my graduation

my graduation

Selasa, 23 Agustus 2016

Apakah Bapak Sudah Makan?

21 Agustus 2016


Selamat pagi, pembaca. Alhamdulillah sudah lumayan membaik nih meski masih batuk-batuk. Hehe. Sepulang dari Jakarta aku dan beberapa teman seasrama pada sakit, jadi kurang produktif untuk menulis. Maafkan ya, Pembaca.

Pagi ini aku akan menuliskan sebuah kisah yang sangat sederhana. Kejadiannya di malam hari, hanya di sebuah pertigaan yang tidak jauh dengan asramaku. Penasaran? Yuk baca :D
oh ya untuk fotonya menyusul ya. Hehe.


Jadi, malam itu, aku lagi-lagi bingung hendak makan apa. Di dekat asramaku tidak ada model warung makan prasmanan—yang biasanya ada menu sayurnya. Di dekat asramaku yang banyak ada adalah warung makan penyetan, burjo, dan kalau malam hari biasanya penjual nasi goreng. Sebetulnya ada warung makan model prasmanan, tapi letaknya agak jauh dari asramaku, dan karena saat itu sudah malam—menjelang isya, jadi aku pikir pasti warung tersebut sudah tutup karena makanan dan sayurnya sudah banyak yang habis. Akhirnya setelah menimbang-nimbang akan makan apa, aku memutuskan untuk membeli tempe penyet saja di ujung pertigaan dekat asramaku. Kalian harus tahu, pertigaan itu meski sempit, tapi ramai sekali. Sangat ramai. Aku sampai tak habis pikir. Sepertinya seluruh sudut kota Jogja itu ramai ya?

Sampai akhirnya aku memusatkan perhatianku pada satu sosok. Sosok yang berseragam semacam polisi, tapi bukan. Membawa tongkat merah menyala, seperti yang juga biasa dibawa seorang polisi. Aku tidak tahu kalian menyebutnya sebagai apa, tapi yang aku tahu keluargaku biasanya menyebut petugas yang mengatur jalan seperti itu dengan sebutan Pak Ogah. Entah bagaimana sejarahnya, aku juga kurang tahu.

Suara peluit yang ditiup pak Ogah di tengah pertigaan itu sedari tadi tak berhenti. Terus menerus berbunyi karena memang kendaraan yang lewat tak kunjung habis. Tangannya terus menerus melambaikan ke sana kemari mengatur jalanan yang entah mengapa malam itu ramai sekali. Lalu tiba-tiba senyumku mengembang ketika melihat sebuah mobil pick up yang menyebrang memberikan selembar uang kepada Pak Ogah tersebut.

Aku tidak tahu, apakah orang-orang seperti Pak Ogah itu bekerja secara cuma-cuma atau memang dibayar. Kalau memang dibayar, itu bagus. Tapi kalau cuma-cuma? Ah, aku terenyuh. Kemudian aku ingat bagaimana ayahku selalu memberi uang kepada petugas jalanan macam Pak Ogah tersebut. Kata ayahku, mereka sudah sangat baik sekali membantu kita mencari jalan. Mereka akan senang sekali kalau kita memeberi uang, meski tak banyak. Terlepas dari pengetauanku mengenai bagaimana sistem pembayaran bagi pekerja seperti Pak Ogah, aku sangat terharu melihat kejadian pemberian uang tadi.

Aku jadi berfikir. Kalau betul Pak Ogah bekerja secara cuma-cuma, atau katakanlah dibayar tapi tidak seberapa, lalu aku ini kurang apa? Sambil duduk menunggu pesanan, aku terus menerus mengamati. Sungguh tidak berhenti gerakan tangannya barang sedetikpun. Apakah bapak itu sudah makan? Apakah hingga larut malam nanti bapak itu akan terus tetap di situ? Bagaimana dengan keluarganya? Aku terus menerus mengajukan pertanyaan seperti itu dan akhirnya membuatku lagi-lagi belajar.

Beberapa hari yang lalu, adalah hari yang cukup melelahkan. Entahlah. Mungkin karena posisiku juga sedang sakit, segala kegiatan menjadi terasa berat. Tapi malam ini, aku disadarakan oleh seorang bapak petugas jalanan yang tidak berhenti kesana kemari mengatur jalanan. Hingga malam hari. Dengan meniup peluit, dengan melambai-lambaikan tongkatnya yang merah menyala. Aku tidak harus seperti itu bukan untuk bisa hidup? Aku tidak harus terus menerus meniup peluit, aku tidak harus berdiri dan berjalan kesana kemari, aku tidak harus melambai-lambaikan tongkat seperti itu bukan? Tidak. Aku beruntung sekali sudah bisa mengendarai motor jika ke kampus, aku bisa membeli makan meski juga seadanya. Aku bisa makan sebelum larut, aku bisa tidur dengan enak di asrama. Sedangkan Bapak itu? Apakah sudah makan? Kapan ia akan tidur kalau jalanan akan terus ramai hingga larut malam nanti? Ah, tiba-tiba aku jadi rindu berjalan kaki.
Aku termasuk salah satu orang yang sangat cinta dengan jalan kaki. Mengapa? Karena dengan berjalan kaki, aku akan lebih banyak mengamati sekitar. Melihat hal-hal kecil yang biasanya justru membawa hikmah dan pelajaran besar. Kalau naik motor, aku sangat jarang melihat sekitar karena fokus berkendara dan melihat ke depan. Mungkin untuk weekend, aku kan lebih banyak berjalan kaki dan mengeksplor daerah di sekitarku.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil? Yah, lagi-lagi tentang perjuangan, sabar, dan syukur. Kalau kata Bapak Sandiaga Uno, kunci hidup ya hanya 2S. Sabar dan Syukur. Allah sudah sangat baik dengan sering memberi kita kode melalui hal-hal kecil di sekitar kita. Tapi, kitanya saja yang sering tidak peka. Semoga ke depan, kita bisa sama-sama lebih peka terhadap kode Allah ya J


Seringkali, hal-hal kecil di sekitar kitalah yang justru memberikan banyak hikmah dan pelajaran.

salam #MudaMenginspirasi !

Selasa, 09 Agustus 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan Spesial NLC 2016 (Part 1) : Hujan dan UI Menjadi Saksi

Sumber : Muthia
Semangat pagi, Pembaca :D
Karena kemaren sudah diawali dengan kisah semangkuk nasi kecap, sekarang saatnya berbagi keseruan selama NLC 2016 :D

Cerita ini nantinya akan sangat panjang. Karena agenda NLC 2016 ini terselenggara selama seminggu, dari pagi-sore dengan berbagai macam kegiatan yang tidak ada hentinya. Jadi, bisa bayangkan akan sepanjang apa cerita ini nanti? Simak saja lah. Haha

Sore hari Senin 1 Agustus 2016, Kami—aku dan teman-teman regional 3 Yogyakarta bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Kami berkumpul di asrama Srikandi dan menyimak nesehat eyang sebelum benar-benar meninggalkan kota Istimewa ini. Tepat pukul 5 sore, akhirnya kami berangkat.
Aku tidak akan terlalu detail menceritakan setiap detik yang kami lewati. Hanya beberapa poin yang kurasa waw dan perlu untuk kuceritakan. Dan pada bagian 1 ini aku akan menceritakan tentang bagaimana hujan dan UI menjadi saksi atas hangatnya persaudaraan Nakula dan Srikandi.

Siang itu, kami berencana untuk mengadakan latihan Haflah (semacam pentas seni) sekali lagi, sebelum kami semua benar-benar disibukkan dengan agenda NLC yang begitu padat. Akhirnya, tepat setelah sholat ashar, kami berangkat bersama-sama menuju Universitas Indonesia untuk melaksanakan latihan haflah. Ada beberapa kendala selama perjalanan. Ya, kami tidak hafal jalan dan lokasi-lokasi fakultas yang ada di UI. Jadi kami sempat nyasar dan bolak-balik saat akan menuju tempat latihan kami, yakni taman Firdaus. Karena kejadian nyasar itulah, akhirnya kami baru bisa melaksanakan latihan pukul setengah 5 sore. Padahal, setelah maghrib kami sudah harus berkumpul di asrama kembali, guna mengikuti pembukaan NLC 2016.

sumber : Ridha
Oh ya, sebelum latihan, kami makan roti terlebih dahulu. Aku kurang tau roti itu dari siapa, yang jelas kami semua pada akhirnya justru tampak seperti orang-orang yang akan bertamasya. Duduk santai di atas rumput sambil makan roti. Aku mengamati wajah teman-temanku satu persatu. Bahagia sekali ya? Tanyaku dalam hati. Semoga hingga 22 bulan ke depan kami masih bisa terus seperti ini.
Setelah kenyang,kami bersiap untuk latihan. Saling membantu satu sama lain mulai dari memberi komentar dan masukan untuk para pemain, sampai membuat tulisan RK 8 diatas kain backdrop. Hingga tak terasa, tiba-tiba langit mendung. Dan rintik hujanpun turun satu-satu.

Mau tidak mau, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Dengan sedikit berlari, kami berdoa semoga hujannya tidak turun terlalu deras. Tapi Allah berkehendak lain. Beberapa meter sebelum tiba di halte bus, hujan turun begitu deras. Aku dengan susah payah berusaha berlari sekencang mungkin. Baju yang kubawa tidak banyak. Dan aku tidak memikirkan akan turun hujan selama di Jakarta. Tapi, mau bagaimana lagi. Bajuku tetap saja basah.

Sumber : Ridha
Sesampainya di halte, rupanya sudah banyak sekali orang di sana. Penuh. Akhirnya, aku hanya bisa berdiri di pinggir halte, sambil berusaha merapat ke tengah agar tak terkena hujan. Nah, di sinilah hangat persaudaraan itu ada. Salah seorang temanku yang ada di dalam halte, memintaku untuk gantian. Katanya, dia saja yang di pinggir, dan aku di dalam, agar tak terkena hujan. Aku tidak masalah sebetulnya terkena hujan. Bahkan kalau membawa baju lebih, aku akan senang sekali bisa hujan-hujanan. Tapi aku tau, kami ini saudara yang sudah seharusnya saling menjaga.

Tak lama, bis kuning yang kami tunggu pun tiba. Tapi, penuh. Dan di sinilah hangat persaudaraan itu terjadi lagi. Para akhwat dipersilahkan masuk dan pulang terlebih dahulu, dengan ditemani dua orang ikhwan. Namun karena memang sudah penuh, tidak semua dari kami naik ke dalam bis. Akhirnya beberapa dari kami menunggu kedatangan bis berikutnya. Dan ketika sudah datang, lagi-lagi para ikhwan mempersilahkan akhwat untuk masuk terlebih dahulu. Pun ketika sudah di dalam bis, mereka—para ikhwan memastikan bahwa semua akhwat sudah mendapatkan tempat duduk, sedang mereka sendiri berdiri. Yah, walaupun sepele, biasa, dan sederhana, aku merasa terharu. Kami ini saudara. Meski para akhwat adalah para perempuan tangguh, para ikhwan tetap saja memastikan bahwa kami mendapat tempat duduk. Aku mau saja berdiri. Tapi kami ini saudara. Sudah seharusnya saling menjaga satu sama lain.

Sudah selesai? Belum. Tiba di halte tempat kami harus turun, para ikhwan memastikan bahwa akhwat sudah semuanya turun dan tidak ada yang tertinggal. Kemudian kami harus melewati jembatan layang untuk bisa mencapai seberang. Di sinilah hangat persaudaraan itu terulang kembali. Kondisi jembatan layang yang sudah agak rusak, membuat beberapa dari akhwat agak ketakutan juga. Tapi kalian tau? Di beberapa pos di jembatan layang tersebut, ada ikhwan yang menjaga dan memastikan bahwa kami—para akhwat baik-baik saja. Bahkan ada bagian jembatan yang berlubang kecil yang dijaga oleh satu ikhwan, agar kami para akhwat tak melewati bagian tersebut. Hei, kalau siang hari dan kondisi baik-baik saja itu biasa. Tapi ini? Kami tengah diguyur hujan deras. Cuaca sudah gelap dan udara sekitar begitu dingin sedang kami harus segera tiba di asrama untuk persiapan acara selanjutnya. Tapi sungguh hangat persaudaraan dan kepedulian untuk saling menjaga satu sama lain ini membuatku terharu. Dan itu, belum usai.

Puncaknya adalah ketika kami sampai di gerbang asrama. Karena hujan turun begitu deras, kacamataku basah dan itu membuatku sulit untuk melihat. Aku tak tahu siapa yang berdiri di dekat gerbang itu. Aku tidak tahu sosok siapa yang dengan tulusnya menghitung satu persatu dari kami yang masuk sambil berlari melawan hujan. Aku hanya mendengar suaranya. Suara tulusnya yang memastikan bahwa kami semua ber-60 sudah tiba di asrama dengan selamat. Allah, lalu bagaimana caraku untuk bersyukur telah Kau beri saudara yang begitu tulusnya?

Lalu aku tersenyum penuh haru. Kami hidup bersama-sama. Menjalani 22 bulan yang pastinya tidak mudah. Penuh rintangan, kesulitan, luka, dan air mata. Tapi Allah dengan baiknya memberi kami saudara yang akan membersamai perjuangan ini sampai surga. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan, sungguh bersama tekad juang Rumah Kepemimpinan ada saudara yang senantiasa menjaga satu sama lain dengan tulus dan penuh kepedulian.

Sumber : Muthia
Nakula dan Srikandi 8, hujan dan UI menjadi saksi hangatnya persaudaaraan kita yang abadi. Sampai mati. Sampai di Surga nanti.


Baru saja berakhir

Hujan di sore ini

Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan

Dan tetap mengaguminya

Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Bersamamu kuhabiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan

Walau sedikit kemungkinan

Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Janganlah berganti

janganlah berganti

janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

janganlah berganti

janganlah berganti

Tetaplah seperti ini

Senin, 08 Agustus 2016

Semangkuk Nasi Kecap


Malam itu, aku akan pulang. Keramaian stasiun Pasar Senen tak menghalangiku untuk pergi berkeliling untuk sekedar mencari makan malam. Bersama Fadhil, aku berjalan-jalan sampai terlihat seperti orang konyol karena bolak-balik dan mengomel tidak jelas. Tapi, Allah lagi-lagi menegurku malam itu. Dalam balutan hujan yang hanya sekian menit, pelajaran Allah tersampaikan.

Aku cukup sulit untuk membeli makanan di tempat umum. Aku seringkali takut membeli makanan yang berbau atau sekedar mengandung daging. Apakah itu ayam, atau soto ayam, aku tetap tak yakin. Akhirnya daripada ragu, aku memutuskan untuk mencari makanan yang tidak mengandung daging sama sekali. Kami—aku dan Fadhil berjalan ke sana kemari mencoba mencari makanan yang cocok. Sebetulnya, Fadhil memang tak berniat makan nasi malam itu. Dia ingin makan roti. Yah, tapi karena di baik hati dan tidak sombong, dia dengan sabarnya menemaniku mencari makan*eaaa

Sampai akhirnya, aku melihat ada tahu dan tempe di tempat seorang Ibu yang di gerobaknya bertuliskan lele. Oh, rupanya tidak hanya jual lele saja. Buktinya, ada tahu dan tempe. Karena seketika aku yakin, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan memesan makanan untuk dibungkus.

Tak lama setelah aku memesan, hujan turun perlahan. Dan pelajaran kehidupan itu tersampaikan.
Ibu yang berjualan itu, memiliki anak. Laki-laki. Umurnya sekitar 4-5 tahun. Aku kurang tahu apa yang dilakukan anak itu di sana, tetapi ada saat dimana ia mondar-mandir dan seketika ibunya langsung menjewer dan memarahinya. Aku dan Fadhil sama-sama melihat keadaan itu. Hingga akhirnya Fadhil berkomentar bahwa beberapa anak  yang ia lihat selama kami berjalan mencari makan tadi, juga begitu. Dididik dengan kekerasan. Lalu aku tersadar. Oh, Allah. Ini sudah malam. Sudah pukul 9 lebih. Anak-anak seumurannya seharusnya sudah tidur lelap saat ini. Menikmati hangatnya kamar dan empuknya kasur busa. Tapi ia? Masih di sini, di pinggir jalan, dalam kondisi hujan dan gelap serta keramaian yang tiada habisnya.

Kemudian, anak tersebut mengambil mangkok. Diisinya dengan nasi sedikit demi sedikit. Mataku berkaca-kaca. Apa yang akan ia lakukan? Awalnya kukira ia hendak mengambilkan nasi untukku. Ah, ternyata ia hendak makan. Selesai mengambil nasi, ia meminta kecap pada ibunya. Seperti anak kecil pada umumnya, ia cerewet sekali ketika meminta kecap. Dan, ya, lagi-lagi ibunya membentaknya.  Setelah itu, ia duduk dan mulai memakan semangkuk nasi kecap tersebut. Aku menatapnya lekat-lekat. Kuelus kepalanya sambil tersenyum dan bertanya, “ga pake lauk?” dan anak itu hanya malu-malu menggeleng atas pertanyaanku. Oh, Allah. Terima kasih sudah menegurku lagi. Aku dan anak itu sama-sama kelaparan malam ini. Tapi aku sungguh tanpa malu mengeluh ini itu karena lelah, pusing, mengantuk, serta tak kunjung menemukan makanan yang pas. Sedangkan anak itu? Ia masih harus terbangun di malam yang dibalut hujan. Masih harus menyaksikan keramaian dan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Masih harus mengenyahkan rasa lapar hanya dengan semangkuk nasi kecap.

Sungguh lagi-lagi aku diajarkan tentang larangan mengeluh. Ya, aku tau aku lelah. NLC yang berlangsung selama seminggu cukup membuat sekujur badanku pegal-pegal. Perjalanan menuju stasiun malam itu juga cukup membuatku lebih banyak diam karena lapar dan lelah. Tapi, anak itu menjadi perantara pelajaran kehidupan yang Allah sampaikan padaku. Bahwa masih banyak orang-orang yang kondisinya jauh lebih sulit. Jauh lebih tidak enak. Sehingga, tidak semestinya aku mengeluh ini-itu.

Sembari menunggu pesananku, aku berkata dalam hati, Dek. Aku yakin, kelak kamu akan menjadi orang besar. Percayalah. Kemudian aku mengelus sekali lagi kepalanya sebelum aku benar-benar pergi dari sana. Dan, hujanpun berhenti. Menyisakan pelajaran kehidupan yang singkat diantara deru keramaian stasiun Pasar Senen malam hari.

Jakarta, 7 Agustus 2016