jelasinnya? Pokoknya itu deh. Haruse dipraktekin sih. Pokoknya itu. Nah, mereka tu ketawa ketiwi ga jelas gitu, karena emang itu mainannya seru sih-aku juga pernah main soalnya. Apalagi kalo lawan kita udah kalah. Sekali lagi, aku ga bermaksud kepo dan semacamnya, tapi mereka ketawa ketiwi, siapa sih yang akhirnya ga ngeliatin coba? Ckckck. Trus habis gitu mereka mainan lagi. Gatau nama mainannya apa, pokoknya itu juga asik-aku juga pernah mainan itu. Walhasil mereka ketawa-ketawa lagi dan, entahlah, itu membuatku iri. Ahahahaha. Trus aku mikir nih, mereka asik banget ya maenan kayak gitu, pacaran apa gimana asih? Eh ternyata, pas aku perhatiin, dua-duanya udah pake cincin. Woooh, udah nikah toh. Pasangan muda, biasa.. masih mesra. Wkwkwkwk. Aku duduk tu sampe senyam senyum sendiri lho liat pantulan mereka dari jendela. Asik bener dah. Wkwk. Trus apa pelajaran yang bisa diambil?

Hmmm kalo aku lebih ke waktu lagi sih. Sejujurnya aku di kereta cuman bengong. Bingung mau ngapain. Mau baca pusing-karena aku hadep ke belakang. Kalo biasanya liat pemandangan, kemaren udah malem jadi ya, ga bisa liat luar. Yang ada malah pantulan mba sama masnya yang mesra itu tadi. Wkwk. Nah, tapi, mas sama mbanya tadi bisa menghabiskan waktu perjalanan dengan bermain dan seru-seruan. Apalagi berdiri. Bayangin, berdiri, perjalanan lama, siapa sih yang ga jenuh dan capek? Apalagi kalo ga ngapa-ngapain. Nah, tapi, mas sama mbanya tadi bisa bikin perjalanan mereka jadi asik dan pastinya ga bakal terasa capek. Jadi kesimpulannya, besok kalo aku udah ada yang nemenin nih*nemeninjaaal misal ada kejadian serupa-ga dapet tempat duduk, aku mau diskusi aja aah. Berbagi cerita dan pengalaman sampe-sampe ntar ga kerasa kalo udah tiba di kota tujuan. Kalo bosen cerita ya, kayak mereka itu tadi. Mainan. Kan asik. Hahaha. Sudah sudah cukup, malah OOT kan. Ya pokoknya begitulah. Aku suka sekali memperhatikan orang-orang dan lingkungan sekitar.

Baiklaah. Tidak terasa sudah pukul sembilan teman-teman. Luar biasa sekali bukan? Aku bisa menghasilkan satu tulisan di stasiun! Baru pertama kalinya lhoo. Hahaha. Sekarang saatnya masuk ke dalem, karena kereta akan berangkat setengah jam lagi. Jadi, sudah dulu yaa. Jangan lupa gunakan waktu menunggumu, sebaik mungkin. Daaaaa :D


Salam #MudaMenginspirasi !

Rabu, 07 Oktober 2015

Kisah Inspiratif 7 (Semesta Mengiyakan)

06 oktober 2015


Selamat sore para pembaca yang hebat :D
Kali ini saya mau menceritakan cerita yang gatau kenapa menurut saya itu weird banget dan gimana ya, aneh iya, lucu iya, ajaib iya, bingungin iya juga, tapi, memberi hikmah yang luar biasa! Penasaran?

Jadi gini. Dulu pas PPSMB fakultas, kan ada tuh, mas sama mba panitia yang nyanyi dan nari yel-yel FIB. Nah pas petama kali aku liat, salah satu mas yang nari itu ada yang wajahnya mirip sama artis Ben Joshua. Tau kan? Ya pokoe yang itulah. Nah habis gitu, karena penasaran, aku tanya deh sama cofas (pemandu PPSMB) fakultasku.
 “Mba, masnya yang nari PPSMB yang itu namanya siapa.e?”
“Yang mana emang?”
“Yang ganteng.”
“Hah? Ganteng? Perasaan yang nari PPSMB ga ada yang ganteng deh. Hahaha.”
“Aaa..itu na mba yang mirip Ben Josh.”
“Siapa pula tu. Haha. Yang pake baju apa inget ga?”
“Ijo si mba seingetku.”
“Oalah…Fulan to. Pake kacamata kan?”
“He? Engga.i mba. Ga pake kacamata kok.”
“Weh, lha terus siapa? Seingetku yang pake baju ijo tu ya Fulan.”
“Oh gitu ya mba. Hmm yaudah deh bukan itu berarti mba.”
Dan percakapan aku sama cofasku selesai sampai di situ. Sejak saat itu aku juga udah ga penasaran lagi. Istilahnya ya, bodo amatlah. Aku cuman pengen bilang aja sakjane ke mba cofasku kalo menurutku, masnya itu tadi mirip Ben Josh.

Sampe suatu hari, aku mau pulang. Jalan gitu kan ke gerbang belakang. Lewat parkiran sepeda gitu. Naah, di deket parkiran sepeda itu kan ada kayak tempat duduk gitu buat nongkrong-nongkrong, nah aku liat ada mas Fulan lagi duduk sendiri sambil ngapain ya pas itu aku lupa. Tapi, pake kacamata! Waah, otomatis aku langsung keinget kata-kata mba cofasku dulu. Pantesan mba cofasku itu ga paham. Karena kayaknya emang mas Fulan itu emang aslinya pake kacamata, cuman pas nari PPSMB itu dilepas. Akhirnya sejak saat itu, aku tau deh nama masnya itu siapa. Lha terus ngapa? Ya ga ada sih. Pas kapan gitu lagi aku ketemu sama mba cofasku aku bilang deh.
“Eh iya ding mba ternyata itu mas Fulan. Aku liat kemarin dia pake kacamata..”
“Nah, kan bener Fulan.”
“Hehe. Iya mba.”
Trus habis itu, ya, yaudah. Aku tau namanya dan aku udah ngecap dia pokoknya wajahnya mirip Ben Josh. Eh tapi gatau kenapa, ada yang aneh nih. Pernah suatu hari gitu aku ketemu mas Fulan di kampus. Ga ketemu juga sih bahasanya sakjane. Ya liat gitu lah. Eh, besoknya lagi-lagi aku liat juga. Pas aku keluar dari gedung C, dia jalan mau kemana gatau. Besoknya, aku liat lagi. Sampe ga sadar aku ngomong, “Kok kayaknya aku ga pernah ya, ke kampus ga liat mas Fulan? Dari kemarin ketemu terus.”

Nah, ini nih. Aku gatau ya, semesta mendengar kalimat yang kulontarkan barusan kemudian mengiyakan atau gimana, sejak saat itu sampe sekarang, aku bener-bener ga pernah sekalipun ke kampus ga ketemu mas Fulan! Serem ga sih? Serem ga menurut kalian? Maksutku dalam arti, who is he? Dia itu siapa gitu lho. Aku cuman tau namanya aja. Itupun nanya. Aku gatau dia anak jurusan apa, angkatan berapa, kan lucu. Jujur nih, aku belum pernah ngalamin hal yang kayak gini. Kalo misal temen seangkatan ketemu tiap hari ya jelas, wong sekelas. Kakak angkatan sering ketemu juga wajar, sama-sama Sasindo. Itu aja kakak tingkat aku ga ada yang pernah bener-bener tiap hari ketemu. Nah ini? Kenal engga, tau engga, aneh pokoknya. Sampe-sampe aku pernah punya kayak dugaan gitu deh. Kalo misal hari ini ga ketemu mas Fulan, berarti dugaanku ketemu tiap hari itu salah. Eeeh, pas  aku lagi ngobrol sama temenku, dia lewat. Gimana aku ga langsung megang kepala saking bingungnya? Pernah juga pas itu aku mau pulang habis sholat ashar. Udah seneng banget tuh karena udah mau pulang dan hari itu berhasil ga ketemu mas Fulan. Eh pas keluar musholla, ada mas Fulan lagi nali tali sepatu. Gimana aku ga geleng-geleng kepala coba? Tinggal pulang lho hari itu padahal -_- Sama kayak hari ini tadi juga. Aku baru selese kelas dan mau sholat ashar. Pas jalan, ketemu dia lagi, lagi duduk di bangku item. Well, otomatis aku langsung mengalihkan pandangan dan lagi-lagi ga habis pikir. Yang mengherankan juga, kenapa kita juga sama-sama sadar? Itu kan memalukan. Jangan-jangan mas Fulan juga punya pikiran yang sama denganku ._.

Sejujurnya, aku heran. Heran banget. Tapi di lain sisi aku mendapatkan sebuah pelajaran. Aku seperti diajari ilmu baru sama Allah. Ya mungkin istilah perkataan adalah doa itu udah sering dan bukan hal yang baru lagi. Cuman, kejadian ini tu bener-bener membuktikan dan membuatku yakin akan pernyataan tersebut. Ketika aku bahkan secara tidak sengaja berucap “Kok kayaknya aku ga pernah ya, ke kampus ga liat mas Fulan?” itu menjadi sesuatu yang didengar semesta dan bisa jadi mereka mengiyakannya! Itu aja ga sengaja lho. Dan pada saat itu aku tidak meyakini apapun. Mungkin akan berbeda ketika pada akhirnya sekarang entah kenapa aku meyakini sepertinya memang aku akan selalu bertemu mas Fulan dikampus. Hanya saja yang pingin aku sampaikan di sini adalah, itu aja hal sepele gitu lho. Apa-apa yang keluar dari lisan kita, sesungguhnya seluruhnya itu didengar dan ditangkap oleh semesta. Maka alangkah baik dan bijaknya kita bila apa yang keluar dari lisan kita adalah sesuatu yang selalu baik dan positif. Aku jadi membayangkan, bagaimana kalau setiap kalimat yang keluar dari lisanku didengar, ditangkap lalu diiyakan semesta? Tentu aku akan senang sekali berkata, aku akan selalu bertemu orang hebat setiap hari. Aku akan selalu menjadi pribadi yang menghasilkan karya dan bermanfaat untuk orang lain setiap hari, dan ribuan kalimat kesuksesan lainnya.

Dari sini aku bisa mengambil pelajaran, yang tidak sengaja saja bisa diiyakan semesta, apalagi yang sengaja dan diyakini dengan sungguh-sungguh? Sungguh pengalaman yang luar biasa sekali. Pelajaran hidup yang disampaikan Allah melalui perantara salah seorang makhluknya, yaitu mas Fulan. Bagaimana Allah ingin memberitahukanku, untuk bisa selalu berucap dan berfikir positif.

Tapi sejujurnya itu sedikit membuatku takut karena sungguh bagiku itu suatu hal yang cukup di luar kebiasaan manusia. Haha. Setiap ngampus lho, inget. Perlu digaris bawahi. Sampai sore tadi, aku masih saja bertemu. Setiap ngampus ._.

Haha. Sudahlah jangan dibahas lagi. Tugas utama kita adalah mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekitar kita.

Semoga kisah inspiratif kali ini memberi manfaat yah :D

Salam #MudaMenginspirasi !


Minggu, 04 Oktober 2015

Kisah Inspiratif 6 (Menjadi Pengamat)

02 Oktober 2015

Halo, bertemu lagi dengan kisah inspiratif :D

Duh ya Allah maaf ya teman-teman baru nulis kisah inspiratif lagi.. ada beberapa proyek yang harus dikerjakan nih, jadi baru sempat nulis kisah inspiratif lagi.. Maaf yah? :)

Oke, lanjut. Jadi cerita hari ini adalah.. ada dua bagian ato anggep aja dua poin penting deh.

Bagian yang pertama, tentang seorang manusia yang sangat baik dan mulia sekali hatinya. Sampai-sampai aku menyebutnya seperti malaikat kiriman Tuhan yang sengaja dihadirkan untuk menyadarkanku*Eaaaa. Apaan sih. Haha. Oke, aku tidak memang tahu detail bagaimana kisah kehidupannya. Yang pasti, aku tahu dia adalah seorang dari keluarga yang baik serta sopan tutur dan tata perilakunya.

Yang aku ambil pelajaran darinya adalah yang pertama, dia selalu berusaha untuk tidak menyakiti hati orang lain. Dia sangat takut sekali bila tutur atau tata perilakunya menyakiti orang lain. Luar biasa bukan? Sedangkan bisa kita lihat sekarang betapa banyak manusia yang bahkan tidak peduli terhadap perasaan orang lain dengan apa yang sudah diucapkan atau dilakukannya.

Kedua, aku kagum. Betapa dia bisa sangat tulus memberikan bantuan untuk orang lain, padahal apa yang menjadi tanggung jawabnya, sudah cukup berat. Bagaimana ia seperti mengorbankan kebahagiannya demi membahagiakan orang lain. Bagaimana ia bisa tersenyum  begitu  tulusnya ketika mendengar kebahagiaan orang lain. Dia membantu temannya yang berpartisipasi dalam lomba, meskipun saat itu dia merasa sangat lelah. Alhamdulillah, teman yang tadi dibantunya lolos!  Luar biasa kebahagian yang dia rasakan saat mampu memberikan manfaat bagi orang banyak.Tapi kalian tahu? Itu saja dia bicara dan mengaku padaku, bahwa ia merasa belum memeberikan manfaat bagi siapapun. Tidakkah ini menamparku?

Luar biasa kebaikan hati temanku yang satu ini. Aku betul-betul harus belajar banyak hal dari dia. Hei malaikat, jangan bosan bercerita dan berbagi pengalaman hidupmu denganku yaa :D*uhuk

Nah, lanjut ke bagian yang kedua. Ini soal, apa yang kuamati dan kupelajari selama memasuki masa sibuk sebagai mahasiswa, yakni manajemen waktu. Awal-awal jadi maba UGM, siapa sih yang ga bangga? Energi terisi penuh, bawaannya semangat dan pengen nyobain ini itu. Ya, maklum memang. Baru peralihan kan dari siswa jadi mahasiswa. Nah, tapi aku dapet banyak pelajaran nih di sini. Pelajaran yang lagi-lagi membuatku bergumam “Ooh..ini toh tujuan Allah nunda kuliahku setahun.” Apa emang?

Jadi, dari beberapa teman yang aku amati, dia kelelahan. Karena apa? Kalo dari sudut pandangku, ya itu tadi. Manajemen waktu. Manajemen waktu ga cuma berarti masalah ngatur waktu aja. Tapi juga menentukan pilihan dan membuat prioritas. Yang terlihat di kalangan banyak maba nih, mereka terlalu bersemangat jadi pengennya semua kegiatan diikutin. Mungkin beberapa orang bilang, bagus dong, pengalamannya banyak. Kan jadi tahu tentang banyak hal. Oke, silahkan. Tapi ijinkan aku berpendapat juga.

Sebetulnya, kita tidak dituntut menjadi orang yang tahu dalam banyak bidang. Kalau tidak hanya tahu tapi ahli, wah itu luar biasa. Hanya, tidak banyak memang orang seperti itu. Kita dituntut untuk bisa ahli terhadap satu hal. Mungkin beberapa dari kita berpendapat, pernah melihat orang yang tampaknya ahli di banyak bidang. Misal, dia pintar menulis, di sisi lain pintar juga bicara, di tempat lain pintar juga mengutak-atik angka. Wah, luar biasa bukan? Tapi bisa dipastikan, diantara sekian banyak hal yang ia kuasai tersebut ada satu saja hal yang paling ia kuasai. Lalu apa hubungannya dengan tadi?

Nah, Allah memberiku waktu setahun untuk menjadi seorang pengamat. Mengamati bagaimana sedikit banyak kegiatan mahasiswa. Belajar dari yang aku amati, di semester awal, bahkan beberapa bulan setelah kegiatan kuliah tersebut dimulai, beberapa mahasiswa mulai mengeluh kelelahan. Kegiatan begitu padat, baik di lingkup fakultas maupun universitas. Mereka mengeluh tidak bisa tidur, sering begadang, bahkan sering sakit atau rasanya badan terasa lelah sekali. Nah, dari sini aku mikir, ada apa sebenarnya? Kenapa sampai seperti itu? Termasuk dalam hal ini, perkara hafalan. Beberapa mengaku hafalan tidak bisa dipertahankan. Jangankan menambah atau muroja’ah, bisa tetap rutin baca qur’an saja sudah sangat syukur sekali. Wah, ada apa sebenarnya? Akhirnya dari situ aku belajar, kelak ketika aku jadi mahasiswa, aku harus bisa memanajemen waktu sedemikian rupa supaya segalanya tetap bisa berjalan dengan baik. Baik sekali ya, Allah menunda kuliahku setahun untuk menjadi seorang pengamat? :)

Akhirnya, setelah menapak kaki di bumi UGM, aku benar-benar melihatnya sendiri. Bagaimana fenomena yang tadinya hanya kuamati, kini berada di sekitarku. Alhamdulillah, sebelumnya aku sudah diijinkan Allah menjadi pengamat supaya aku bisa lebih baik dalam memanajemen waktu. Sejak awal, yang menjadi fokus tujuanku ada 3. Yakni kuliah, dunia kepenulisan, dan hafalan. Oh ya, sebetulnya pembahasan mengenai fokus tujuan juga penting lho. Tapi, suatu saat saja deh. Hehe.

Nah, kuliah, dunia kepenulisan, dan hafalan. Dari sini aku merencanakan, bagaimana caranya aku bisa menyeimbangkan 3 fokus tujuan tersebut. Kalau kuliah ya, jelas. Masuk kelas. Memperhatikan dosen, mengerjakan tugas, dan aktif. Dunia kepenulisan, nah ini. Sebenarnya luas sekali aku memaknainya. Pertama, UKM di bidang jurnalistik, tingkat universitas. Banyak sekali sebenarnya yang mewadahi kegiatan jurnalistik di UGM. Waktu itu aku pilih 2 UKM yang sama-sama bergerak di bidang ini. Anggep aja X sama Y. Udah daftar tuh. Tapi eh ga lama aku tau kalo yang X itu lebih berat bahasannya. Akhirnya aku fokus buat ikut yang Y aja. Dan alhamdulillahnya aku keterima :D trus yang kedua, proyek menulis. Aku udah nargetin nih buat nulis tiap hari. Nulis apapun itu. Mau cuma sekedar curhatan, puisi, ato artikel. Apapun deh. Ya, meski terkadang ga sempet juga kalo buntu ide, tapi Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar-meskipun kebanyakan curhatan :v wkwk. Trus yang ketiga, ngobrol sama banyak orang. Ini aku masukin ke dunia kepenulisan. Kok bisa? Oh jelas. Mengobrol dengan banyak orang-terutama orang-orang hebat, membuat kita jadi tahu sedikit banyak tentang dia. Kita jadi tahu sedikit banyak tentang kehidupan dan perjuangannya, yang mana berujung pada pengambilan hikmah dan pelajaran. Apalagi kan baru jadi maba nih. Temennya baru semua, wah semangat banget aku buat cerita dan nanya ini-itu. Dan ternyata, baaaaanyaaak banget pengalaman dan kisah hidup mereka yang memberiku pelajaran berharga. Trus yang keempat, banyak ikut forum diskusi. Apalagi kalo gratis. Hehe. Forum diskusi macemnya banyak, bisa kajian, seminar, workshop, dll. Trus hafalan. Naah ini diaa. Sejujurnya aku mengaku, mengalami penurunan juga untuk hal yang ini. Tapi, aku tetap berusaha bagaimana sebisa mungkin setidaknya hafalan yang sudah kupunya tidak hilang. Memang untuk menambah masih belum bisa, karena tidak ada tentor yang bisa untuk setoran juga. Tapi Alhamdulillah untuk muroja’ah, sejauh ini masih berjalan baik.

Nah, trus pesennya apa? Balik lagi ke yang tadi. Buat kalian yang berpendapat kalo ikut banyak hal itu bagus, silahkan. Aku ga ngelarang kok. Tapi kalo bisa sesuaikan dengan fokus tujuan kalian, dan tentunya, kemampuan fisik dan pikiran terhadap hal tersebut. Dan satu yang juga penting nih, jangan terpengaruh orang lain. Termasuk terpengaruh aku. Haha. Engga engga. Jadi misal nih, kalian ngiri gitu sama orang-orang yang sibuknya minta ampun. Berangkat sebelum subuh dan pulang diatas jam 10 malem. Kerjaannya kuliah, rapat, latihan ini itu. Kan kayaknya keren banget tuh. Tapi kalo fokus tujuan kalian ga ada hubungannya sama yang begituan ya jangan ikut. Misal kalian udah ada niat buat kuliah sambil ngajar. Ya kalo habis kuliah harus ngajar ya keluar kampus buat ngajar. Ato misal aku, udah narget hafalan tiap habis isya dan nulis tiap dini hari. Ya jam 5 sore, ato ga maksimal maghrib udah harus sampe asrama. Karena kalo ga gitu yang ada ntar aku kecapean dan akhirnya ga jadi hafalan dan malemnya ga bisa bangun buat nulis. Mungkin kalo diliat sekilas aku emang selo ato bisa dibilang longgar banget. Dibanding temen lain yang ikut ini-itu, latihan segala macem, aku bisa dibilang selo(santai) banget karena bisa pulang dari kampus jam 5 sore. Ya, karena emang yang jadi kesibukanku tidak seluruhnya dikerjakan di kampus. Aku banyak membaca, menulis, hafalan, mengerjakan proyek, dan menghasilkan karya. Jadi yang sebenarnya mau aku tekankan di sini, sibukkan dirimu dengan apa yang menjadi fokus tujuanmu. Jangan asal ikut-ikutan(Tidak berlaku bagi yang berpendapat kalo itu nambah pengalaman). Ya, segala sesuatu ada positif dan negatifnya juga kan? Terserah mau memilih yang mana. Kalau fokus, resikonya memang tidak tahu banyak hal, tapi cepat sampai. Kalau memilih ikut banyak hal, resikonya tidak segera sampai, tapi banyak pengalaman. Tinggal pilih saja. Segala sesuatunya itu kembali pada diri kita sendiri-sendiri. Kalo kata salah satu dosenku, segala hal yang diawali dengan kalimat menurut saya, itu tidak akan pernah disalahkan. Hehehe.. sesuaikan itu semua dengan diri kalian masing-masing yaaa :D

Oke, selesai. Hahaha. Penutupannya apaan nih? Ya, jadi, jangan sedih kalo dikasih kegagalan sama Allah. Kayak aku, dibalik ditundanya kuliahku satu tahun, ternyata aku diijinkan sama Allah untuk menjadi seorang pengamat. So, keep think positive, guys!

Terakhir, Salam #MudaMenginspirasi !