my graduation

my graduation

Senin, 24 Oktober 2016

Catatan rumah Kepemimpinan 7 : Jalan Juang menuju 25 Milyar


         Selamat sore, Pembaca (: Kali ini aku akan berbagi cerita tentang sosok yang keren banget, dijamin! Siapa? Yuk simak ceritanya (:
Siapa yang tidak tau warung SS (Spesial Sambal)? Warung makan dengan ciri khas sambalnya yang begitu beragam dan harganya yang murah itu, kini telah mencapai 76 cabang di 37 kota di Indonesia. Omzetnya pun hingga saat ini sudah mencapai 25 M perbulannya, masya Allah.. Lalu, apa sebetulnya yang menjadi rahasia warung SS hingga bisa menjadi sebesar sekarang? Dalam kajian tokoh di Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta malam itu, dihadirkan langsung owner Warung Spesial Sambal, yakni Bapak Yoyok Hery Wahyono. Beliau menyampaikan banyak hal seputar perjuangan beliau dari awal mendirikan SS hingga bisa menjadi sebesar sekarang.
Di awal pembicaraan, Pak Yoyok banyak menyampaikan tentang rasa syukur. Beliau mengatakan bahwa kekuatan bersyukur itu luar biasa. “Kepandaian bersyukurlah yang menyelamatkan hidup saya.” Tambahnya. Namun, yang namanya bersyukur memang tidak mudah. Bersyukur di sini tidak hanya ketika mendapat kenikmatan, tetapi juga ketika mendapat musibah dan ujian. Mungkin ketika mendapat nikmat, kita mudah saja bersyukur. Akan tetapi ketika kita diberi musibah dan ujian? Masih bisakah kita bersyukur sama mudahnya ketika diberi nikmat? Pak Yoyok menerangkan, bersyukur merupakan sebuah keyakinan. Yang mana menjaga keyakinan adalah seperti memegang bara api. Memang banyak sekali keyakinan itu, dan kita bebas mau memilih keyakinan apapun. Tetapi menjaganya itu yang sulit. Menjadi istiqomah itu yang tidak mudah. Bagaimana kemudian kita bisa terus menggenggam batu bara itu meskipun panas dan sakitnya tak terkira. Inilah kemudian yang menjadi penguat bagi Pak Yoyok. Beliau bercerita, pada awal-awal berdirinya warung makan SS, banyak sekali kendala yang dihadapi. Mulai dari lelah, hasil yang juga tidak seberapa, bahkan sampai rugi yang berkepanjangan. Namun, apa yang kemudian membuat Pak Yoyok tetap bertahan? Satu kata tadi. Bersyukur. Pak Yoyok mensyukuri setiap apa yang diberikan Allah kepadanya. Pak Yoyok meyakini bahwa rezeki tidak berada di tangan kita, tetapi di tangan Allah. Karenanya tugas kita adalah bekerja sebaik-baiknya, perkara hasil semua kembali kepada Allah. Selain itu, rupanya beliau juga menikmati proses panjang dan setiap kesulitan tersebut. Inilah yang kemudian disadari Pak Yoyok sebagai sebuah passion. Beliau bekerja dengan cinta. Sehingga tidak ada rasa kecewa ketika kegagalan dan berbagai kesulitan itu datang. 

Hingga kini, karyawan yang bekerja di warung SS telah mencapai kurang lebih 3600 orang. Dari sekian banyak karyawan tersebut, tentunya bukan tanpa masalah. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana mengelola karyawan sebanyak itu? Ternyata poin utamanya adalah menguatkan mentalitas personal. Pak Yoyok mengulangi kalimat tersebut sampai tiga kali. Mengapa? Karena untuk bisa bertahan, kekuatan mental setiap karyawannya terlebih dahululah yang harus dikuatkan. Baru setelah itu skill, sistem, dan sarana prasarana.
Satu hal lagi yang menarik, SS memiliki landasan spiritualitas. Apa itu? Keyakinan. Keyakinan yang akan tetap menguatkan mereka meski jatuh. Yang tetap akan bisa membuat mereka kembali bangkit meski terluka. Limbung tetapi tidak sampai jatuh, sakit tetapi tidak sampai mati. Keyakinan itu ada lima. Pertama, keyakinan terhadap adanya sebuah proses. SS sangat berorientasi pada kualitas proses. SS percaya bahwa bila proses yang dilakukan baik, maka hasilnya akan indah, baik, dan berkah. Keyakinan kedua, SS percaya bahwa angka-angka perolehan rejeki itu berada di luar kewenangan manusia. Ketiga, memilih jalan tentram dengan ukuran hati. Keempat, konsisten menjaga karakter dasar dan keyakinan. Kelima, mengetuk pintu langit.
Intinya, do the best, hasilnya serahkan kepada Allah. Karena berapapun hasil yang kita peroleh, kalau prosesnya baik, maka hasilnya akan indah. Salah satu bentuk proses yang baik adalah kejujuran. Bagi SS, kejujuran adalah harga mati. Tidak ada tempat bagi orang-orang yang tidak jujur berapapun sedikitnya, siapapun orangnya—kerabat dekat sekalipun. Nafas kekeluargaan, kerja professional.
Luar biasa bukan sedikit cerita mengenai warung SS ini? Ini belum seberapa. Penasaran lengkapnya? Tunggu buku mengenai profil SS dan seluk beluknya yang akan diterbitkan oleh Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta ya! Doakan semoga prosesnya lancar! Untuk SS, semoga semakin jaya dan sukses selalu dunia akhirat (:

Sabtu, 22 Oktober 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 6 : 2 Cerita Unik

Foto oleh : Resa Paksi

Selamat senja, Pembaca (: Kali ini aku mau berbagi sedikit mengenai cerita salah satu ustad yang mengisi kajian di Rumah Kepemimpinan beberapa waktu yang lalu. Tentu bukan cerita biasa, melainkan cerita yang kuanggap unik dan layak untuk dibagikan.

CERITA I
Cerita pertama, mengenai seorang dosen. Oh iya, aku lupa mengenalkan ya. Ustad yang mengisi kajian di Rumah Kepemimpinan beberapa hari lalu itu, bernama Ustad Deden. Jadi dulu saat masih kuliah, Ustad Deden pernah diajar oleh seorang dosen yang sangat disiplin. Hal itu membuat sebagian mahasiswa akhirnya menjadi kurang senang, melihat dosen tersebut juga sering sekali memberi tugas. Namun, ada sisi lain dari dosen tersebut yang tidak semua orang tahu. Ustad Deden bercerita, bahwa dosen beliau yang sangat disiplin tersebut jarang sekali datang ke kampus lebih dari pukul 06.30. Dosen beliau ini selalu datang pukul 06.00. Karena dosen tersebut memiliki kunci serep kantor maka beliau  bisa masuk kapan saja, tanpa perlu menunggu petugas. Tak hanya itu, begitu sampai di kantor, dosen tersebut segera menyapu ruangannya sendiri, jauh sebelum cleaning service yang membersihkannya. Setelah itu, beliau melaksanakan sholat dhuha. Waah, luar biasa sekali ya…

Lalu setelah melaksanakan sholat dhuha, dosen tersebut pasti memanggil salah satu mahasiswanya yang sudah datang untuk berdiskusi dengan beliau. Beliau akan mengeluarkan setumpuk buku, kemudian meminta salah satu mehasiswanya yang dipanggilnya tadi untuk membaca satu buku saja dari banyaknya tumpukan buku yang telah beliau keluarkan tadi. Jika sudah selasai dibaca, maka tugas selanjutnya adalah mahasiswa tersebut harus menjelaskan hasil dari apa yang telah dibacanya pada pekan depan. Luar biasa sekali bukan? Ah, tapi itu belum seberapa.

Suatu kali, Ustad Deden melihat dosen tersebut sedang memilah-milah buku anak di sebuah pameran. Namun, Ustad Deden hanya diam dan terus berfikir, untuk siapa buku-buku itu? Hingga pada keesokan harinya, ustad Deden dipanggil oleh dosen tersebut. Alangkah terkejutnya Ustad Deden ketika mendapati begitu banyak buku anak-anak  dalam dua kardus besar di ruangan dosen tersebut. Lalu tanpa basa-basi, dosen tersebut langsung memerintahkan Ustad Deden untuk memberikan kedua dus berisi buku itu ke dua SD di sebuah daerah. Setelah memberikan perintah, dosen tersebut berpesan, “Jangan katakan dari siapa buku-buku ini.” Masya Allah…

Seketika itu aku pun terhenyak. Seringkali kita menilai seseorang dari apa yang terlihat di luarnya saja. Kita tidak pernah tau bahwa ada banyak hal dari orang lain yang kita tidak tahu… Sehingga pesan ustad Deden adalah, marilah kita mencoba untuk bisa selalu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya dari satu sisi saja. Jangan serta merta tidak menyukai dosen hanya karena beliau galak, pelit nilai atau sering memberi tugas. Tapi, cobalah untuk melihat dosen tersebut dari sisi yang lain. Bisa jadi kita akan menemukan hal-hal menakjubkan yang sebelumnya kita tidak pernah tahu.

CERITA II
Cerita kedua, masih seputar kehidupan Ustad Deden, yakni ketika beliau menjadi santri. Beliau menceritakan, dulu saat masih menjadi santri, ada seorang Ustadz yang memiliki cara unik dalam memberikan pelajaran kepada santri-santrinya. Ustadz tersebut merupakan ustadz yang mengampu tahfidz. Jadi, setiap santri menyetorkan hafalan mereka kepada beliau. Jangan dibayangkan menyetorkan hafalan itu mudah. Karena ketika menyetorkan hafalan, tapi kemudian mereka terlupa satu ayat atau bahkan salah harokat saja, lutut mereka akan ditusuk dengan ujung pulpen oleh Ustadz tersebut. Sehingga tidaka ada ceritanya orang yang sudah menyetorkan hafalan kepada ustadz tersebut, memiliki kualitas hafalan yang buruk. Karena mereka tidak akan berani menyetorkan hafalan mereka sebelum benar-benar lancar dan betul. Mereka benar-benar mempersiapkan segalanya dengan baik. Karena jika tidak, maka bisa dipastikan lutut mereka akan sakit dan menjadi hitam karena banyaknya tusukan pulpen yang diberikan oleh sang ustadz. Unik sekali ya? Dengan begitu para penyetor memang akan sungguh-sungguh hafalan, bukan yang asal setor tetapi besoknya langsung lupa.

Sejujurnya ini menjadi tamparan keras buatku. Karena dulu semasa menghafal di pondok, aku tipe santri yang cepat sekali menghafal, tapi cepat juga lupanya. Dampaknya, saat kuliah ini beberapa hafalanku hilang—hampir tak berbekas. Aku hanya familiar ayatnya saja ketika ada yang membaca atau mendengar ayat tersebut. Tapi sudah tidak bisa ketika diminta untuk melanjutkan. Sedih sekali sebetulnya. Semoga bisa dijadikan pelajaran untuk setiap penghafal Al-Qur’an, aamiin.. Sepertinya metode tusukan pulpen tadi juga bisa kuterapkan saat hafalan dan muroja’ah untuk ke depannya. Harus tega memang kalau benar-benar ingin mempunyai kualitas hafalan yang bagus. Semoga istiqomah, aamiiin..

Kamis, 20 Oktober 2016

Catatan Kampus 1 : Menertawakan “Sesuatu”

17 Oktober 2016
Winny (Mandarin)-Rosyda-Junpei(Jepang)
Foto oleh : Nur Fahmia

Halo (:
Kali ini aku akan sedikit berbagi mengenai apa yang barusan kupelajari dalam kelas Linguistik Austronesia. Aku tidak akan menuliskan materi yang kudapatkan tentunya, tetapi lebih kepada pelajaran di luar materi yang kudapatkan di dalam kelas hari ini.

Jadi, di kelas Linguistik Austronesia ada dua mahasiswa asing. Satu dari Jepang dan satu dari Mandarin. Dua-duanya punya semangat belajar yang ah.. seringkali membuatku malu. Mereka bersemangat sekali ketika diajak berdiskusi dengan dosen. Seperti halnya hari ini, aku dan teman-teman berulang kali dibuat tertawa oleh kedua mahasiswa asing yang semangat belajarnya luar biasa itu.

Aku sampai tidak bisa menghitung, sudah berapa gejala kebahasaan yang perlu untuk diteliti dan dikaji lebih jauh—seperti yang kami temukan hari ini. Padahal hanya bermula dari celetukan salah satu dari mahasiswa asing tersebut, yang pada akhirnya justru membuatku dan teman-teman serta dosen menyadari dan akhirnya melontarkan pertanyaan, “oiya ya, kenapa begitu ya?” Kalau dingat-ingat, sepertinya ada lebih dari lima gejala kebahasaan yang kami temukan dalam 2 sks mata kuliah Linguistik Austronesia ini. Salah satu yang cukup menarik adalah penggunaan afiks “se-”. Bermula dari kata sesaji, yang merupakan contoh lain dari bentuk pengulangan suku depan seperti kata tetikus, Junpei—mahasiswa asing dari Jepang itu kemudian bertanya, “Apakah sama dengan sesuatu? Bagaimana dengan kata sesuatu?” lantas kami tertawa. Bukan, bukan kami menertawakan pertanyaannya. Tapi karena selama ini kami sebagai penutur asli Bahasa Indonesia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Jangankan mempermasalahkan, berfikir tentang itu saja tidak. Tapi lihat, Junpei dengan rasa penasarannya yang begitu besar melihat dengan detail hal-hal seperti itu. Kemudian dosen kami menjawab, itu bisa menjadi bahan kajian. Bagaimana kemudian aturan penggunaan afiks se- sebenarnya. Apakah kata sesuatu bisa dikatakan sebagai pengulangan suku depan dari kata suatu seperti halnya kata tetikus dan sesaji?

Kemudian gejala kebahasaan yang kedua adalah penggunaan kata “itu”. Kalau sesuai aturan, itu adalah kata tunjuk untuk suatu hal yang jauh. Tapi bagaimana ketika ada yang mengatakan “saya itu ….” Bukankah seharusnya “saya ini...”? karena saya letaknya dekat, jadi seharusnya menggunakan kata “saya ini”. Kemudian Junpei mengutarakan pendapatnya, “Sepertinya itu bisa dijadikan sebagai penjelasan sebuah definisi. Misalnya ketika ditanya apa itu buku? Maka jawabannya bisa berupa buku itu sesuatu yang bla bla bla…” membuat kami lagi-lagi menggumam, “Hmmm iya ya, bisa juga ya.” Dosen kami pun kemudian mengatakan bahwa hal tersebut bisa juga menjadi salah satu fungsi kata “itu”, bila di dalam kalimatnya mengandung unsur definisi.

Aku sungguh kagum dengan Junpei. Bisa dikatakan dia cerdas sekali. Bahasa Indonesianya sudah sangat lancar. Pemahamannya terhadap materipun sangat cepat. Sedikit cerita, aku pernah bekerja satu kelompok dengan dia. Kami diminta oleh dosen untuk membuat presentasi yang nantinya akan disampaikan kepada teman-teman sekelas. Waktu itu, mata kuliahnya adalah Semantik. Kalian harus tahu, menjelaskan materi pada Junpei itu sungguh mudah! Dia dengan cepat memahami apa yang kujelaskan (padahal dengan Bahasa Indonesia). Bahkan di beberapa poin dia bisa memberikan contoh yang lebih mudah dari yang kujelaskan. Sehingga membuatku sedikit malu karena dia yang orang Jepang saja tahu hal-hal yang lebih sederhana.

Dari kisah hari ini, aku begitu mensyukuri keberadaanku di Sastra Indonesia. Banyak sekali mahasiswa asing yang masuk dan ikut belajar di kelasku. Dari mereka aku belajar arti kesungguhan. Aku sering memperhatikan, mereka serius sekali saat dosen sedang menjelaskan. Mereka tidak segan untuk langsung bertanya ketika ada kata-kata yang tidak mereka pahami. Setelah itu, langsung mereka catat. Pun saat membaca, ketika ada kata yang tidak mereka pahami, mereka langsung membuka kamus atau alfalink. Hmmm, tidak heran ya, mahasiswa asing cerdas-cerdas. Cara belajarnya memang luar biasa sekali.

Ah, satu lagi. Saat itu salah satu temanku bercerita, Junpei adalah mahasiswa yang tidak mau terlambat meskipun sedetik. Ketika itu, Junpei sedang makan siang dengan temanku. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 13.00, tetapi makanan yang dipesan oleh Junpei belum datang. Ketika tak lama kemudian makanan tersebut datang, Junpei langsung menyantapnya dengan cepat, padahal makanan tersebut masih sangat panas—saat itu dia memesan soto. Ketika ditanya oleh temanku kenapa terburu-buru, Junpei menjawab, “Saya ada kelas jam 13.00, sebentar lagi masuk dan saya tidak mau terlambat.” Hmm.. aku yang mendengar ceritanya saja berdecak kagum. Tidak heran kalau Jepang jempolan, kalau semua orang-orangnya disiplin seperti Junpei.

Nah, pelajaran apa yang bisa diambil? Tentunya, kesungguhan dalam menuntut ilmu. Seperti kata pepatah, man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia yang akan dapat. Jadi, jangan mau kalah dengan orang asing ya (: keep spirit ^^

Minggu, 02 Oktober 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 5 : Aku Bisa Menulis (Lagi)

2 Oktober 2016

Selamat sore, Pembaca. Luar biasa sekali di sore yang lumayan dingin ini gairah menulisku muncul kembali, setelah sekian lamanya tidak pernah menulis.

Semua ini bermula dari sebuah buku. Terima kasih, Allah. Karena lagi-lagi menggerakkan tanganku untuk mengambil buku tersebut dan membelinya. Jadi sekitar pukul sebelas tadi, aku mampir ke toko buku Social Agency terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Niat awalnya adalah membeli buku untuk tugas resensi mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah. Begitu masuk toko buku tersebut, aku segera menuju rak dengan tulisan buku terbaru. Mengapa? Karena syarat untuk buku yang boleh diresensi adalah buku terbitan tahun 2016. Akhirnya aku menemukan satu buku yang sepertinya cukup bagus, judulnya Ya Rabb, Beri Aku Kesempatan Lagi. Namun karena masih sedikit ragu, akhirnya aku mencoba untuk berkeliling melihat buku yang lain. Sampai akhirnya, aku bertanya pada salah satu karyawan, benar tidak buku yang sudah kupilih tersebut terbitan tahun 2016. Lalu kata karyawan tersebut, belum tentu. Karena kode yang terdapat dibukunya adalah 2216. Jadi, kemungkinan buku itu terbitan tahun 2015 atau 2016. Kalau yang sudah pasti terbitan tahun 2016, maka kodenya adalah 2217. Ooh begitu rupanya, batinku. Akupun mencoba mencari buku lain dengan kode 2217. Akhirnya, entah mengapa mataku langsung tertarik dengan buku berjudul “Hidup Indah Bersama Allah”, dan tanpa pikir panjang, langsung kuambil dan kubayar di kasir. Begitulah awal mula ceritanya aku membeli buku tersebut. Buku yang membuatku bergetar berkali-kali saat membacanya. Buku yang membuatku (bisa) menulis lagi sore ini.

Tidak jauh beda dengan kebanyakan buku motivasi lainnya, buku ini terdiri dari banyak sub bab judul yang membahas mengenai suatu persoalan. Dan sub bab yang paling menggetarkan adalah sub bab, IKHLAS. Kubaca satu demi satu tiap-tiap kalimatnya. Seketika ingatanku melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat dimana aku lebih dari sekadar benci dengan diriku sendiri. Saat aku bertanya pada temanku tentang sebuah materi, tetapi ia justru menjawabnya dengan kalimat yang sangat menyakitkan, “Rosyda sih tidur terus.” Seketika, saat itupun aku diam. Kemudian sepanjang hari aku merenung. Bicara pada diriku selama perjalanan dari kampus menuju asrama yang jaraknya kurang lebih 7 kilometer. Berpuluh-puluh pertanyaan kuajukan pada langit, pada alam, pada diriku sendiri.

“Apa yang salah dengan Rosyda? Lihat sekarang. Hampir semua teman berkomentar hal yang sama. Rosyda sekarang ngantukan, deadliner, kucel kalo ke kampus, lemes ga semangat, wajahnya kayak sakit, ga ceria.”
“Apa yang salah dengan Rosyda? UTS Batik tidak bisa menjawab dengan maksimal, muroja’ah sehabis maghrib tidak pernah jalan, tugas menumpuk sampai keteteran, proyek penelitian tidak gerak cepat, tidak pernah menulis blog lagi, tidak pernah mengedit, tidak pernah membuat tulisan baru, ada apa?”
“Apa yang salah dengan Rosyda? Kurang penyesuaian kah dengan barisan para pemimpin ini? Tapi ini sudah bulan kedua!?
“Apa yang salah dengan Rosyda? Atau mungkin bukan aku yang salah? Mungkin RK? Apa RK yang salah? Jadwal yang begitu padat belum lagi kuliah dan organisasi, seperti tidak ada waktu istirahat sedikitpun. Tapi buktinya banyak temanmu yang tetap bisa menjalani hidupnya dengan baik. Beberapa malah sudah ke luar negri dan menorehkan prestasi yang luar biasa. Sedangkan aku? Sekedar menghasilkan atau mengedit satu tulisan setiap hari saja tidak sempat. Jelas ini bukan salah RK. Tapi salahku sendiri. Dan kalian tahu? Aku benci. Aku benci dengan diriku yang seperti itu. Dan ketika temanku menjawab pertanyaanku dengan kalimat menohok tadi, seketika aku menjadi lebih dari sekadar benci dengan diriku sendiri.

Lalu siang tadi ketika aku membaca buku Hidup Indah Bersama Allah, aku menemukan jawabannya. Aku menemukan jawaban atas semua pertanyaanku sore itu.

Aku selama ini belum ikhlas. Aku belum ikhlas dibina dan ditempa di Rumah Kepemimpinan. Sehingga yang terjadi adalah aku mudah lelah, aku mudah kecewa. Aku belum ikhlas dengan acara malam yang selalu berlangsung dari pukul 20.00 hingga 22.00. Padahal selama ini, itu adalah waktuku yang paling efektif untuk menulis dan belajar. Aku kecewa, ketika acara pagi terkadang berakhir lebih dari pukul 06.30, padahal setelah pukul 06.30 jalanan akan sangat ramai dan macet, membuat semangatku menguap diantara hiruk pikuk kendaraan pagi hari. Aku belum ikhlas, Allah. Sungguh ternyata selama ini aku belum ikhlas. Dalam buku tersebut disebutkan, “Mengapa kita lemah, lelah, stress, dan frustasi dalam kehidupan ini? Mungkin karena kita belum ikhlas. Karena kata menyerah, lelah, kalah, putus asa, dan frustasi tidak pernah ada dalam kamus orang ikhlas.”

Aku selama ini belum ikhlas. Aku masih takut dengan supervisor, aku masih takut dengan Bang Bach, aku masih takut dengan segala system di RK. Ketaatanku bukan semata-mata karena Allah, tapi karena aku takut dengan mereka. Sungguh selama ini aku belum ikhlas.

Namun aku bersyukur. Allah tidak pernah lelah mengingatkanku. Di awal Bulan Oktober ini, di saat besok Senin adalah minggu UTS yang sebenarnya, Allah menggerakkan tanganku untuk membeli buku penuh hikmah ini. Mengizinkanku untuk kembali menulis. Mengabulkan doaku beberapa hari lalu tentang kesempatan memperbaiki semuanya dari awal.

Karenanya, aku akan belajar untuk menjadi lebih ikhlas. Kata banyak orang, yang namanya ikhlas memang tidak mudah. Tapi bukan berarti kita tidak bisa senantiasa berusaha untuk ikhlas, bukan? Semoga kisah kali ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang, terlebih bagiku sendiri. Semoga ke depan segalanya bisa menjadi lebih baik, dan aku bisa menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih ikhlas. Awali Bulan Oktober ini dengan semangat perubahan, Rosyda. Ikhlaskan semuanya hanya karena Allah, hanya untuk Allah. Karena yang tidak akan kamu temukan di Rumah Kepemimpinan adalah, istirahat.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Leaders and Leadership (part 1)

Leaders and leadership malam ini, diawali Bang Bach dengan satu kalimat yang sangat menarik, yakni winner never quit, quiter never win. Kalimat ini kemudian dijelaskan bagaimana kemudian kita sebagai sosok pemimpin harus bisa senantiasa berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah dari diri kita sendiri. Lingkungan atau siapapaun tidak akan bisa merubah diri kita jika kita sendiri memasang banyak gembok, jika kita sendiri menolak untuk melakukan sebuah perubahan.
Salah satu contoh bentuk perubahan dalam diri adalah, sadar sejak dini bahwa kita semua adalah pemimpin. Masuk ke dalam barisan rumah kepemimpinan seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa kita adalah calon-calon pemimpin dunia di masa yang akan datang. Karenanya, kita harus bisa memulai perubahan dari yang paling kecil, yakni memperbaiki niat. Niat ketika bergabung dengan rumah kepemimpinan. Jangan lagi niatnya adalah mendapat tempat tinggal gratis, atau mendapat uang saku, tetapi niat perubahan. Rumah kepemimpinan selalu diselamatkan oleh Allah. Sehingga orang-orang yang niatnya tidak benar, secara otomatis, cepat atau lambat, akan keluar dari barisan rumah kepemimpinan.
Dalam sesi ini Bang Bach kembali mengulang apa yang telah beliau sampaikan pada saat seminar bedah buku prophetic leadership, yakni mengenai kepemimpinan profetik. Kepemimpinan profetik merupakan bentuk dari melepaskan penghambaan dari manusia menjadi hanya kepada Allah. Mengapa begitu? Karena ketika kita mengganti Allah dengan tuhan-tuhan kecil, seperti harta, tahta, wanita, laki-laki, dan sebagainya, maka kita tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin profetik. Termasuk perbuatan yang dilarang seperti pacaran, sejatinya itu merupakan salah satu bentuk dari penghambaan kepada manusia. Karenanya, melepaskan penghambaan kepada selain Allah menjadi kunci utama bagi Kepemimpinan Profetik. Karena Kepemimpinan profetik akan melahirkan kepercayaan hanya kepada Allah, dimana kita tidak akan lagi mudah merasa takut, rendah diri, dan malu.
Bang Bach berkali-kali menekankan, akan ada banyak sekali niat yang bisa membuat kita dengan sendirinya keluar dari Rumah Kepemimpinan. Tetapi hanya ada satu niat yang dapat membuat kita bertahan di sini. Keluar tidaknya kita sejatinya bukan Rumah Kepemimpinan yang mengeluarkan, tetapi diri kita sendiri. Mungkin kita bisa membohongi pengurus atau pemimpin pusat, tetapi sekali-kali kita tidak akan pernah bisa membohongi Allah. Sehingga orang-orang yang memiliki niat salah di Rumah Kepemimpinan, akan dengan senndirinya keluar, cepat maupun lambat.
Masuk ke dalam bagian lebih dalam dari prophetic leadership, tugas yang harus kita lakukan adalah membaca kisah-kisah di dalam al-quran secara berulang kali. Memahami cerita dan maknanya, kemudian menganalisisnya. Dari sini kemudian kita bisa mengambil nilai-nilai keteladanan yang telah diajarkan oleh para nabi terdahulu.
Misi utama dari kepemimpinan prophetic ada 3. Yakni, humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi di sini berarti, berbuat baik kepada semua orang, yang dimulai dari diri sendiri. Kemudian liberasi, yakni misi pembebasan. Pembebasan yang seperti apa? Pembebasan dari keterpurukan penindasan. Penindasan yang dimaksud di sini bukan seperti disiksa, dipukuli, dan sebagainya. Melainkan lebih kepada penindasan dari penghambaan terhadap tuhan-tuhan yang kerdil. Misi pembebasan tidak hanya bagi diri sendiri. Melainkan untuk semua orang. Karenanya, jangan pernah mersa aman dan nyaman jika soleh maupun solehah sendirian. Kita harus melakukan misi pembebasan ini bersama-sama. Misi yang selanjutnya, yakni transedensi. Transedensi merupakan manifestasi dari humanisasi dan liberasi. Transedensi menunjukkan bagaimana kemajuan diri dan keimanan kita. Bisa dibilang, iman memang naik turun. Tetapi bukan kemudian naik turun yang semakin turun, akan tetapi meski naik turun, secara keseluruhan diagram keimanan kita menunjuk pada arah peningkatan.
Selanjutnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan guna mewujudkan ketiga misi yang telah disebutkan di atas, yakni pembacaan, penyucian, pengajaran, dan penguasaaan informasi dan masalah-masalah baru dan dinamis. Pembahsan pertama, pembacaan. Kepemimpinan profetik tidak akan bisa tercapai jika kita tidak membaca. Bagaimana kita akan menyampaikan kepada orang lain jika ilmunya saja kita tidak tahu? Kemampuan membaca juga sangat berpengaruh pada keberpengaruhan kita terhadap orang lain. Semakin banyak bacaan yang kita kuasai, maka akan semakin banyak pula orang yang bisa kita pengaruhi. Kedua, penyucian. Yang dimaksud penyucian di sini adalah pemaknaan terhadap apa yang telah kita baca. Sama halnya dengan pembacaan, misi kepemimpinan profetik tidak akan tercapai tanpa adanya pemaknaan terhadap apa-apa yang telah kita baca. Selanjutnya, pengajaran. Selepas membaca dan memaknai, maka tugas kita selanjutnya adalah mengajarkan. Tidak akan berguna apa yang telah kita baca dan pelajari jika tidak diamalkan dan dibagikan kepada orang lain. Terakhir, penguasaan informasi. Untuk mewujudkan misi kepemimpinan profetik, kita harus bisa menguasai informasi serta masalah-masalah yang baru dan dinamis yang terjadi disekitar kita.
Setelah membahas mengenai langkah yang harus dilakukan dalam mewujudkan misi kepemimpinan profetik, selanjutnya adalah pembahasan mengenai visi keilahiyahan. Apa visi keilahiyahan itu? Visi keilahiyahan merupakan visi ketuhanan. Yang mana, kita hanya menggantungkan semuanya hanya kepada Allah SWT. Menjadi pemimpin profetik HANYA KARENA ALLAH. Mengapa visi keilahiyahan ini menjadi sangat penting? Karena tanpa visi keilahiyahan, kita akan menajdi pribadi yang mudah sekali kecewa, mudah stress, mudah gelisah, dll. Karena kita masih saja berharap dan menggantungkan segala sesuatunya kepada tuhan-tuhan yang kerdil, tuhan-tuhan selain Allah.
Raga kita boleh kecil. Tetapi visi kita harus besar. Apa? ALLAH. Ya, tujuan kita tidak lain dan tidak bukan hanyalah Allah swt. Dengan visi yang besar inilah kemudian kita akan berani bermimpi besar, berani beprestasi besar, berani berkarya besar. Karena apa? Karena kita yakin bahwa bersama Allah yang Maha Besar, segala sesuatunya menjadi mungkin. Dengan memiliki visi yang besar, maka kita harus bisa meledakkan potensi diri yang kita miliki. Bohong kalau kita bilang bahwa kita tidak bisa memaksa diri kita sendiri. Kuncinya hanya satu, yaitu : MAU. Dengan kemauan yang kuat, kita akan bisa meledakkan potensi yang ada dalam diri kita. Tetapi ketika kemauan itu tak lagi ada, maka kembalilah kita menjadi kurcaci-kurcaci kecil yang tidak berdaya.
Namun, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian, yakni visi keilahiyyahan tidak dapat didapatkan begitu saja. Melainkan harus dipaksa, salah satunya dengan cara memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah dengan cara qiyamul lail, terus menerus memperbaiki diri, dan sebagainya. Ketika qiyamul lail inilah kesempatan bagi kita untuk mengadukan segalanya kepada Allah. Seorang pemimpin profetik tidak mengadukan segala sesuatunya kepada tuhan-tuhan yang kecil, tetapi mengadukannya kepada Allah, Tuhan yang Maha besar. Sehingga, nantinya kepemimpinan profetik akan memiliki bangunan yang kokoh, karena berlandaskan atas niat untuk Allah semata. Sekali lagi, lakukan semuanya bersama Allah, maka semuanya adalah mungkin dan itu bisa menjadi sebuah hal yang sangat luar biasa.