my graduation

my graduation

Selasa, 26 Juli 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 4 : Kami, Saudara sampai Surga

26 Juli 2016



Selamat malam, Pembaca J
Pernah melewatkan momen yang sangat ajaib dalam waktu kurang dari 5 menit? Kalau pernah, akupun juga dan itu baru saja terjadi, dua hari yang lalu.

Kalian harus tahu, cerita ini sangat panjang. Dan dalam perjalanan sepanjang cerita ini, sejujurnya sangat melelahkan. Tapi sungguh, lelah atas hal yang bermanfaat itu, lebih dari indah.

Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.00 WIB, Kami—peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 sudah bersiap di depan GSP (Graha Sabha Pramana) dengan seragam merah putih (Laki-laki menggunakan kaos putih, dan perempuan menggunakan kaos merah) Kami mewarnai pagi hari dengan semangat kekeluargaan yang luar biasa. Sayang sekali aku tidak sempat mengabadikan momen kekeluargaan tersebut. Momen saat semua peserta laki-laki memutuskan untuk bersama-sama push up karena salah seorang peserta ada yang terlambat. Meskipun menurut sebagian orang hal itu biasa saja, tapi bagiku, itu merupakan salah satu momen yang so sweet.

Kelompokku :D
Kami melakukan banyak hal setelah itu. Pemanasan, games, dan petualangan. Petualangan kami terbagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama, kami diminta untuk bisa memindahkan karpet ajaib. Setiap kelompok yang rata-rata terdiri atas 10 orang, harus menaiki karpet berukuran 1x1 meter dan memindahkan orang serta karpet tersebut ke seberang dengan syarat tidak boleh ada anggota yang keluar dari karpet tersebut. Setelah berkali-kali mencoba dengan berbagai macam cara, belum ada satupun dari kami yang berhasil. Akhirnya, dua orang dari peserta laki-laki mengajukan penawaran. Penawaran yang pada akhirnya lagi-lagi menjadi momen so sweet (menurutku) Jadi, pada akhirnya kami menyusun karpet-karpet tersebut menjadi sebuah jembatan. Lalu kami ber-60 satu persatu melompati karpet-karpet tersebut dan pindah ke seberang. Yang ada dipikiranku saat itu adalah, kami ini keluarga. Tidak ada yang sukses sendirian. Kalau satu sukses, semua juga harus sukses. Dan lagi-lagi, meskipun pihak pengurus hendak memberi hukuman untuk kedua peserta yang mengajukan penawaran tadi, kami serentak mengatakan bahwa kami menolak keputusan tersebut. Kami mengajukan usul agar hukumannya ditanggung semua peserta, bersama-sama.

Tahap kedua, setiap satu kelompok diberi petunjuk untuk menemukan sesuatu. Petunjuknya gamblang sekali. Sampai-sampai kelompokku nyasar. Tapi, ada pelajaran besar di tahap kedua ini. Karena nyasar, otomatis kelompokku harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk bisa menemukan hal yang sudah diterangkan pada petunjuk sebelumnya. Bahkan kami sempat istirahat untuk makan bekal dan berbincang sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Tapi, ada hal yang aku pelajari di sini, yakni jalan menuju kesuksesan itu banyak. Meskipun tujuannya satu, tapi setiap orang bisa saja memiliki cara yang berbeda-beda untuk meraihnya. Pun dengan konsekuensinya masing-masing. Kelompokku memang pada akhirnya harus berjalan lebih jauh dan sampai lebih akhir dibanding dengan kelompok yang bahkan berangkat setelah kami. Tapi justru karena itu, kami bisa menemukan banyak hal. Salah satunya, tanpa disadari sepanjang perjalanan kami telah melakukan safari masjid.
Di masjid Syuhada, tahap 2

Tahap ketiga, lagi-lagi kami diberi petunjuk untuk menemukan sesuatu. Tapi kali ini, petunjuknya sangat jelas, dan kami bisa langsung menebaknya dimana sesuatu itu harus kami temukan. Awalnya, aku dan kelompokku ingin menggunakan Trans Jogja untuk bisa menuju lokasi tersebut. Akan tetapi, dengan berbagai macam pertimbangan, kami memutuskan untuk tetap jalan saja, dengan terus berkata “Tenang, dekat kok.” Dalam perjalanan tahap ketiga ini, aku mempelajari beberapa hal. Pertama, pentingnya tujuan. Apa yang membuat kami terus menerus berjalan padahal kaki rasanya sudah hampir patah? Tujuan. Kami punya tujuan yang harus kami capai. Tidak jarang di sela-sela perjalanan terdengar celetukan (termasuk aku) “Keren ya, bisa jalan sejauh ini. Kayaknya selama di Jogja belum pernah deh jalan sejauh ini.” Akupun berfikir demikian. Bagaimana bisa? Kami tidak berhenti meski sekedar untuk duduk atau merenggangkan kaki. Kami terus menerus berjalan, hingga tanpa terasa sudah menempuh lebih dari 6 km. Kedua, kebersamaan. Kalau ada pepatah yang mengatakan, If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together, maka itu benar. Dengan berjalan bersama-sama sembari berbincang ini itu yang seakan tidak ada habisnya, kami ringan saja berjalan meski sebetulnya lelah sudah kaki ini untuk menopang. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Masih kuat?” dari pemimpin kelompok atau anggota yang lain membuat kami sadar, kami ini sedang berjuang bersama-sama. Berjuang untuk mencapai sebuah tujuan yang besar. Ketiga, rasa syukur. Dengan perjalanan panjang yang amat jauh dan melelahkan tersebut, kami jadi sadar. Betapa tidak bersyukurnya kami bila masih saja terus mengeluh di era yang sudah serba modern ini. Kami tidak perlu capek-capek menuntut ilmu ke kampus karena bisa menggunakan kendaraan bermotor atau sepeda. Bandingkan dengan generasi di masa orang tua kami bersekolah? Mereka harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki, setiap hari. Pulang dan pergi. Lalu, bagaimana bisa kami masih saja mengeluh dengan segala kemudahan ini? Ampuni kami yang masih sering khilaf ini, Ya Allah.

Sampai di lokasi tahap tiga, kami diminta untuk melakukan kegiatan sosial. Kelompokku memilih untuk membuat permainan masa dulu, yakni engklek. Lalu kami mengajak anak-anak yang ada di sekitar lokasi tersebut untuk bergabung bersama kami. Masa kanak-kanak memang indah sekali. Aku memperhatikan bagaimana mereka tertawa lepas dengan ekspresi wajah bahagia yang sebenar-benarnya. Ada satu sosok juga yang kuperhatikan ketika anak-anak tersebut asyik bermain bersama kami. Sosok yang ikut tertawa senang ketika anak-anak itu juga tertawa—meski tampaknya ia lelah. Ya, kami semua pun lelah. Tapi bermain dan tertawa bersama anak-anak selalu menjadi momen yang indah.
melakukan kegiatan sosial di Taman Pintar, tahap 3
Lalu, mana 5 menit yang penuh keajaiban itu? Sudah kukatan di awal bahwa cerita ini akan sangat panjang sekali bukan? Jadi, tunggu saja.

Seusai tahap tiga, kami lagi-lagi diberi petunjuk untuk pergi ke sebuah tempat. Dan lagi-lagi, kami berjalan kaki. Rupanya, kami diarahkan menuju masjid untuk sholat dan istirahat sebentar. Tak lama setelah itu, kami diarahkan untuk makan bersama. Makan bersama kami cukup unik. Karena kami harus menemukan harta karun di dalam nasi yang kami makan. Dan kelompokku, mendapatkan 11 harta karun tersebut.

Seusai makan, kami pikir semua telah selesai. Tapi ternyata, justru inilah waktu yang paling inti dari sekian panjang perjalanan kami hari ini.

Diawali dengan membuka harta karun yang telah kami dapatkan saat makan siang tadi. Rupanya, harta karun tersebut berisi nama teman yang akan menjadi teman kamar masing-masing dari kami hingga satu semeseter ke depan. Setelah itu, kami diperintahkan untuk duduk melingkar ber-60. Kemudian salah satu kakak alumni RK angkatan 7, mas Muhammad Retas Aqabah Amjad memberikan sepatah dua patah kata. Beliau memberikan kami nasehat mengenai persaudaraan. Menasehati kami bagaimana seharusnya persaudaraan karena Allah itu. Mengingatkan kami bagaimana kaum Anshar yang bahkan rela menceraikan istrinya untuk kemudian dinikahkan dengan saudaranya, kaum Muhajirin. Memberikan kami wejangan bahwa yang dinamakan saudara itu tidak hanya sebatas mengenal nama dan asal, tapi tahu dan mengerti sampai ke dalam-dalamnya. Siapa orang tuanya, bagaimana keluarganya, apa mimpi dan cita-citanya, apa yang ia suka dan tidak suka, dan sebagainya. Satu kalimat beliau yang kuingat, “Sekarang masih ya ya ya ya aja gampang. Nanti ga lama lupa, terus ada saudaranya kesusahan, bukannya bantuin, malah ilang gatau kemana. Apa itu yang namanya persaudaraan?” Terima kasih mas Retas atas nasehatnya. Tolong ingatkan kalau kami khilaf.

Setelah mas Retas memberi sepatah dua patah kata nasehat, kami ber-60 dipersilahkan untuk membuat mimpi besar bersama selama di RK. Mimpi bersama. Bukan mimpi sebagian orang. Tentu tidak mudah kiranya. Hingga akhirnya kami menemukan mimpi besar kami dan menuliskannya di atas kaos putih, kemudian menandatangani kaos tersebut satu-persatu.

Setelah itu, ada lagi satu almumni RK, yakni mba Juhainah Intan Maharani yang memberikan nasehat. Beliau membahas mengenai keterbatasan. Ya, semua orang memiliki keterbatasan. Tapi bukan keterbatasan itu yang seharusnya menjadi fokus utama. Fokusnya adalah bagaimana kita bisa melampaui keterbatasan kita tersebut. Satu kalimat yang kuingat, “Kalau yang buat tugu itu ga melampaui batas, ga akan ada tugu yang fenomenal seperti sekarang. Kalau Sukarno, Hatta, dan para pemuda ga melampaui keterbatasan, ga akan merdeka ini Indonesia.” “Kita ini sudah diberi banyak sekali kelebihan dan kekuatan oleh Allah. Maksimalkan. Lampaui keterbatasan itu.” Tambah beliau.
Kami semua diam. Meresapi dan memaknai baik-baik setiap kata yang mba Intan nasehatkan. 

Setelah itu, mas Hamdan selaku supervisor kami  ganti mengambil alih. Tanpa diduga, mas Hamdan menyebutkan sebuah nama. Tak lama kemudian kami tau, bahwa peserta yang tadi namanya disebutkan, tidak mengikuti kegiatan apel perdana tempo hari, karena khilaf. Kemudian mas Hamdan meminta peserta tersebut untuk meminta maaf pada kami—seluruh peserta yang lain. Namun ternyata, tidak hanya berhenti sampai di situ saja.

Tidak ada 5 menit pembaca. Aku tidak menghitung berapa waktu yang tercatat atas momen penuh hikmah ini. Mas Hamdan memerintahkan seluruh peserta laki-laki untuk mengambil posisi push up, dan yang perempuan posisi squat jump. Bahkan mas Hamdan sendiri dan pembina kami, Bapak Chandra ikut mengambil posisi push up. Dan.. peserta yang tidak hadir dalam apel perdana karena khilaf tadi diminta untuk menghitung. Sepuluh hitungan pertama, mataku mulai berkaca-kaca. Bukan, bukan karena kakiku yang rasanya sudah mau patah tetapi masih diminta squat jump, sungguh bukan. Aku hanya tidak tahu apa yang akan terjadi bila aku berada di posisinya. Sungguh betapa berharga dan indahnya persaudaraan itu. Bahkan sampai sekarang kalau mengingat momen itu, aku masih suka bergetar. Dan tidak hanya sepuluh, Pembaca. Dua puluh hitungan. Yang ada dipikiranku saat itu hanya, “Ya Allah, bagaimana bisa suatu saat aku membiarkan saudaraku ikut menanggung rasa sakit yang disebabkan atas kekhilafanku?” dan diantara hitungan sebelas hingga dua puluh, kulihat mata peserta yang tidak hadir dalam apel perdana itupun berkaca-kaca. Akhirnya hari itu, ditutup dengan kalimat mas Hamdan yang sangat menyentuh. “Inilah salah satu bentuk kekeluargaan. Kalau ada yang tidak ikut agenda dan tanpa izin, yang rugi juga kalian. Kalau kalian tidak bertanggung jawab atas saudara kalian, maka kalian semua juga akan merasakan sakit.”

Kakak-kakak Alumni RK
5 menit yang berharga. 5 menit yang membuat mata kami berkaca-kaca. 5 menit yang membuat kami benar-benar sadar bahwa ke depan, kehidupan akan jauh lebih sulit. Namun persaudaraan inilah yang nantinya akan menguatkan.

Srikandi dan Nakula 8, mari saling mengingatkan di kala khilaf. Semoga Allah senantiasa menguatkan dan memberkahi perjuangan kami. Kami, Saudara sampai Surga.


Sabtu, 23 Juli 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 3 : Setiap Detiknya adalah Nasehat

23 Juli 2016

Selamat malam, Pembaca :D
Sebetulnya, aku lelah sekali malam ini. Rasanya langsung ingin istirahat dan tidur saja. Tapi aku teringat salah satu kalimat penutup yang diucapkan oleh salah seorang alumni Rumah Kepemimpinan angkatan 5, yakni mas Ridwan Wicaksono. Beliau berkata, “Ada sebuah nasehat yang  terus menerus saya ingat. Kita adalah keturunan pejuang. Pejuang tidak kenal lelah dan menyerah.” Sehingga, aku memutuskan untuk langsung menuliskan kegiatan hari ini, malam ini juga.

Tepat pukul 13.00 WIB, kami—peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 beserta pengurus melakukan apel perdana. Diawali dengan latihan singkat satu kali, kemudian langsung apel yang sesungguhnya. Di saat apel inilah penyakitku, sembuh.
Penyakit? Ya. Beberapa hari yang lalu entah mengapa aku merasa sangat tidak bersemangat. Tidak nafsu makan, inginnya hanya tidur saja. Bahkan sampai tadi sebelum apel, aku masih sedikit aras-arasen. Hingga pada akhirnya apel berlangsung dan pembina apel kami—Bapak Chandra Nur Triwiyanto, memberikan nasehat yang begitu luar biasanya menggetarkan hati. Tidak semuanya akan kutulis, hanya beberapa saja.

Pertama, beliau membahas mengenai keberadaan kami di barisan apel perdana siang itu. Kata beliau, Apakah keberadaan kalian di sini adalah sebuah kebetulan? Tentu tidak. Kemudian beliau bertanya siapa diantara kami yang seharusnya baru kuliah tahun depan atau dalam artian akselerasi. Kemudian salah satu dari kami mengangkat tangan. Lalu beliau bertanya lagi, kalau kamu baru kuliah tahun depan, mungkin tidak sekarang ada di sini? mungkin tidak bisa bergabung dengan RK angkatan 8?” “Semua itu sudah kehendak, Allah rekan-rekan. Allah telah menghendaki kalian sebagai manusia yang dipilih untuk bisa berada di sini.” Tambah beliau.

Kedua, beliau membahas mengenai amanah kami di RK. Mengingatkan kami betapa sudah begitu sulit dan panjangnya tahapan hingga kami bisa berada di dalam barisan apel perdana kali ini. Mengingatkan kami bahwa kami tidak hanya mewakili diri sendiri, tetapi mewakili puluhan ribu mahasiswa UGM lainnya. Mengingatkan kami bahwa pertanggung jawaban atas amanah ini begitu besar. Mengingatkan dan menegaskan kami bahwa semua ini tidak main-main. Satu kalimat beliau yang terus terngiang, “Jika kalian menyia-nyiakan keberadaan kalian di RK, maka kalian telah dzolim. Dzolim.” Dan sekujur tubuhku merinding. Allah, lalu bagaimana bisa kami terhindar dari mendzolimi puluhan ribu mahasiswa Gadjah Mada lainnya selain karena kekuatan dari-Mu? Berilah kami kekuatan untuk mengemban amanah besar ini, ya Allah.

Ketiga, beliau membahas mengenai tujuan kami di RK. Beliau menekankan sekali bahwa kami ini adalah keluarga. Satu bahagia, semua bahagia. Pun ketika satu sakit dan sedih, semua turut merasakan sakit dan sedih tersebut. “RK bukan tempat untuk menonjol-nonjolkan diri. Satu menonjol, semuanya menonjol. Satu menonjol sekali sedang yang satu masih sangat tertatih-tatih, buat apa? Yang satu sudah melanglang buana ke luar negri sedangkan ada yang bahasa Inggrisnya saja  masih belum baik, bagaimana? Ya ajarin! Kita semua ini saudara, rekan-rekan. Kita bahkan tidak hanya saudara di dunia. Kita juga senantiasa berdoa agar bisa dijadikan saudara sampai surga. Jannatul Firdaus, khoolidiina fiiha, abada..



Dan kalian harus tahu. Hujan turun mengguyur kami. Meski tidak deras, tapi itu cukupmembuat suasana apel menjadi semakin syahdu. Seakan alam ikut merasakan hikmatnya nasehat yang luar bisa dari pembina apel kami. Semoga hujan tadi pertanda keberkahan bagi kami, ya Allah. Aamiin..

Setelah apel, kami melanjutkan kegiatan, yakni latihan baris berbaris. Setelah itu kami istirahat untuk sholat ashar. Alhamdulillah, moodku sudah bagus sekali sore itu. Seperti handphone, baterai energi jiwa dan ragaku sudah penuh kembali. Aku banyak bercengkrama dan bercerita dengan teman-temanku, mengingat betul bahwa ke depan mereka akan menjadi keluarga perjuanganku.

Sekitar pukul 15.30, acara dilanjutkan kembali, yakni bertemu dan berkenalan lebih dekat dengan alumni. Ada beberapa alumni RK yang hadir. Tapi yang akan kubahas di sini hanya dua.

Pertama. Mas Aditya Ariandi. Pertama kali datang, aku langsung memasang muka heran. Sepertinya aku pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya. Aku mencoba mengingat-ingat pernah bertemu dengan mas ini dimana. Adit, Adit, Adit, dimana ya aku pernah kenal dengan nama itu? Ah, akhirnya aku ingat. Aku pernah mewawancarai mas Adit dalam acara marine local product. Luar biasa ya? Sungguh begitu banyak kejadian  yang tak terduga di dunia ini. Aku jadi ingat bagaimana dulu ketika akan meliput acara marine local product tersebut. Sempat takut dan minder karena pembicaranya adalah profesor dari luar negri. Bayangkan kalau pada akhirnya aku tidak jadi meliput acara tersebut? Tentu aku tidak akan bertemu dan mewawancarai mas Adit yang pada saat itu berperan sebagai ketua panitia acara. Skenario Allah indah sekali ya? Oh ya, kalau mas Wicak punya nasehat penutup yang indah, mas Adit punya nasehat penutup yang simple dan sangat bermakna. Ada 4 kata, yakni objektif, moderat, open mind, dan rendah hati. “Gausah pake-pake identitas jaket RK kalo cuma buat gaya, buat keren-kerenan. Biar dibilang wiii anak RK anak RK. Kayak gitu tu ga ada gunanya.”

Kedua. Mas Ridwan Wicaksono. Aku juga sudah bertemu dengan beliau sebelumnya. Ya, beliau adalah salah satu pengujiku saat tes RK tahap 3. Sejak tes tahap3 itu saja, aku sudah kagum sekali dengan beliau. Bagaimana tidak? Desktop laptopnya penuh dengan sticky notes. Berbagai macam agenda dan kegiatan ada di sana. Meskipun tidak terlalu kelihatan, tapi aku yakin semua sticky notes itu berisi agenda dan proyek-proyek besar. Dalam sesi pertemuan alumni ini beliau berpesan, semua kembali pada pribadi kita sendiri-sendiri. “Kelak nanti kalian akan belajar bagaimana menentukan prioritas. Mengorbankan sesuatu yang penting untuk sesuatu yang jauh lebih penting. Dan, itu memang sulit sekali.”



Hmmm. Sebetulnya setiap detik adalah nasehat, Pembaca. Dari awal hingga akhir kegiatan hari ini, ada begitu baaaanyak nasehat yang disampaikan baik dari pengurus maupun alumni. Semua nasehatnya menggetarkan jiwa, membakar semangat perjuangan, dan mengobati hati-hati kami yang lelah. Kalau boleh bilang, hari ini melelahkan. Tapi sungguh semua ini belum ada apa-apanya. Kelak dikemudian hari, akan ada lebih banyak hal yang menyakitkan namun membawa kepada kebijaksanaan dan kekuatan hati.
Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini
Selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami
Menguasai perasaan kami
Memeras habis air mata kami
Dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami
Itu merupakan penggalan idealisme kami dalam Rumah Kepemimpinan. Doakan aku semoga senantiasa diberi kekuatan oleh Allah selama mengemban amanah ini ya, Pembaca. Pun begitu juga untuk semua teman-temen seperjuanganku.

“Yang tidak akan kalian temukan di RK adalah istirahat.”

Minggu, 17 Juli 2016

2 Nasehat dari 2 Guru Hebat


Malam ini aku menemukan 2 nasehat dari 2 guru hebat.

Pertama, nasehat dari Ustad Arif Rifa'i.
Nasehat ini beliau berikan padaku ketika tanpa rasa malu air mataku tumpah ruah di kursi belakang beliau, saat kami melakukan perjalanan out bond ke pantai Anyer, Pacitan. Saat rasanya hatiku tak kuat lagi menahan beban, ketika ditakdirkan menjadi anak pimpinan pondok. Cemoohan, pandangan sinis, dan segala kasak-kusuk yang kukira akan segera selesai, rupanya justru menemani hingga 6 tahun masa perjuanganku. Membuat tangisku pecah diantara deru kran air kamar mandi, menjadikan bantalku basah dalam mimpi-mimpi panjang malam hari, sampai harus mengikhlaskan tembok dan titian anak tangga menjadi saksi, aku pernah berjuang 6 tahun, sebagai anak yang tidak biasa.

Dear Rosyda.. pelita yang hampir redup karena kabut..

Terkadang ada manusia yang diciptakan Allah untuk dipilih memikul beban lebih dari yang lain..
Ketika saat itu tiba.. ingatlah bahwa Allah tidak akan memebebani hamba-Nya melebihi kemampuannya..
Walaupun beban itu tidak dia inginkan...tapi Allah Maha Mengetahui, siapa yang Dia pilih..

Terkadang ada manusia yang berkeinginan menjadi manusia biasa, anak biasa..
Ketika saat itu tiba, ingatlah bahwa Allah telah menciptakan berbagai macam karakter unik.. tidak ada yang sama.
Walaupun berusaha sekuat tenaga, tetap saja begitulah dia.
Pelita di siang hari tiada guna.. dia dibutuhkan pada malam gulita.

Begitulah diri kita.. Jadilah orang yang berguna sekalipun saat tertentu saja.. Jangan sama sekali..

Kamu adalah pelita.. Hilangkan kabut itu, bersinarlah..


Surakarta, 2011
Terima kasih Ustad. Sudah membantu saya memahami bagaimana melewati hari sebagai anak yang tidak biasa.

*****

Kedua, nasehat dari Ustad Kirbani.
Nasehat yang beliau berikan padaku - seorang murid yang tidak tahu malu dan selalu mengganggu tanpa kenal waktu. Nasehat yang beliau berikan ketika aku sudah sangat lelah menghadapi berbagai macam pertanyaan mengenai penundaan kuliahku. Nasehat yang pada akhirnya membuatku paham dan mengerti bahwa setiap kejadian memiliki pelajaran yang luar biasa di dalamnya. Tidak peduli apakah kita akan tahu dan menyadarinya dalam waktu cepat atau lambat, pelajaran kehidupan dari setiap kejadian itu pasti ada.
 
Ros..
Saat ini kamu sudah menjalani sebuah buku baru..
Bukan hanya lembaran baru..
Lupakan sejenak prestasi2 kamu yg dulu Ros..
Karena hal itu hanya akan menjadi beban dan membuat serasa tidak berguna..
Mulai kembali dari Nol..
Isi lembaran demi lembaran buku baru kita dengan hal yang baru juga..
Cerita yang lalu, akan menjadi modal kita menuliskan sebuah cerita yang baru..
Allah benar-benar sutradara yang paling pintar yang membuatkan cerita yang terindah untuk umat-Nya.
Kita tidak tahu Ros, ada hikmah apa dibalik tertundanya kuliah kamu..

Jadi, hadapi setiap tahapan yang dibuatkan Allah dengan sabar ya..
Allah sedang ingin menunjukkan betapa kuat dan hebatnya kamu.
Yakinlah, ending cerita kamu nanti super indah.
Untuk kamu, untuk orang-orang yang kamu sayangi juga..


Surakarta, 2014
Terima kasih, Ustad. Sudah membantu saya memahami bagaimana melewati hari sebagai anak yang tanpa diduga harus menunda kuliahnya satu tahun.