my graduation

my graduation

Kamis, 29 Desember 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 10 : Selamat Tinggal, Rumah Kepemimpinan

Masih teringat betul kata-kata yang dilontarkan Bang Bachtiar selaku Direktur Rumah Kepemimpinan pada saat NLC (National Leadership Camp) empat bulan lalu, “Kita adalah pemimpin. Jalan pemimpin tidaklah sama. Jalan kita dipenuhi dengan penderitaan, ditempa berbagai cobaan, dihalang bermacam rintangan.”
Itulah yang saat ini terjadi pada kami. Seperti badai yang hendak merobohkan pepohonan, ujian yang datang bagi Rumah Kepemimpinan sedikit banyak menggoyahkan kekuatan hati-hati kami. Tangis dan air mata yang sebelumnya sudah banyak jautuh, kini lebih menjadi-jadi. Tapi doa-doa kami tak pernah putus, dengan keyakinan bahwa akan ada keajaiban besar setelah ini.
Rumah Kepemimpinan mengalami krisis. Ceritanya panjang. Keadaan ini kemudian membuat Rumah Kepemimpinan tidak dapat memberikan uang saku beberapa periode yang merupakan seperempat dari total keseluruhan beasiswa yang mestinya didapatkan setiap peserta setiap bulannya. Karena hal itu pun, peserta dipersilakan untuk memilih, akan tetap tinggal atau mundur dan keluar dari Rumah Kepemimpinan.
Aku ingat betul malam itu, saat tangis memecah langit asrama Nakula. Tak hanya peserta, manajer dan spv kami pun menangis. Belum pernah sebelumnya Rumah Kepemimpinan mengalami masalah seberat ini. Aku yang tidak berperan dalam mengurusi sistem dan segala macam hal teknis apapun itu, turut merasakan betapa beratnya ujian ini. Ditambah kebijakan dalam mempersilakan peserta untuk memilih akan tetap tinggal atau mundur, membuat kami menjadi semakin goyah, mengingat empat bulan keberadaan kami di sini sungguh tidak mudah. Ada berbagai macam hal yang belum sesuai dengan ekspektasi kami di awal, ada banyak ideologi yang kurang pas dengan kami, dan seabrek hal lain yang kalau memang mau digali terus memang tidak pernah ada sempurnanya. Malam itu kami menyanyikan hymne rumah kepemimpinan sambil memeluk saudara-saudara kami satu sama lain. Kami menyanyikan hymne rumah kepemimpinan diantara sesenggukan tangis dan desau lirih angin malam.
Di hati tlah tertanam cinta..
Rela korankan jiwa raga..
Bagi kehormatan dan cita..
Tegakkan kejayaan bangsa..

Meski jiwa gugur sebagai penebus..
Tak akan goyahkan hati..
Tlah bulat tekad..
Untuk berbakti,
Mengemban misi bersih suci..

Tanpa harap balasan jasa..
Hanya ridho Allah semata..
Rumah Kepemimpinan berjuang..
Demi Indonesia mulia..
Hari pun berganti. Satu persatu dari kami mulai goyah. Aku pun. Tapi doa kami tak pernah putus. Memohon kepada Sang pemilik hati agar ditunjukkan jalan yang terbaik. Bagiku, semua ini bukan hanya perkara uang. Karena toh sampai detik ini, kami masih baik-baik saja tanpa uang saku setiap bulannya.
Allah Maha Baik. Penandatanganan surat perjanjian ulang yang awalnya akan dilakukan pagi ini, diubah menjadi nanti malam. Allah Tahu Segalanya. Allah memberiku kesempatan menulis tulisan ini terlebih dahulu sebelum tinta terlepas dari penanya. Allah meyakinkanku untuk tetap berjuang di sini. Dengan segala konsekuensi dan halang rintang yang ada. Mungkin ke depan akan lebih banyak air mata yang tumpah, tapi seiring dengan itulah akan lebih banyak pula sujud yang merekah. Rumah Kepemimpinan akan menjadi lebih baik. Rumah Kepemimpinan akan mampu mengatasi semua ini dan ketika saatnya tiba, Rumah Kepemimpinan akan berlari berlebih kencang, berdiri lebih kokoh, dan bergandengan tangan lebih kuat bersama-sama menuju surga.
Selamat tinggal Rumah Kepemimpinan yang sedang krisis,

Selamat datang Rumah Kepemimpinan yang akan lebih kokoh bersinergis. 

Catatan Rumah Kepemimpinan 12 : Dua Saudara Kami Sudah Selangkah Lebih Dekat Menuju Surga


[Rumah Kepemimpinan sedang Berduka]
Semoga kepergianmu syahid.
Semoga perjuanganmu menjadi refleksi kami untuk terus bangkit.
Dua hari yang lalu, Rumah Kepemimpinan kembali berduka. Salah seorang saudara kami pergi mendahului kami, selangkah lebih dekat menuju surga. Hastag yang kami gaung-ganungkan setiap hari, yakni Saudara Sampai Surga, seakan benar-benar tampak nyata bahkan sebelum kami benar-benar pergi seluruhnya. Perjuangan saudara-saudara kami tidak pernah putus, sampai Allah memanggil kami kembali.
Sebelumnya, saudara kami juga sudah ada yang pergi. Membuatku merasa begitu sedih dan merasa bersalah karena belum bisa memberikan bantuan yang pantas. Kedua saudara kami pergi karena sakit. Yang satu memang sudah sakit sejak agak lama, dan yang satu sakit karena kecelakaan. Ketika mendengar kabar tentang mereka, entah kenapa hatiku sakit. Kami semua tahu, memutuskan untuk berada di Rumah Kepemimpinan bukanlah suatu yang mudah. Kami berjuang dari hal-hal yang paling sederhana seperti mengalahkan rasa lelah sampai hal yang cukup besar seperti membangun daerah. Dengan fisik yang sehat dan kuatpun terkadang kami masih suka mengeluh ini itu. Bagaimana dengan saudara kami yang sakit?
Dua saudara kami sudah membuktikan perjuangannya, sampai selangkah lebih dekat menuju surga. Kami yakin tempat kembalinya akan baik karena ia pergi saat berjuang mencari ilmu di jalan Allah. Aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya, tapi kalau ditanya apakah aku bersedia pergi saat sedang berjuang di jalan Allah, maka jawabannya adalah iya.
Lantas aku merenung. Betapa banyak kejadian tak terduga yang dialami Rumah Kepemimpinan dalam waktu dekat ini. Baru lima bulan pertama, aku merasa banyak kejadian besar yang sedikit banyak mengusik pikiranku, lantas menimbulkan pertanyaan, mengapa?
Kemudian, aku teringat mengenai tulisan pertamaku tentang filosofi angka 8. Hubungannya dengan naga dan infinity, membuatku seakan-akan melihat bahwa semua itu sedikit demi sedikit terbukti. Aku percaya soal tidak ada istilah kebetulan. Jadi, bila memang semua kejadian besar yang datangnya beruntut ini harus terjadi di angkatan 8, maka itu memang skenario terbaik dari Allah yang sungguh sebelumnya kita tidak pernah tau. Ketika aku bertanya pada supervisorku pun, angkatan sebelumnya belum pernah ada yang pergi lebih dulu ke sisi Allah pada saat pembinaan. Tapi angkatan 8? Bahkan atas izin Allah sudah ada dua saudara kami yang pergi melangkah setapak lebih dekat menuju surga.
Teringat pula catatan Rumah Kepemimpinan yang ke-10. Bagaimana ceritanya sampai harus angkatan 8 yang mengalaminya? Sungguh skenario kehidupan dari Allah untuk hambanya tidak pernah salah. Ujian yang datang silih berganti membuat kami semakin yakin, bahwa angkatan kami cukup berbeda. Akan ada hikmah dan pelajaran yang jauh lebih besar dibalik ujian kami, jika dibandingkan dengan ujian yang datang pada angkatan-angkatan sebelumnya. Entah bagaimana nanti selanjutnya, kami sungguh yakin bahwa semua ini tidak pernah datang tanpa arti. Tugas kami sekarang tinggal meyakini, kemudian menguatkan diri dan saudara-saudara kami satu sama lain. Kelak kami semua juga akan kembali ke sisi Allah satu persatu, untuk kemudian kembali berkumpul bersama-sama di surga.
Rumah Kepemimpinan, kami saudara sampai surga.

Jumat, 23 Desember 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 11 : Saya Sih Alphard, Kamu?


Selamat siang, Pembaca. Luar biasa sekali ternyata hikmah di balik tidak liburnya Rumah Kepemimpinan, aku bisa jadi lebih produktif menulis. Haha. Terima kasih RK!
Siang ini aku menyempatkan diri untuk pergi ke temapt favortiku untuk menulis. Mana lagi kalau bukan Cokelat Klasik. Sebetulnya alasannya sederhana saja sih. Aku suka sekali minuman coklat dan di sini harganya murah. Hahaha. Tempatnya juga lumayan oke. Setidaknya aku bisa menyelesaikan banyak tugas dan beberapa tulisan serta melahap sekian buku kalau sudah duduk di tempat ini. Dan kali ini, aku sedang bersemangat sekali untuk menulis tentang apa yang baru saja tadi malam kudapatkan di Rumah Kepemimpinan.
Awalnya, nama kegiatannya adalah basic skill : desain. Sepintas membayangkan, pasti belajar mengenai aplikasi yang bisa digunakan untuk membuat desain, bagaimana menggunakan tools-toolsnya, dan sebagainya. Tapi, lagi-lagi Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Pembicara yang hadir tadi malam adalah Mas Nanang Syaifurrozi. Beliau adalah CEO dari Rumah Warna. Pertama kali datang tampangnya biasa sekali. Sederhana. Tapi begitu bicara, hmm mengundang tepuk tangan yang membahana. Sebelum kutuliskan mengenai materi yang disampaikan, akan kuceritakan dulu perihal Rumah Warna. Rumah Warna berdiri sejak tahun 2002. Mas Nanang merintis usaha tersebut bersama istrinya. Pada saat itu padahal Mas Nanang belum lulus kuliah. Namun ada hal yang kemudian beliau bertekad kuat untuk berbinis. Apa itu? Nanti dulu. Oiya, perlu diketahui, Mas Nanang ini alumni UGM begitu juga istrinya*eaaa.
Hingga kini, sudah ada sekitar 80 cabang Rumah Warna di Indonesia. Hebatnya lagi, Rumah Warna bisa menjual kurang lebih 35.000 pcs setiap bulannya. Fantastis sekali. Lantas kami bertanya-tanya, bagaimana bisa sehebat itu.
Mas Nanang menjelaskan, semua itu adalah bagian dari proses. Mas Nanang mengawali bisnisnya dengan berjualan di sunmor (sunday morning). Dulu awalnya sunmor berada di GSP (Grha Sabha Pramana). Pada saat itu pun, rata-rata pedagang menjual makanan. Mas Nanang inilah yang menjadi salah satu pelopor penjual non-makanan. Ketika ditanya apa motivasinya, Mas Nanang menjawab dengan santai, “Ya kan, sore-sore jualan sambil duduk berdua sama istri asik tuh.” Lantas kami tertawa. Kemudian, dengan usaha disertai doa yang kuat, dalam setahun Mas Nanang sudah mempunyai penghasilan yang lumayan, sampai bisa membeli mobil. Tahun berikutnya, Rumah Warna semakin berkembang. Rumah Warna mulai membuka stand di berbagai mall. Hingga pada tahun 2013, Rumah Warna mampu menyewa Cherry Belle, yang harga sewanya satu tahun mecapai 300 juta. Weew.
Sebetulnya, aku tidak terlalu bisa menceritakan banyak perihal Rumah Warna. Intinya keren banget!
Lalu apa yang akan kutuliskan? Tentu pesan-pesan luar biasanya. Meskipun secara keseluruhan memang bicara soal bisnis, tetapi nasihat-nasihat yang disampaikan mas Nanang tidak hanya bisa di aplikasikan dalam bisnis saja, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.
Nasihat pertama, jadilah manusia yang kreatif. Jadilah manusia yang berbeda. Mengapa? Ya karena dengan perbedaan itulah nantinya kita akan mendapat perhatian lebih dari orang lain. Sama seperti Rumah warna, pada masa itu, orang-orang masih enggan dengan barang-barang yang berwarna mencolok. Tetapi, Rumah warna justru memproduksi tas yang colourfull. Warnanya cetar-cetar. Memang kemudian orang akan bertanya, Apaan sih kok warna warni gitu? Tapi pertanyaan itulah yang sebenarnya merupakan bentuk dari perhatian orang terhadap produk kita.
Nasihat kedua, jangan terlalu menjadi pemilih. Cukup menyedihkan dengan data yang diperlihatkan oleh Mas Nanang kemarin bahwa pengangguran di Jogja kebanyakan adalah lulusan sarjana. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, kenapa justru sarjana? Jawabannya adalah karena mereka terlalu pemilih, terlalu idealis. Misal, yang lulusan geografi tidak mau kerja kalau bukan yang sesuai dengan bidangnya, yang jurusan lain-lainnya pun begitu. Jadinya ya, sulit.
Nasihat ketiga, fokus. Kebanyakan orang Indonesia adalah tidak fokus. Hidup itu pilihan. Kalau ditanya mau jadi pegawai atau pengusaha, ya pilih saja salah satu. Jangan memilih pengusaha, tapi ketika kemudian usahanya turun, ditinggal begitu saja dan melamar menjadi pegawai, atau sebaliknya. Baik pegawai maupun pengusaha, keduanya memiliki risiko dan konsekuensinya masing-masing. So, mau jadi pegawai, profesional, atau entrepreneur, tentukan dari sekarang dan expertlah di salah satu bidang saja.
Nasihat keempat, milikilah mental entrepreneur. Seperti apa sih mental entrepreneur? Mental entrepreneur itu, kalau kita profesinya adalah guru, maka pikiran kita adalah soal membangun sekolah. Kalau profesi kita dokter, pikiran kita adalah soal membangun rumah sakit, dan sebagainya. Kalau seperti ini, kebaikannya berlipat-lipat ketimbang sekedar menjadi guru atau dokter saja. Dengan membangun sekolah, kita bisa lebih banyak membuka peluang kerja untuk orang lain, lebih banyak memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk bersekolah. Sama halnya dengan membangun rumah sakit. Kalau menjadi pejabat negara pun, harus memiliki mental entrepreneur. Bukan berarti menjual belikan jabatan lho ya. Tapi dengan mental entrepreneur itu, kita tidak akan sempat punya pikiran untuk mengorupsi uang negara, bukan?
Mas Nanang pun sekarang memberdayakan UKM yang berada di Jogja sebagai tempat produksi bagi Rumah Warna. Nah kan, membuka peluang kerja banyak sekali untuk orang lain.
Nasihat kelima, milikilah habbit yang berbeda dengan orang lain. Tentunya habbit yang baik ya. Mas Nanang bercerita, dulu semasa kuliah, saat teman-temannya yang lain bermain dan beristirahat, yang dilakukan Mas Nanang adalah menjahit. “Kalo habbit kamu masih sama kayak kebanyakan orang, ya kamu ntar jadinya sama kayak kebanyakan orang.” Ujar Mas Nanang.
Nasihat keenam, berani bermimpi besar. “Kalau kamu mimpinya setinggi langit, kalo jatuh masih dapet eternit. Tapi kalo mimpinya cuma setinggi eternit, kalo jatuh dapetnya cuma jinjit. Allah itu sesuai dengan apa yang kita usahakan. Allah memberi sesuai dengan tingkat kepantasan kita. Kalo emang pantes dapet rezeki gede ya dikasih gede. Tinggal gimana cara kita memantaskan diri aja.”
Sebelum lanjut ke nasihat berikutnya, ada sebuah rumus perubahan yang Mas Nanang ajarkan.
Be+Do= Have
Mana yang paling penting dari ketiga komponen di atas? Have. Ya, Have dapat diibaratkan sebagai mimpi atau alasan. Kalau kita sudah punya alasan, maka tidak sulit lagi untuk Be dan Do. “Misalkan, bangun pagi. Kalau kamu diberitahu besok akan ada uang 5 juta di depan pintu kamarmu saat subuh, akankah besok kamu akan dengan mudah bangun pagi? Jelas. Karena ada alasannya. Nah, alasan itulah yang harus kita temukan kenapa kemudian kita melakukan perubahan. Kalo saya dulu have nya adalah bisa membahagiakan orang tua dan ga merepotkan mereka. Sesederhana itu.” Terang Mas Nanang. Kemudian beliau melanjutkan, “Perubahan memang selalu bikin ga nyaman, ada aja cobaannya. Tapi kalau ga dilakoni, ya ga berubah-berubah.”
Nasihat ketujuh, kalau mau berbisnis, jangan hanya asal ikut-ikutan. Karena pasti rentan sekali jatuh. Dalam bisnis, kita sangat dituntut untuk melakukan inovasi. Apalagi kalau bisnis kita sudah bagus dan mulai diikuti oleh banyak orang. Jangan sombong ketika sudah berada di puncak. Kita harus tetap senantiasa melakukan pembaharuan.
Nah, bagian terakhir inilah yang paling menarik. Nasihat terakhir, tapi sebetulnya merupakan nasihat yang paling penting.
Ada tiga faktor keberuntungan, yakni positive thinking, positive feeling, dan positive motivation. Kita harus bisa menjadi manusia yang senantiasa berfikir positif, apapun yang terjadi dengan hidup kita. Orang yang bermental entrepreneur, segalanya akan tampak positif. Segalanya akan dimaknai sebagai rezeki. Mas Nanang menganalogikan rezeki adalah ibarat sebuah permen. Permen pasti ada bungkusnya, bukan? Coba pikirkan, kalau kita diberi sebuah permen yang tidak ada bungkusnya, sudah terbuka dan lengket-lengket begitu, maukah kita menerimanya? Tentu tidak. Kita pasti maunya permen yang masih terbungkus rapi. Padahal, toh ujung-ujungnya bungkusnya juga dibuang dan kita hanya akan makan permennya saja, bukan begitu? Sama seperti rezeki. Allah mengemasnya terlebih dahulu sebelum kita nikmati. Entah itu dengan musibah, ujian, cobaan, atau yang lain. Jadi kalau sedang mendapat musibah, positive thinking saja setelah ini akan mendapat rezeki. “Respon itu dinilai satu detik setelah kita mendapatkan sesuatu. Misal kecopetan, lalu kita langsung mengumpat dan marah-marah, baru beberapa hari kemudian mengatakan bahwa kita ikhlas, itu tidak ada artinya. Maka, belajarlah untuk senantiasa menyikapi segala sesuatu dengan rasa syukur dan berfikir positif.”
Ah, luar biasa sekali Mas Nanang. Sedikit banyak mirip dengan pemikiranku selama ini. Bedanya, aku meyakini bahwa di balik setiap kejadian akan ada hikmah dan pelajaran yang berharga, apapun itu. Seperti misalnya kemarin saat aku hendak pergi ke maskam UGM, tapi ternyata jalannya ditutup karena ada acara niti laku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk ke maskam UNY saja, eh, aku bertemu dengan Fathia, salah satu teman FLP ku. Hmm, tidak menyangka bukan? Kalau jalan menuju maskam UGM tidak ditutup dan aku tidak ke maskam UNY, mana mungkin aku bertemu dengan Fathia? Hal-hal kecil seperti itu saja sudah diatur sedemikan rupanya oleh Allah. Tinggal kitanya saja, peka atau tidak.
Sebagai penutup, ada cerita dari Mas Nanang yang masya Allah sekali. Jadi, Mas Nanang mempunyai tanah yang hendak dijual. Harganya 7 M, tetapi Mas Nanang mematok harga 5,5 M saja sudah oke. Sudah cukup lama, tapi belum ada yang membeli. Hingga suatu saat, ibu Mas Nanang jatuh sakit. Tanpa pikir panjang, Mas Nanang langsung membawa ibunya ke Jogja dan menemani beliau selama kurang lebih 2 minggu di rumah sakit. Selama 2 minggu itu, Mas Nanang tidak ambil pusing soal kerjaan sedikitpun. Mas Nanang fokus birrul walidain menjaga ibunya yang sakit. Saat di rumah sakit, ibu Mas Nanang sempat mengutarakan keinginannya untuk umroh bersama adik dan kakaknya yang total berjumlah 9 orang. Tanpa berfikir lama, Mas Nanang mengiyakan saja, padahal saat itu belum tahu juga mau dapat uang darimana, tanah saja belum laku-laku. Katanya, “Baik, Bu. Februari nanti berangkat.”
Setelah kurang lebih 2 minggu, ibu Mas Nanang sembuh. Keajaiban itu terjadi. Seseorang yang kemarin-kemarin hanya mampir ke toko dan menawar ini itu, tiba-tiba datang dan menyatakan bahwa ia hendak membeli tanah Mas Nanang dengan harga 6,2 M. Tanpa pikir panjang, Mas Nanang setuju dan malamnya, transaksi tersebut sudah lunas. Masya Allah..
Jadi bagaimana? Masih tidak percaya dengan kekuatan berfikir positif?
Ketika hendak pulang pun kami ribut membicarakan soal mobil Mas Nanang yang ternyata bermerek Alphard. Mobil sehari-harinya saja Alphard loh. Wkwk. 

Saya sih Alphard, kalau kamu?

Selasa, 20 Desember 2016

Hati-hati yang Tulus

10 Desember 2016

Dari kiri : Ali Bahri, Zainal, dan pemuda pemudi dusun Kiyaran
Selamat siang, Pembaca. Ini adalah tulisan yang mestinya sudah kutulis sejak malam itu, tapi baru sempat kutulis sekarang. Jadi, anggap saja kalian sedang membaca cerita ini pada malam itu ya. Wkwk
Terima kasih, Allah. Terima kasih untuk malam yang cerah ini. Terima kasih untuk hati-hati tulus yang belum bisa kupahami sampai sekarang bagaimana bisa sebaik itu.
Tidak banyak yang terjadi hari ini. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu kutuliskan, agar nanti ketika aku sudah mulai lupa dimakan usia, atau bahkan belum sampai masanya aku sudah tiada, orang-orang di sekelilingku akan tahu, pernah ada hari yang tulus mencatat rangkaian peristiwa penuh makna.
Sebuah pencapaian baru. Aku berani menyetir motor sendiri sampai ke Dusun Kiyaran. Mungkin bagi orang lain, ini memalukan. Tapi bagiku, ini sebuah pencapaian baru. Karena sebelum-sebelumnya aku selalu nebeng—entah kenapa belum ada keberanian. Padahal jalannya juga tidak ekstrem-ekstrem amat. Beda dengan Desa Turi, menurutku itu cukup ekstrem dan memang aku belum berani kalau di suruh menyetir motor ke sana sendirian. Tapi aku punya tekad untuk suat saat bisa berani menyetir sendiri ke sana.
Tapi, bukan itu poin pentingnya. Awalnya aku pun tak ada niat sama sekali untuk pergi mengajar TPA anak-anak di Dusun Kiyaran. Sebab, sore itu aku baru saja pulang dari kampus selepas mengerjakan beberapa hal. Inginnya mengistirahatkan badan untuk kemudian melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, nanti malam. Tapi entah mengapa, spontan saja jariku mengetik di grup “Aku ikut.” Dan jadilah aku berangkat menuju Dusun Kiyaran bersama empat temanku yang lain.
 Sesampainya di sana, aku dan teman-temanku mampir terlebih dahulu ke rumah mertua manajer kami. Rupanya, TPA dimulai setelah sholat maghrib. Akhirnya sambil menunggu, aku memutuskan untuk jalan-jalan melihat sekitar. Hmmm masya Allah indah sekali desanya. Sejuk, udaranya bersih sekali. Allah memang yang paling tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Menikmati alam seperti ini saja, sudah lumayan banyak mengurangi rasa lelahku.
Maghrib pun tiba. Jumlah seluruh temanku yang akhirnya bisa datang ada 11. Ini luar biasa. Sebelumnya belum pernah sebanyak ini. Kami pun membagi tugas, karena rupanya TPA di Dusun Plagrak juga sudah dimulai hari itu. Akhirnya, tujuh orang di Dusun Plagrak dan sisanya di Dusun Kiyaran. Kalian harus tahu. Anak-anak di dusun ini semangat sekali belajar Al-Qur’an. Meski disambi lari-lari dan mainan—yah namanya saja anak kecil, mereka tetap mau menyetorkan bacaan dan hafalan Al-Qur’an mereka. Bahkan ada yang masih kelas 6 SD, hafalannya sudah cukup banyak. Mmm, aku jadi teringat masa-masa SD ketika bisa hafalan tanpa beban.
Adzan Isya pun berkumandang. Kami segera membereskan meja-meja kemudian lanjut sholat isya. Setelah itu, kami kembali ke rumah mertua manajer kami untuk istirahat sejenak sambil meminum teh. Sepanjang istirahat ini, kami saling berbagi cerita. Karena tadi dibagi menjadi dua tim, maka kami saling bertukar informasi mengenai kedua dusun tersebut. Aku tidak bicara banyak. Tapi ada satu yang membuatku kagum, rupanya di Dusun Plagrak ada ibu-ibu yang semangat sekali belajar Al-Qur’an. Padahal, kalian tahu sendiri kan, TPA itu biasanya yang datang dan belajar mengaji adalah anak-anak kecil. Tapi ibu itu datang, dan minta dijari membaca Al-Qur’an. Ah, aku terenyuh. Belajar memang tidak mengenal usia bukan?
Setelah cukup beristirahat, beberapa temanku izin untuk pulang terlebih dahulu karena ada acara lain. Aku juga sebetulnya ingin pulang, tapi.. entahlah. Ada sesuatu yang menahanku untuk tetap tinggal. Setelah itu memang agenda kami adalah ikut rapat pemuda dengan remaja-remaja yang ada di Dusun Plagrak. Karena rapat tersebut hanya diadakan sebulan sekali, sayang memang kalau ada kesempatan kami malah tidak ikut. Akhirnya, kami ikut serta dan sedikit banyak memberi tahu untuk apa sebetulnya kami datang ke dusun tersebut. Yang menarik dalam rapat ini adalah, pemudanya banyak. Aku pikir, akan sedikit yang antusias dengan kumpul pemuda seperti ini. Ternyata banyak. Akan bagus sekali kalau kami benar-benar bisa bekerja sama dengan mereka untuk membangun Dusun Plagrak menjadi dusun yang lebih baik lagi.
Seusai rapat, kami memutuskan untuk pulang. Karena sudah larut, aku meminta tolong pada salah satu temanku agar bersedia menyetir motorku, dan aku membonceng. Ya, karena dia juga paham kalau aku belum terlalu cakap mengendarai motor, jadilah ia mengiyakan. Terima kasih untuk kebaikan hatimu, Megan :)
Sebetulnya, kami lapar. Karena memang dari sore belum makan. Akhirnya, kami memutuskan untuk mampir makan terlebih dahulu sebelum pulang ke asrama. Ada kejadian lucu saat kami mencari makan. Karena inginnya makan mie ayam, jadi mau tidak mau kami harus melihat dengan jeli, masih ada atau tidak warung mie ayam yang buka di sepanjang jalan. Nah, saat melihat warung mie ayam yang cukup besar, begitu berhenti dan hendak makan, rupanya habis. Tertawalah kami sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya kami menemukan warung mie ayam yang masih buka, meski tidak terlalu besar. Di sinilah kejadian yang menginspirasiku untuk kemudian mengabadikannya lewat tulisan, terjadi.
Yang tersisa dari kami saat itu adalah aku, Megan, Nadiyah, Nining, Zainal, dan Ali Bahri. Kami berenam makan sambil sesekali bercerita mengenai apa yang sudah kami dapatkan ketika mengajar di dusun tadi. Seperti biasa, aku selalu yang paling akhir selesai makan. Padahal sudah kuusahakan sesegera mungkin agar tidak ketinggalan. Begitu selesai dan hendak membayar, ibu penjualnya berkata “Sudah semua mba.” Dan aku segera menoleh ke arah Zainal. Aku tahu, pasti dia yang membayar. Karena saat makan tadi, dia sempat menemui ibu penjualnya sejenak. Aku memaksa membayar, tapi dia tetap tidak mau. Katanya, “Alhamdulillah ada rezeki dari univ.” Akhirnya, aku hanya bisa mengiyakan saja.
Allah, terima kasih atas hati-hati baik yang aku tidak tahu kenapa bisa sebaik itu. Menegurku bahwa keberkahan rezeki yang sesungguhnya bukan ketika semuanya disimpan sendiri, tapi justru ketika dibagikan kepada orang lain. Sisa perjalanan menuju asrama pun kulalui dengan perenungan. Apa yang membuatku tertahan di dusun tadi adalah karena Allah ingin mengajarkanku suatu pelajaran kehidupan melalui sosok Zainal. Pelajaran tentang keikhlasan dan pengabdian diri hanya untuk Allah, lagi-lagi tentang ikhlas yang hingga saat ini aku masih harus banyak belajar dari orang lain. Terima kasih, untuk hati-hati tulus yang menjadi perantara datangnya pelajaran kehidupan dari Allah untuk hamba-Nya yang masih bodoh ini.
Terima kasih Zainal, Ali Bahri, Megan, Nadiyah, Nining, Riyana, Emma, Fathan, Lalu, Ari, dan Huda. Mereka semua luar biasa. Kalian bisa belajar banyak pada mereka :)

Minggu, 04 Desember 2016

Catatan rumah Kepemimpinan 9 : IYLF (Inspiring Youth Leadership Forum)



Puji syukur ke hadirat Allah, Sabtu, 26 November 2016 peserta Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta kembali diizinkan untuk bertemu dengan saudara-saudara kami peserta Rumah Kepemimpinan regional 4 Surabaya dan regional 7 Makassar dalam acara Inspiring Youth Leadership Forum (IYLF). Luar biasa sekali akhirnya acara ini dapat terselenggara mengingat perjuangan kakak panitia angkatan 7 yang pontang-panting sana-sini mencara biaya demi keberlangsungan acara ini.
IYLF kali ini diadakan di desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan. Desa ini merupakan desa mertua manager Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta, Bapak Chandra Nur Triwiyanto. Desa ini juga sekaligus menjadi desa binaan untuk Leadership Project Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta angkatan 8. Tepat pukul 08.30, acara dimulai. Meski tidak semewah NLC, IYLF sedikit banyak mengingatkan kami pada NLC. Bedanya, peserta IYLF kali ini hanya RK 3, RK 4, dan RK 7. Akan tetapi, karena biaya perjalanan dari Makassar sampai Jogja cukup mahal, jadi hanya perwakilan saja saudara kami dari RK 7 yang berangkat.
Sesi 1, diisi oleh Camat Cangkringan, Yakni Bapak Hermana. Bapak Hermana banyak membahas mengenai kepemimpinan. Bagaimana menjadi pemimpin yang baik? Pertama, kita harus bisa menentukan arah. Kalau ditanya tujuan, tujuan kita pasti banyak. Ingin inilah, ingin itulah. Akan tetapi, sebagai seorang pemimpin yang baik kita harus bisa menentukan arah atau jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Jangan sampai tujuannya apa, tapi arahnya malah kemana. Kedua, kita harus bisa me-manage waktu dengan baik. Seorang pemimpin, manajemen waktunya harus baik. Bagaimana akan mengurusi orang lain kalau mengatur waktu diri sendiri saja belum bisa? Ketiga, pemimpin harus kreatif dan inovatif. Jadi, tidak ada istilah “saya tidak kreatif” Karena sejatinya kreatif itu bisa dilatih. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi 2 yakni presentasi Leadaership Project. Nah, di sini lumayan seru. Karena setiap regional dipersilakan untuk mempresentasikan Leadership projectnya masing-masing. Untuk Yogyakarta, kami mempunyai 3 Ledership Project, yakni Sahabat Lestari yang bergerak di bidang pendidikan, Le Milk yang bergerak di bidang kewirausahaan, dan satu bidang lagi yang bergerak di bidang agroteknologi. Oiya, untuk regional lain kurang lebih juga mirip-mirip bidang pergerakannya. Hanya beda pada namanya saja. Ada Laskar Pahlawan, Kampoeng Juara, dan Kutu Air. Aku cukup terkesan dengan sesi ini. Tampak sekali setiap regional bersemangat mempresentasikan Leadership Projectnya masing-masing. Gagasan-gagasannya pun luar biasa. Aku berdoa, semoga kami semua diberi kelancaran dan kekuatan selama berjuang menjalankan Leadership Project tersebut.
Mm, sepertinya aku tidak akan banyak bercerita mengenai materi ya. Kalau mau tahu banyak, boleh lihat di catatanku (haha). Ada sih di hari kedua, seorang pembicara yang sangat keren sekali, sampai-sampai membuatku merinding. Beliau adalah Bapak Wahyudi, penggagas sekaligus pemilik Kampung Dolanan yang ada di daerah Bantul. Beliau bercerita, butuh waktu kurang lebih sekitar 9 tahun untuk menjadi sebuah cita-cita yang bisa dikatakan berhasil dan luar biasa sekali. Dari beliau kami belajar, bahwasannya perjuangan memang membutuhkan waktu yang panjang. Tidak sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun. Kalau memang mau serius, ya harus tahan banting dalam waktu yang cukup lama. Jujur, beliau sangat menginspirasi, sekaligus membakar semangat kami yang memang dalam kurun waktu 1,5 tahun ke depan akan banyak berkecimpung di desa, menjalankan Leadership Project kami. Entah mengapa, sejak adanya penyampaian materi dan nasihat serta motivasi dari beliau, teman-teman Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta menjadi lebih semangat menjalankan Leadership Project. Mengingat beberapa waktu sebelum berlangsungnya acara IYLF dan presentasi Leadership Project ini ada beberapa teman Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta yang bahkan belum tahu Leadership Project tahun ini hendak menjalankan program apa saja. Tapi, Alhamdulillah. Berkat kehadiran Pak Wahyudi, kami menjadi sadar akan pentingnya membangun desa. Semangat kami terbakar kembali untuk bisa lebih banyak mengabdi dan kembali ke desa. Ada satu pesan terakhir dari Pak Wahyudi sebelum beliau menutup sesi ini, yakni JANGAN TINGGALKAN DESA!
Oh iya ada yang lupa. Ada pemateri yang lucu dan berulang kali membuat kami tertawa. Saya mengapresiasi sekali pemateri tersebut karena dengan cara penyampaiannya yang unik, kami tidak mengantuk.  Beliau adalah Bapak Edi, selalu kepala BOP Jogja. Beliau menyampaikan empat unsur kepemimpinan yang paling penting, yakni keberanian, kejujuran, kekereatifan, dan keikhlasan.  Nah, bagaimana cara menyampaikannya? Beliau meminta salah satu dari kami untuk maju. Katanya, beliau akan memberikan pertanyaan. Jadi, semacam menguji keberanian apakah ada diantara kami yang berani maju untuk menjawab meski belum tau pertanyaannya apa. Setelah itu, ada juga diantara kami yang ditanya pernah pacaran atau tidak. Ini juga menguji apakah kami jujur atau tidak. Lalu, tiba-tiba salah satu diantara kami diberi uang, lalu diberi pertanyaan akan digunakan untuk apa uang tersebut. Nah, yang ini menguji kekreatifan. Poin yang terakhir, keikhlasan. Tidak ada peragaan apapun. Karena ikhlas memang tidak bisa ditampakkan. Keren ya? Jujur, penyampaian materi dengan cara sedikit bermain seperti ini lebih mengena dan lebih tertanam lama di pikiran. Hehe
Lalu ada juga pemateri yang keren banget. Beliau tajir melintir tapi dermawannya juga masya Allah banget. Pak Bachtiar Rakhman, seorang Solo Riding yang sudah berkeliling ke berbagai negara dengan mengendarai motor. Beliau kemudian menuliskan pengalaman-pengalamannya dalam sebuah buku berjudul Musafir Biker. Bagus lho bukunya. Penasaran? Beli lah.. (wkwk) Aku baru baca setengah saja sudah geleng-geleng kepala. Inspiratif betul lah Pak Bachtiar ini. Apalagi untuk aku yang terkadang masih suka takut kalau naik motor. Hehe
 Ah, ada yang terlewat rupanya. Saat malam ahad, kami ada semacam pementasan kecil-kecilan. Meski hampir setiap kelompok penampilannya tidak jelas (haha) tapi kami senang. Karena justru ketidakjelasan itulah yang membuat kami tertawa. Ditambah kebaikan teman-teman heroboyo yang memberikan oleh-oleh khas Surabaya, yaitu Keripik Salijali. Penasaran keripik apa itu? Beli di Surabaya ya (wkwk). Yang jelas enak dan hmm bikin ketagihan. Lalu, akhir acara ditutup dengan mannequin challenge. Bisa dibayangkan kan mannequin challenge dengan orang sebanyak itu, pastilah pegal sekali. Aku berusaha menahan tawa saking capeknya. Untung aku tidak menyulitkan diri sendiri dengan berpose yang aneh-aneh.
Dari IYLF, aku banyak mendapat pelajaran. Salah satunya adalah semangat membangun desa. Seperti yang telah kita ketahui, sebetulnya potensi sumber daya alam di desa itu banyak sekali. Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah sedikit sekali orang-orang yang mau mengolah sumber daya alam tersebut. Anak mudanya pergi semua ke kota dan jarang yang mau pulang kembali ke desa. Apa iya kita akan terus menerus membangun kota? Nah, sebagai anak muda yang punya komitmen untuk berkontribusi besar bagi bangsa, yuk memulainya dari desa. Kalau kata mas Nur Aulia Agis, mari membangun Indonesia dari desa!
Mungkin sedikit saja ya, cerita soal IYLF. Karena sebetulnya aku sedang ada sedikit masalah ._. Jadi kurang fokus menulis. Semoga yang sedikit ini tetap bisa bermanfaat.


Kamis, 01 Desember 2016

Ketika Teknik dan Sastra Bersatu



Selamat pagi, Pembaca! Hffft, akhirnya setelah sekian lama tidak menulis, di minggu yang rancu antara tenang atau tegang ini aku menyempatkan diri untuk menulis cerita-cerita yang belum sempat kutulis. Aku pernah menjanjikan sebuah cerita romantis antara sepasang insan yang baru saja menikah. Aku lupa, sepertinya sudah berjalan hampir satu bulan. Kisah romantis antara sarjana teknik dan sarjana sastra.
Sebenarnya aku tidak akan menceritakan mengenai mereka berdua sih. Ya secara aku sebetulnya tidak tahu detail cerita pertemuan mereka hingga duduk di kursi pelaminan itu seperti apa. Aku hanya akan menyampaikan nasihat yang disampaikan oleh seorang ustad pada malam akad pernikahan mereka. Satu hal sederhana yang kuingat saat itu adalah pertanyaan ustad tersebut mengenai kriteria pasangan. “Kamu ingin pasangan yang seperti apa? Cantik? Pinter? Pinter masak? Pinter ngurus anak? Kaya? Solehah? Atau mau semuanya?” Kemudian mulailah satu persatu kisah mengenai memilih pasangan diceritakan. Ustad ini sudah berpengalaman sekali dalam urusana hubungan rumah tangga. Banyak orang-orang yang datang kepada beliau untuk minta diberi nasihat hubunganya dengan urusan rumah tangga.
Dari sekian banyak kisah yang diceritakan, intinya hanya satu. Pasangan kita, siapapun itu sekarang atau esok, tidak ada yang sempurna. Kalau dia pintar masak, bisa jadi tidak pintar mengurus anak. Kalau pintar masak dan pintar mengurus anak, bisa jadi tidak cantik atau tidak kaya. Kalau cantik, kaya, pintar masak, pintar ngurus anak, bisa jadi belum solehah. Ada saja kurangnya. Tapi ketika pernikahan yang artinya adalah menyatukan dua insan, maka semua itu bukan lagi soal kurang lebih, hebat tidak, dan segala macam hal yang sifatnya adalah individual. Pernikahan adalah tentang berjuang bersama. Maka, penting untuk pasangan yang baru saja menikah, untuk mengenal satu sama lain lebih jauh. Ustad itu menyarankan untuk memberikan kertas pada pasangan, dan memintanya untuk menuliskan apa saja yang ia suka dan apa saja yang tidak ia suka. Dengan begitu, satu sama lain akan saling memahami dan berusaha untuk menghargai satu sama lain.
Ada sebuah cerita. Suatu hari ada seorang laki-laki yang datang kepada ustad tersebut, meminta dicarikan pasangan. Ketika ditanya, “Kamu maunya yang seperti apa?” Ia menjawab, “Yang bila aku memandang wajahnya, maka sejuklah hatiku, yang bila anak-anakku berada pada tanggung jawabnya, damailah jiwaku, yang bila kuajak bicara dengannya, tentramlah pikiranku, yang kehadirannya di rumahku membawa kebahagiaan dalam hidupku.” Lantas, ustad tersebut menjawab, “Saya sudah menemukan orangnya, mas.” Kemudian laki-laki tersebut berbinar-binar dan bertanya lagi, “Siapa Pak Ustad?” kemudian ustad itu menjawab, “Bidadari surga.” Laki-laki itupun terdiam. Kemudian ustad tersebut menlajutkan, “Tidak ada mas. Tidak ada di dunia ini perempuan yang sempurnanya seperti itu. Pasti ada kurangnya. Jadi kalau mas mau cari perempuan seperti yang telah disebutkan tadi, cari saja di surga.” Aku senyam-senyum saja menyimak nasihat tersebut. Untuk remaja yang masih sedikit alay sepertiku, terkadang membayangkan ingin punya pasangan yang serba bisa. Yang gantenglah, kayalah, pinterlah, dan seabrek hal-hal bagus lainnya. Padahal betul saja kata ustad tadi, tidak akan pernah ada pasangan yang sempurna. Dari sini kemudian ustadnya menyambung perihal perceraian. Bagi pasangan yang sudah saling mengerti dan memahami satu sama lain, mestinya perceraian dapat dihindarkan. Apalagi hanya karena masalah-masalah yang sepele. Ustad tersebut berpesan, ketika mulai terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangga, cobalah untuk bicara berdua kemudian mengingat-ingat, apa alasan dulu memutuskan untuk bersatu. Tanamkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Allah telah merancang skenario setiap kehidupan seseorang dengan sangat indah. Cobalah bertanya pada diri sendiri, “Diantara jutaan perempuan lain, kenapa yang akhirnya menjadi pasanganku adalah kamu? Kenapa pula harus bertemu di tempat itu? Dan kenapa harus pada jam itu?” pertanyaan itulah yang kemudian akan membuat kita ingat pada masa awal-awal bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Kita akan ingat bahwa ternyata sudah banyak sekali kisah yang telah dilukiskan bersama, telah banyak sekali rasa sakit yang berhasil dilewati hasil dari berjuang bersama.

Kalau menurutku, pernikahan memang tentang berjuang bersama. Berjuang untuk apa? Berjuang untuk menjadi lebih baik. Jadi kalau ditanya mau pasangan yang seperti apa, yang terpenting buatku adalah yang mau berjuang bersamaku menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
Mungkin aku memang bukan yang terbaik. Tapi aku yang tidak akan pernah lelah berjuang untuk terus membaik bersamamu*uhuk

Btw pasangan yang kuceritakan ini laki-lakinya lulusan teknik, dan perempuannya lulusan sastra lho. Trus kenapa? #eaaa

Minggu, 13 November 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 8 : Our Lovely Founding Father

12 November 2016


Selamat malam, Pembaca. Sebetulnya malam ini aku ingin langsung istirahat, karena jam juga sudah menunjukkan pukul 23.50. Tapi, kajian yang baru saja selesai malam ini juga, begitu menginspirasi, jadi sayang sekali kalau tidak dibagikan. Apalagi, ditambah dengan akhir yang ‘mewek-mewek’
Kajian malam ini, adalah kajian istimewa—kajian kesukaanku. Namanya, Kajian Islam Kontemporer. Pembicaranya tentu tidak kalah istimewanya. Beliau adalah Ustad Musholli, founding father dari Rumah Kepemimpinan. Kalau ditanya beliau seperti apa, aku sampai tidak tahu harus bagaimana mendeskripsikannya. Beliau begitu hebat, keren, dan pastinya sangat menginspirasi!
Kajian malam ini dimulai dengan nasihat beliau tentang rasa syukur. Sungguh bersyukur itu hal yang sangat luar biasa sekali, ya? Dimanapun, di awal setiap pembicaraan, selalu orang-orang mengingatkan tentang rasa syukur. Jadi teringat perkataan Bapak Sandiaga Uno saat NLC beberapa bulan lalu, “Hidup hanya tentang 2S. Syukur dan Sabar.” Kemudian Ustad Musholli menyampaikan, “Jika kita senantiasa bersyukur, maka hidup akan selalu indah dan bahagia. Tapi bila tidak, maka yang akan timbul di kemudian hari adalah penyakit hasad, iri, dengki, dan sebagainya. Hal itu nantinya dapat membakar diri kita, menghapuskan semua amalan-amalan kita.”
Selanjutnya, dilanjutkan dengan pembahasan surah Al-Fath ayat 1, yang artinya “Sungguh Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” Menurut mufassir, ada 2 tafsir atas kata kemenangan dalam ayat ini. Tafsir pertama adalah kemenangan Rasulullah atas Kota Makkah atau yang biasa disebut dengan Fathu Makkah dan yang kedua, Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah. Akan tetapi, lebih banyak mufassir yang setuju bila kemenangan yang dimaksudkan adalah Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah. Dari perjanjian Perdamaian Hudaibiyah ini, kita diberi pelajaran bahwasannya jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan atau keputusan atas sesuatu, dengan mengatakan hal itu sebagai suatu kesalahan atau kehinaan. Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah secara kasat mata dipandang sebagai perjanjian yang merugikan pihak kaum muslimin. Mengapa demikian? Pertama, dalam perjanjian tersebut kalimat Bismillahirrahmaanirrahiim dicoret dan diganti dengan bismika allahumma, dikarenakan pihak musyrikin quraisy tidak setuju bila ditulis dengan Bismillahirrahmaanirrahiim. Kedua, nama Rasulullah yang awalnya ditulis Muhammad Rasulullah, dicoret dan diganti dengan Muhammad bin Abdullah, karena pihak musyrikin juga tidak setuju dengan kata Rasulullah. Dari isinya pun, tampak sekali beberapa ketidakadilan. Pertama, Kaum Muslim Madinah dilarang pergi ke Makkah selama 10 tahun. Kedua, orang Kafir Makkah yang pergi (masuk Islam) dan pindah ke Madinah, harus dikembalikan ke Makkah, tetapi bila orang Muslim Madinah yang hendak pergi (murtad) dan kembali ke Makkah, maka tidak boleh dihalangi, dan yang ketiga, setelah 10 tahun umat Muslim Madinah dipersilahkan utnuk mengunjungi Makkah tetapi dengan syarat, tidak boleh lebih dari 3 hari dan tidak boleh membawa senjata apapun. Pada saat perjanjian tersebut sudah selesai dan sudah disepakati kedua belah pihak, tiba-tiba datang seorang tawanan yang lepas dari penjara—yang tak lain adalah seorang anak dari pemuka musyrikin quraisy. Ia sudah menjadi seorang muslim dan hendak ikut bersama Rasulullah ke Madinah. Akan tetapi, karena perjanjian perdamaian itu telah disepakati kedua belah pihak, maka tawanan tersebut tak dapat ikut serta bersama Rasulullah. Kemudian tawanan tersebut bertanya pada Rasul “Ya Rasulullah, tegakah kau membiarkanku tetap di sini bersama dengan orang-orang yang nantinya akan menyiksaku?” Lalu jawab Rasulullah, “Perjanjian ini telah disepakati kedua belah pihak, kita harus menaatinya.” Luar biasa. Rasulullah memang dikenal sebagai orang yang senantiasa menepati janjinya, hingga mendapat gelar Al-Amin.
Itu cerita pertama. Cerita kedua, adalah tentang implementasi nilai-nilai islam. Ada seorang ibu-ibu Cina yang yang meminta kepada pengurus masjid untuk mengecilkan volume speaker masjid. Hal ini menimbulkan banyak sekali komentar dan keributan hingga orang-orang dengan teganya membakar rumah ibu tersebut. Lalu sebenarnya yang preman itu siapa? Mengapa tidak diselesaikan secara baik-baik? Sungguh Rasulullah itu lemah lembut, mengajarkan Islam bukan dengan kekerasan. Karena ketika kita menggunakan kekerasan, yang terjadi justru dakwah akan semakin merosot. Ada satu kalimat yang cukup menohok dari Ustad Musholli, “Apakah sudah lebih banyak doa yang kita panjatkan dibanding dengan kebencian yang kita sampaikan? Kadang kita pelit dengan doa tapi royal dengan kebencian”
Selanjutnya, adalah materi mengenai Keberhasilan Islamisasi di Turki. Berhubung slidenya cukup banyak, aku hanya sempat mencatat poin-poinnya saja. Ada dua strategi dalam penciptaan gerakan Islam di Turki. Pertama, strategi islamisasi dari bawah ke atas (membangun dari dalam). Kedua, strategi islamisasi dari atas ke bawah (salah satu contohnya adalah aksi bersenjata). Tujuan dari strategi ini adalah untuk menciptakan bangunan sosial yang islami di tengah masyarakat Turki yang dianggap sekuler. (Lengkapnya bisa lihat buku catatan kajianku hehe)
Bagian akhirnya, ini adalah yang membuatku ingin langsung membagikannya pada semua orang. Hari ini, katanya adalah hari Ayah. Karena Ustad Musholli adalah founding father dari Rumah Kepemimpinan, maka kami—Nakula dan Srikandi bersama-sama menyanyikan sebuah lagu tentang ayah untuk beliau.
Untuk.. Ayah tercinta..
Aku.. ingin bernyanyi..
Walau air mata.. di pipiku..
Ayah.. dengarkanlah..
Aku ingin berjumpa…
Walau hanya..dalam.. mimpi..
Tapi yang terjadi adalah, kebanyakan dari kami menangis—terutama srikandi, karena kami jadi ingat dengan ayah kami masing-masing. Sesi menyanyi dan menangis bersama ini kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustad Musholli untuk salah satu ayah srikandi yang pagi tadi meninggal dunia. Jadilah tangis kami semakin pecah. Oh, Allah. Betapa perjuangan ini sungguh tidak mudah. Kuatkan dan mudahkanlah jalan kami ini, Ya Allah. Izinkan kami melakukan yang terbaik, memberikan yang terbaik, untuk dunia dan akhirat kelak. Aamiin..


Senin, 24 Oktober 2016

Catatan rumah Kepemimpinan 7 : Jalan Juang menuju 25 Milyar


         Selamat sore, Pembaca (: Kali ini aku akan berbagi cerita tentang sosok yang keren banget, dijamin! Siapa? Yuk simak ceritanya (:
Siapa yang tidak tau warung SS (Spesial Sambal)? Warung makan dengan ciri khas sambalnya yang begitu beragam dan harganya yang murah itu, kini telah mencapai 76 cabang di 37 kota di Indonesia. Omzetnya pun hingga saat ini sudah mencapai 25 M perbulannya, masya Allah.. Lalu, apa sebetulnya yang menjadi rahasia warung SS hingga bisa menjadi sebesar sekarang? Dalam kajian tokoh di Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta malam itu, dihadirkan langsung owner Warung Spesial Sambal, yakni Bapak Yoyok Hery Wahyono. Beliau menyampaikan banyak hal seputar perjuangan beliau dari awal mendirikan SS hingga bisa menjadi sebesar sekarang.
Di awal pembicaraan, Pak Yoyok banyak menyampaikan tentang rasa syukur. Beliau mengatakan bahwa kekuatan bersyukur itu luar biasa. “Kepandaian bersyukurlah yang menyelamatkan hidup saya.” Tambahnya. Namun, yang namanya bersyukur memang tidak mudah. Bersyukur di sini tidak hanya ketika mendapat kenikmatan, tetapi juga ketika mendapat musibah dan ujian. Mungkin ketika mendapat nikmat, kita mudah saja bersyukur. Akan tetapi ketika kita diberi musibah dan ujian? Masih bisakah kita bersyukur sama mudahnya ketika diberi nikmat? Pak Yoyok menerangkan, bersyukur merupakan sebuah keyakinan. Yang mana menjaga keyakinan adalah seperti memegang bara api. Memang banyak sekali keyakinan itu, dan kita bebas mau memilih keyakinan apapun. Tetapi menjaganya itu yang sulit. Menjadi istiqomah itu yang tidak mudah. Bagaimana kemudian kita bisa terus menggenggam batu bara itu meskipun panas dan sakitnya tak terkira. Inilah kemudian yang menjadi penguat bagi Pak Yoyok. Beliau bercerita, pada awal-awal berdirinya warung makan SS, banyak sekali kendala yang dihadapi. Mulai dari lelah, hasil yang juga tidak seberapa, bahkan sampai rugi yang berkepanjangan. Namun, apa yang kemudian membuat Pak Yoyok tetap bertahan? Satu kata tadi. Bersyukur. Pak Yoyok mensyukuri setiap apa yang diberikan Allah kepadanya. Pak Yoyok meyakini bahwa rezeki tidak berada di tangan kita, tetapi di tangan Allah. Karenanya tugas kita adalah bekerja sebaik-baiknya, perkara hasil semua kembali kepada Allah. Selain itu, rupanya beliau juga menikmati proses panjang dan setiap kesulitan tersebut. Inilah yang kemudian disadari Pak Yoyok sebagai sebuah passion. Beliau bekerja dengan cinta. Sehingga tidak ada rasa kecewa ketika kegagalan dan berbagai kesulitan itu datang. 

Hingga kini, karyawan yang bekerja di warung SS telah mencapai kurang lebih 3600 orang. Dari sekian banyak karyawan tersebut, tentunya bukan tanpa masalah. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana mengelola karyawan sebanyak itu? Ternyata poin utamanya adalah menguatkan mentalitas personal. Pak Yoyok mengulangi kalimat tersebut sampai tiga kali. Mengapa? Karena untuk bisa bertahan, kekuatan mental setiap karyawannya terlebih dahululah yang harus dikuatkan. Baru setelah itu skill, sistem, dan sarana prasarana.
Satu hal lagi yang menarik, SS memiliki landasan spiritualitas. Apa itu? Keyakinan. Keyakinan yang akan tetap menguatkan mereka meski jatuh. Yang tetap akan bisa membuat mereka kembali bangkit meski terluka. Limbung tetapi tidak sampai jatuh, sakit tetapi tidak sampai mati. Keyakinan itu ada lima. Pertama, keyakinan terhadap adanya sebuah proses. SS sangat berorientasi pada kualitas proses. SS percaya bahwa bila proses yang dilakukan baik, maka hasilnya akan indah, baik, dan berkah. Keyakinan kedua, SS percaya bahwa angka-angka perolehan rejeki itu berada di luar kewenangan manusia. Ketiga, memilih jalan tentram dengan ukuran hati. Keempat, konsisten menjaga karakter dasar dan keyakinan. Kelima, mengetuk pintu langit.
Intinya, do the best, hasilnya serahkan kepada Allah. Karena berapapun hasil yang kita peroleh, kalau prosesnya baik, maka hasilnya akan indah. Salah satu bentuk proses yang baik adalah kejujuran. Bagi SS, kejujuran adalah harga mati. Tidak ada tempat bagi orang-orang yang tidak jujur berapapun sedikitnya, siapapun orangnya—kerabat dekat sekalipun. Nafas kekeluargaan, kerja professional.
Luar biasa bukan sedikit cerita mengenai warung SS ini? Ini belum seberapa. Penasaran lengkapnya? Tunggu buku mengenai profil SS dan seluk beluknya yang akan diterbitkan oleh Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta ya! Doakan semoga prosesnya lancar! Untuk SS, semoga semakin jaya dan sukses selalu dunia akhirat (:

Sabtu, 22 Oktober 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 6 : 2 Cerita Unik

Foto oleh : Resa Paksi

Selamat senja, Pembaca (: Kali ini aku mau berbagi sedikit mengenai cerita salah satu ustad yang mengisi kajian di Rumah Kepemimpinan beberapa waktu yang lalu. Tentu bukan cerita biasa, melainkan cerita yang kuanggap unik dan layak untuk dibagikan.

CERITA I
Cerita pertama, mengenai seorang dosen. Oh iya, aku lupa mengenalkan ya. Ustad yang mengisi kajian di Rumah Kepemimpinan beberapa hari lalu itu, bernama Ustad Deden. Jadi dulu saat masih kuliah, Ustad Deden pernah diajar oleh seorang dosen yang sangat disiplin. Hal itu membuat sebagian mahasiswa akhirnya menjadi kurang senang, melihat dosen tersebut juga sering sekali memberi tugas. Namun, ada sisi lain dari dosen tersebut yang tidak semua orang tahu. Ustad Deden bercerita, bahwa dosen beliau yang sangat disiplin tersebut jarang sekali datang ke kampus lebih dari pukul 06.30. Dosen beliau ini selalu datang pukul 06.00. Karena dosen tersebut memiliki kunci serep kantor maka beliau  bisa masuk kapan saja, tanpa perlu menunggu petugas. Tak hanya itu, begitu sampai di kantor, dosen tersebut segera menyapu ruangannya sendiri, jauh sebelum cleaning service yang membersihkannya. Setelah itu, beliau melaksanakan sholat dhuha. Waah, luar biasa sekali ya…

Lalu setelah melaksanakan sholat dhuha, dosen tersebut pasti memanggil salah satu mahasiswanya yang sudah datang untuk berdiskusi dengan beliau. Beliau akan mengeluarkan setumpuk buku, kemudian meminta salah satu mehasiswanya yang dipanggilnya tadi untuk membaca satu buku saja dari banyaknya tumpukan buku yang telah beliau keluarkan tadi. Jika sudah selasai dibaca, maka tugas selanjutnya adalah mahasiswa tersebut harus menjelaskan hasil dari apa yang telah dibacanya pada pekan depan. Luar biasa sekali bukan? Ah, tapi itu belum seberapa.

Suatu kali, Ustad Deden melihat dosen tersebut sedang memilah-milah buku anak di sebuah pameran. Namun, Ustad Deden hanya diam dan terus berfikir, untuk siapa buku-buku itu? Hingga pada keesokan harinya, ustad Deden dipanggil oleh dosen tersebut. Alangkah terkejutnya Ustad Deden ketika mendapati begitu banyak buku anak-anak  dalam dua kardus besar di ruangan dosen tersebut. Lalu tanpa basa-basi, dosen tersebut langsung memerintahkan Ustad Deden untuk memberikan kedua dus berisi buku itu ke dua SD di sebuah daerah. Setelah memberikan perintah, dosen tersebut berpesan, “Jangan katakan dari siapa buku-buku ini.” Masya Allah…

Seketika itu aku pun terhenyak. Seringkali kita menilai seseorang dari apa yang terlihat di luarnya saja. Kita tidak pernah tau bahwa ada banyak hal dari orang lain yang kita tidak tahu… Sehingga pesan ustad Deden adalah, marilah kita mencoba untuk bisa selalu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya dari satu sisi saja. Jangan serta merta tidak menyukai dosen hanya karena beliau galak, pelit nilai atau sering memberi tugas. Tapi, cobalah untuk melihat dosen tersebut dari sisi yang lain. Bisa jadi kita akan menemukan hal-hal menakjubkan yang sebelumnya kita tidak pernah tahu.

CERITA II
Cerita kedua, masih seputar kehidupan Ustad Deden, yakni ketika beliau menjadi santri. Beliau menceritakan, dulu saat masih menjadi santri, ada seorang Ustadz yang memiliki cara unik dalam memberikan pelajaran kepada santri-santrinya. Ustadz tersebut merupakan ustadz yang mengampu tahfidz. Jadi, setiap santri menyetorkan hafalan mereka kepada beliau. Jangan dibayangkan menyetorkan hafalan itu mudah. Karena ketika menyetorkan hafalan, tapi kemudian mereka terlupa satu ayat atau bahkan salah harokat saja, lutut mereka akan ditusuk dengan ujung pulpen oleh Ustadz tersebut. Sehingga tidaka ada ceritanya orang yang sudah menyetorkan hafalan kepada ustadz tersebut, memiliki kualitas hafalan yang buruk. Karena mereka tidak akan berani menyetorkan hafalan mereka sebelum benar-benar lancar dan betul. Mereka benar-benar mempersiapkan segalanya dengan baik. Karena jika tidak, maka bisa dipastikan lutut mereka akan sakit dan menjadi hitam karena banyaknya tusukan pulpen yang diberikan oleh sang ustadz. Unik sekali ya? Dengan begitu para penyetor memang akan sungguh-sungguh hafalan, bukan yang asal setor tetapi besoknya langsung lupa.

Sejujurnya ini menjadi tamparan keras buatku. Karena dulu semasa menghafal di pondok, aku tipe santri yang cepat sekali menghafal, tapi cepat juga lupanya. Dampaknya, saat kuliah ini beberapa hafalanku hilang—hampir tak berbekas. Aku hanya familiar ayatnya saja ketika ada yang membaca atau mendengar ayat tersebut. Tapi sudah tidak bisa ketika diminta untuk melanjutkan. Sedih sekali sebetulnya. Semoga bisa dijadikan pelajaran untuk setiap penghafal Al-Qur’an, aamiin.. Sepertinya metode tusukan pulpen tadi juga bisa kuterapkan saat hafalan dan muroja’ah untuk ke depannya. Harus tega memang kalau benar-benar ingin mempunyai kualitas hafalan yang bagus. Semoga istiqomah, aamiiin..

Kamis, 20 Oktober 2016

Catatan Kampus 1 : Menertawakan “Sesuatu”

17 Oktober 2016
Winny (Mandarin)-Rosyda-Junpei(Jepang)
Foto oleh : Nur Fahmia

Halo (:
Kali ini aku akan sedikit berbagi mengenai apa yang barusan kupelajari dalam kelas Linguistik Austronesia. Aku tidak akan menuliskan materi yang kudapatkan tentunya, tetapi lebih kepada pelajaran di luar materi yang kudapatkan di dalam kelas hari ini.

Jadi, di kelas Linguistik Austronesia ada dua mahasiswa asing. Satu dari Jepang dan satu dari Mandarin. Dua-duanya punya semangat belajar yang ah.. seringkali membuatku malu. Mereka bersemangat sekali ketika diajak berdiskusi dengan dosen. Seperti halnya hari ini, aku dan teman-teman berulang kali dibuat tertawa oleh kedua mahasiswa asing yang semangat belajarnya luar biasa itu.

Aku sampai tidak bisa menghitung, sudah berapa gejala kebahasaan yang perlu untuk diteliti dan dikaji lebih jauh—seperti yang kami temukan hari ini. Padahal hanya bermula dari celetukan salah satu dari mahasiswa asing tersebut, yang pada akhirnya justru membuatku dan teman-teman serta dosen menyadari dan akhirnya melontarkan pertanyaan, “oiya ya, kenapa begitu ya?” Kalau dingat-ingat, sepertinya ada lebih dari lima gejala kebahasaan yang kami temukan dalam 2 sks mata kuliah Linguistik Austronesia ini. Salah satu yang cukup menarik adalah penggunaan afiks “se-”. Bermula dari kata sesaji, yang merupakan contoh lain dari bentuk pengulangan suku depan seperti kata tetikus, Junpei—mahasiswa asing dari Jepang itu kemudian bertanya, “Apakah sama dengan sesuatu? Bagaimana dengan kata sesuatu?” lantas kami tertawa. Bukan, bukan kami menertawakan pertanyaannya. Tapi karena selama ini kami sebagai penutur asli Bahasa Indonesia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Jangankan mempermasalahkan, berfikir tentang itu saja tidak. Tapi lihat, Junpei dengan rasa penasarannya yang begitu besar melihat dengan detail hal-hal seperti itu. Kemudian dosen kami menjawab, itu bisa menjadi bahan kajian. Bagaimana kemudian aturan penggunaan afiks se- sebenarnya. Apakah kata sesuatu bisa dikatakan sebagai pengulangan suku depan dari kata suatu seperti halnya kata tetikus dan sesaji?

Kemudian gejala kebahasaan yang kedua adalah penggunaan kata “itu”. Kalau sesuai aturan, itu adalah kata tunjuk untuk suatu hal yang jauh. Tapi bagaimana ketika ada yang mengatakan “saya itu ….” Bukankah seharusnya “saya ini...”? karena saya letaknya dekat, jadi seharusnya menggunakan kata “saya ini”. Kemudian Junpei mengutarakan pendapatnya, “Sepertinya itu bisa dijadikan sebagai penjelasan sebuah definisi. Misalnya ketika ditanya apa itu buku? Maka jawabannya bisa berupa buku itu sesuatu yang bla bla bla…” membuat kami lagi-lagi menggumam, “Hmmm iya ya, bisa juga ya.” Dosen kami pun kemudian mengatakan bahwa hal tersebut bisa juga menjadi salah satu fungsi kata “itu”, bila di dalam kalimatnya mengandung unsur definisi.

Aku sungguh kagum dengan Junpei. Bisa dikatakan dia cerdas sekali. Bahasa Indonesianya sudah sangat lancar. Pemahamannya terhadap materipun sangat cepat. Sedikit cerita, aku pernah bekerja satu kelompok dengan dia. Kami diminta oleh dosen untuk membuat presentasi yang nantinya akan disampaikan kepada teman-teman sekelas. Waktu itu, mata kuliahnya adalah Semantik. Kalian harus tahu, menjelaskan materi pada Junpei itu sungguh mudah! Dia dengan cepat memahami apa yang kujelaskan (padahal dengan Bahasa Indonesia). Bahkan di beberapa poin dia bisa memberikan contoh yang lebih mudah dari yang kujelaskan. Sehingga membuatku sedikit malu karena dia yang orang Jepang saja tahu hal-hal yang lebih sederhana.

Dari kisah hari ini, aku begitu mensyukuri keberadaanku di Sastra Indonesia. Banyak sekali mahasiswa asing yang masuk dan ikut belajar di kelasku. Dari mereka aku belajar arti kesungguhan. Aku sering memperhatikan, mereka serius sekali saat dosen sedang menjelaskan. Mereka tidak segan untuk langsung bertanya ketika ada kata-kata yang tidak mereka pahami. Setelah itu, langsung mereka catat. Pun saat membaca, ketika ada kata yang tidak mereka pahami, mereka langsung membuka kamus atau alfalink. Hmmm, tidak heran ya, mahasiswa asing cerdas-cerdas. Cara belajarnya memang luar biasa sekali.

Ah, satu lagi. Saat itu salah satu temanku bercerita, Junpei adalah mahasiswa yang tidak mau terlambat meskipun sedetik. Ketika itu, Junpei sedang makan siang dengan temanku. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 13.00, tetapi makanan yang dipesan oleh Junpei belum datang. Ketika tak lama kemudian makanan tersebut datang, Junpei langsung menyantapnya dengan cepat, padahal makanan tersebut masih sangat panas—saat itu dia memesan soto. Ketika ditanya oleh temanku kenapa terburu-buru, Junpei menjawab, “Saya ada kelas jam 13.00, sebentar lagi masuk dan saya tidak mau terlambat.” Hmm.. aku yang mendengar ceritanya saja berdecak kagum. Tidak heran kalau Jepang jempolan, kalau semua orang-orangnya disiplin seperti Junpei.

Nah, pelajaran apa yang bisa diambil? Tentunya, kesungguhan dalam menuntut ilmu. Seperti kata pepatah, man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia yang akan dapat. Jadi, jangan mau kalah dengan orang asing ya (: keep spirit ^^

Minggu, 02 Oktober 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 5 : Aku Bisa Menulis (Lagi)

2 Oktober 2016

Selamat sore, Pembaca. Luar biasa sekali di sore yang lumayan dingin ini gairah menulisku muncul kembali, setelah sekian lamanya tidak pernah menulis.

Semua ini bermula dari sebuah buku. Terima kasih, Allah. Karena lagi-lagi menggerakkan tanganku untuk mengambil buku tersebut dan membelinya. Jadi sekitar pukul sebelas tadi, aku mampir ke toko buku Social Agency terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Niat awalnya adalah membeli buku untuk tugas resensi mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah. Begitu masuk toko buku tersebut, aku segera menuju rak dengan tulisan buku terbaru. Mengapa? Karena syarat untuk buku yang boleh diresensi adalah buku terbitan tahun 2016. Akhirnya aku menemukan satu buku yang sepertinya cukup bagus, judulnya Ya Rabb, Beri Aku Kesempatan Lagi. Namun karena masih sedikit ragu, akhirnya aku mencoba untuk berkeliling melihat buku yang lain. Sampai akhirnya, aku bertanya pada salah satu karyawan, benar tidak buku yang sudah kupilih tersebut terbitan tahun 2016. Lalu kata karyawan tersebut, belum tentu. Karena kode yang terdapat dibukunya adalah 2216. Jadi, kemungkinan buku itu terbitan tahun 2015 atau 2016. Kalau yang sudah pasti terbitan tahun 2016, maka kodenya adalah 2217. Ooh begitu rupanya, batinku. Akupun mencoba mencari buku lain dengan kode 2217. Akhirnya, entah mengapa mataku langsung tertarik dengan buku berjudul “Hidup Indah Bersama Allah”, dan tanpa pikir panjang, langsung kuambil dan kubayar di kasir. Begitulah awal mula ceritanya aku membeli buku tersebut. Buku yang membuatku bergetar berkali-kali saat membacanya. Buku yang membuatku (bisa) menulis lagi sore ini.

Tidak jauh beda dengan kebanyakan buku motivasi lainnya, buku ini terdiri dari banyak sub bab judul yang membahas mengenai suatu persoalan. Dan sub bab yang paling menggetarkan adalah sub bab, IKHLAS. Kubaca satu demi satu tiap-tiap kalimatnya. Seketika ingatanku melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat dimana aku lebih dari sekadar benci dengan diriku sendiri. Saat aku bertanya pada temanku tentang sebuah materi, tetapi ia justru menjawabnya dengan kalimat yang sangat menyakitkan, “Rosyda sih tidur terus.” Seketika, saat itupun aku diam. Kemudian sepanjang hari aku merenung. Bicara pada diriku selama perjalanan dari kampus menuju asrama yang jaraknya kurang lebih 7 kilometer. Berpuluh-puluh pertanyaan kuajukan pada langit, pada alam, pada diriku sendiri.

“Apa yang salah dengan Rosyda? Lihat sekarang. Hampir semua teman berkomentar hal yang sama. Rosyda sekarang ngantukan, deadliner, kucel kalo ke kampus, lemes ga semangat, wajahnya kayak sakit, ga ceria.”
“Apa yang salah dengan Rosyda? UTS Batik tidak bisa menjawab dengan maksimal, muroja’ah sehabis maghrib tidak pernah jalan, tugas menumpuk sampai keteteran, proyek penelitian tidak gerak cepat, tidak pernah menulis blog lagi, tidak pernah mengedit, tidak pernah membuat tulisan baru, ada apa?”
“Apa yang salah dengan Rosyda? Kurang penyesuaian kah dengan barisan para pemimpin ini? Tapi ini sudah bulan kedua!?
“Apa yang salah dengan Rosyda? Atau mungkin bukan aku yang salah? Mungkin RK? Apa RK yang salah? Jadwal yang begitu padat belum lagi kuliah dan organisasi, seperti tidak ada waktu istirahat sedikitpun. Tapi buktinya banyak temanmu yang tetap bisa menjalani hidupnya dengan baik. Beberapa malah sudah ke luar negri dan menorehkan prestasi yang luar biasa. Sedangkan aku? Sekedar menghasilkan atau mengedit satu tulisan setiap hari saja tidak sempat. Jelas ini bukan salah RK. Tapi salahku sendiri. Dan kalian tahu? Aku benci. Aku benci dengan diriku yang seperti itu. Dan ketika temanku menjawab pertanyaanku dengan kalimat menohok tadi, seketika aku menjadi lebih dari sekadar benci dengan diriku sendiri.

Lalu siang tadi ketika aku membaca buku Hidup Indah Bersama Allah, aku menemukan jawabannya. Aku menemukan jawaban atas semua pertanyaanku sore itu.

Aku selama ini belum ikhlas. Aku belum ikhlas dibina dan ditempa di Rumah Kepemimpinan. Sehingga yang terjadi adalah aku mudah lelah, aku mudah kecewa. Aku belum ikhlas dengan acara malam yang selalu berlangsung dari pukul 20.00 hingga 22.00. Padahal selama ini, itu adalah waktuku yang paling efektif untuk menulis dan belajar. Aku kecewa, ketika acara pagi terkadang berakhir lebih dari pukul 06.30, padahal setelah pukul 06.30 jalanan akan sangat ramai dan macet, membuat semangatku menguap diantara hiruk pikuk kendaraan pagi hari. Aku belum ikhlas, Allah. Sungguh ternyata selama ini aku belum ikhlas. Dalam buku tersebut disebutkan, “Mengapa kita lemah, lelah, stress, dan frustasi dalam kehidupan ini? Mungkin karena kita belum ikhlas. Karena kata menyerah, lelah, kalah, putus asa, dan frustasi tidak pernah ada dalam kamus orang ikhlas.”

Aku selama ini belum ikhlas. Aku masih takut dengan supervisor, aku masih takut dengan Bang Bach, aku masih takut dengan segala system di RK. Ketaatanku bukan semata-mata karena Allah, tapi karena aku takut dengan mereka. Sungguh selama ini aku belum ikhlas.

Namun aku bersyukur. Allah tidak pernah lelah mengingatkanku. Di awal Bulan Oktober ini, di saat besok Senin adalah minggu UTS yang sebenarnya, Allah menggerakkan tanganku untuk membeli buku penuh hikmah ini. Mengizinkanku untuk kembali menulis. Mengabulkan doaku beberapa hari lalu tentang kesempatan memperbaiki semuanya dari awal.

Karenanya, aku akan belajar untuk menjadi lebih ikhlas. Kata banyak orang, yang namanya ikhlas memang tidak mudah. Tapi bukan berarti kita tidak bisa senantiasa berusaha untuk ikhlas, bukan? Semoga kisah kali ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang, terlebih bagiku sendiri. Semoga ke depan segalanya bisa menjadi lebih baik, dan aku bisa menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih ikhlas. Awali Bulan Oktober ini dengan semangat perubahan, Rosyda. Ikhlaskan semuanya hanya karena Allah, hanya untuk Allah. Karena yang tidak akan kamu temukan di Rumah Kepemimpinan adalah, istirahat.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Leaders and Leadership (part 1)

Leaders and leadership malam ini, diawali Bang Bach dengan satu kalimat yang sangat menarik, yakni winner never quit, quiter never win. Kalimat ini kemudian dijelaskan bagaimana kemudian kita sebagai sosok pemimpin harus bisa senantiasa berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah dari diri kita sendiri. Lingkungan atau siapapaun tidak akan bisa merubah diri kita jika kita sendiri memasang banyak gembok, jika kita sendiri menolak untuk melakukan sebuah perubahan.
Salah satu contoh bentuk perubahan dalam diri adalah, sadar sejak dini bahwa kita semua adalah pemimpin. Masuk ke dalam barisan rumah kepemimpinan seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa kita adalah calon-calon pemimpin dunia di masa yang akan datang. Karenanya, kita harus bisa memulai perubahan dari yang paling kecil, yakni memperbaiki niat. Niat ketika bergabung dengan rumah kepemimpinan. Jangan lagi niatnya adalah mendapat tempat tinggal gratis, atau mendapat uang saku, tetapi niat perubahan. Rumah kepemimpinan selalu diselamatkan oleh Allah. Sehingga orang-orang yang niatnya tidak benar, secara otomatis, cepat atau lambat, akan keluar dari barisan rumah kepemimpinan.
Dalam sesi ini Bang Bach kembali mengulang apa yang telah beliau sampaikan pada saat seminar bedah buku prophetic leadership, yakni mengenai kepemimpinan profetik. Kepemimpinan profetik merupakan bentuk dari melepaskan penghambaan dari manusia menjadi hanya kepada Allah. Mengapa begitu? Karena ketika kita mengganti Allah dengan tuhan-tuhan kecil, seperti harta, tahta, wanita, laki-laki, dan sebagainya, maka kita tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin profetik. Termasuk perbuatan yang dilarang seperti pacaran, sejatinya itu merupakan salah satu bentuk dari penghambaan kepada manusia. Karenanya, melepaskan penghambaan kepada selain Allah menjadi kunci utama bagi Kepemimpinan Profetik. Karena Kepemimpinan profetik akan melahirkan kepercayaan hanya kepada Allah, dimana kita tidak akan lagi mudah merasa takut, rendah diri, dan malu.
Bang Bach berkali-kali menekankan, akan ada banyak sekali niat yang bisa membuat kita dengan sendirinya keluar dari Rumah Kepemimpinan. Tetapi hanya ada satu niat yang dapat membuat kita bertahan di sini. Keluar tidaknya kita sejatinya bukan Rumah Kepemimpinan yang mengeluarkan, tetapi diri kita sendiri. Mungkin kita bisa membohongi pengurus atau pemimpin pusat, tetapi sekali-kali kita tidak akan pernah bisa membohongi Allah. Sehingga orang-orang yang memiliki niat salah di Rumah Kepemimpinan, akan dengan senndirinya keluar, cepat maupun lambat.
Masuk ke dalam bagian lebih dalam dari prophetic leadership, tugas yang harus kita lakukan adalah membaca kisah-kisah di dalam al-quran secara berulang kali. Memahami cerita dan maknanya, kemudian menganalisisnya. Dari sini kemudian kita bisa mengambil nilai-nilai keteladanan yang telah diajarkan oleh para nabi terdahulu.
Misi utama dari kepemimpinan prophetic ada 3. Yakni, humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi di sini berarti, berbuat baik kepada semua orang, yang dimulai dari diri sendiri. Kemudian liberasi, yakni misi pembebasan. Pembebasan yang seperti apa? Pembebasan dari keterpurukan penindasan. Penindasan yang dimaksud di sini bukan seperti disiksa, dipukuli, dan sebagainya. Melainkan lebih kepada penindasan dari penghambaan terhadap tuhan-tuhan yang kerdil. Misi pembebasan tidak hanya bagi diri sendiri. Melainkan untuk semua orang. Karenanya, jangan pernah mersa aman dan nyaman jika soleh maupun solehah sendirian. Kita harus melakukan misi pembebasan ini bersama-sama. Misi yang selanjutnya, yakni transedensi. Transedensi merupakan manifestasi dari humanisasi dan liberasi. Transedensi menunjukkan bagaimana kemajuan diri dan keimanan kita. Bisa dibilang, iman memang naik turun. Tetapi bukan kemudian naik turun yang semakin turun, akan tetapi meski naik turun, secara keseluruhan diagram keimanan kita menunjuk pada arah peningkatan.
Selanjutnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan guna mewujudkan ketiga misi yang telah disebutkan di atas, yakni pembacaan, penyucian, pengajaran, dan penguasaaan informasi dan masalah-masalah baru dan dinamis. Pembahsan pertama, pembacaan. Kepemimpinan profetik tidak akan bisa tercapai jika kita tidak membaca. Bagaimana kita akan menyampaikan kepada orang lain jika ilmunya saja kita tidak tahu? Kemampuan membaca juga sangat berpengaruh pada keberpengaruhan kita terhadap orang lain. Semakin banyak bacaan yang kita kuasai, maka akan semakin banyak pula orang yang bisa kita pengaruhi. Kedua, penyucian. Yang dimaksud penyucian di sini adalah pemaknaan terhadap apa yang telah kita baca. Sama halnya dengan pembacaan, misi kepemimpinan profetik tidak akan tercapai tanpa adanya pemaknaan terhadap apa-apa yang telah kita baca. Selanjutnya, pengajaran. Selepas membaca dan memaknai, maka tugas kita selanjutnya adalah mengajarkan. Tidak akan berguna apa yang telah kita baca dan pelajari jika tidak diamalkan dan dibagikan kepada orang lain. Terakhir, penguasaan informasi. Untuk mewujudkan misi kepemimpinan profetik, kita harus bisa menguasai informasi serta masalah-masalah yang baru dan dinamis yang terjadi disekitar kita.
Setelah membahas mengenai langkah yang harus dilakukan dalam mewujudkan misi kepemimpinan profetik, selanjutnya adalah pembahasan mengenai visi keilahiyahan. Apa visi keilahiyahan itu? Visi keilahiyahan merupakan visi ketuhanan. Yang mana, kita hanya menggantungkan semuanya hanya kepada Allah SWT. Menjadi pemimpin profetik HANYA KARENA ALLAH. Mengapa visi keilahiyahan ini menjadi sangat penting? Karena tanpa visi keilahiyahan, kita akan menajdi pribadi yang mudah sekali kecewa, mudah stress, mudah gelisah, dll. Karena kita masih saja berharap dan menggantungkan segala sesuatunya kepada tuhan-tuhan yang kerdil, tuhan-tuhan selain Allah.
Raga kita boleh kecil. Tetapi visi kita harus besar. Apa? ALLAH. Ya, tujuan kita tidak lain dan tidak bukan hanyalah Allah swt. Dengan visi yang besar inilah kemudian kita akan berani bermimpi besar, berani beprestasi besar, berani berkarya besar. Karena apa? Karena kita yakin bahwa bersama Allah yang Maha Besar, segala sesuatunya menjadi mungkin. Dengan memiliki visi yang besar, maka kita harus bisa meledakkan potensi diri yang kita miliki. Bohong kalau kita bilang bahwa kita tidak bisa memaksa diri kita sendiri. Kuncinya hanya satu, yaitu : MAU. Dengan kemauan yang kuat, kita akan bisa meledakkan potensi yang ada dalam diri kita. Tetapi ketika kemauan itu tak lagi ada, maka kembalilah kita menjadi kurcaci-kurcaci kecil yang tidak berdaya.
Namun, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian, yakni visi keilahiyyahan tidak dapat didapatkan begitu saja. Melainkan harus dipaksa, salah satunya dengan cara memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah dengan cara qiyamul lail, terus menerus memperbaiki diri, dan sebagainya. Ketika qiyamul lail inilah kesempatan bagi kita untuk mengadukan segalanya kepada Allah. Seorang pemimpin profetik tidak mengadukan segala sesuatunya kepada tuhan-tuhan yang kecil, tetapi mengadukannya kepada Allah, Tuhan yang Maha besar. Sehingga, nantinya kepemimpinan profetik akan memiliki bangunan yang kokoh, karena berlandaskan atas niat untuk Allah semata. Sekali lagi, lakukan semuanya bersama Allah, maka semuanya adalah mungkin dan itu bisa menjadi sebuah hal yang sangat luar biasa.