my graduation

my graduation

Kamis, 29 Desember 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 10 : Selamat Tinggal, Rumah Kepemimpinan

Masih teringat betul kata-kata yang dilontarkan Bang Bachtiar selaku Direktur Rumah Kepemimpinan pada saat NLC (National Leadership Camp) empat bulan lalu, “Kita adalah pemimpin. Jalan pemimpin tidaklah sama. Jalan kita dipenuhi dengan penderitaan, ditempa berbagai cobaan, dihalang bermacam rintangan.”
Itulah yang saat ini terjadi pada kami. Seperti badai yang hendak merobohkan pepohonan, ujian yang datang bagi Rumah Kepemimpinan sedikit banyak menggoyahkan kekuatan hati-hati kami. Tangis dan air mata yang sebelumnya sudah banyak jautuh, kini lebih menjadi-jadi. Tapi doa-doa kami tak pernah putus, dengan keyakinan bahwa akan ada keajaiban besar setelah ini.
Rumah Kepemimpinan mengalami krisis. Ceritanya panjang. Keadaan ini kemudian membuat Rumah Kepemimpinan tidak dapat memberikan uang saku beberapa periode yang merupakan seperempat dari total keseluruhan beasiswa yang mestinya didapatkan setiap peserta setiap bulannya. Karena hal itu pun, peserta dipersilakan untuk memilih, akan tetap tinggal atau mundur dan keluar dari Rumah Kepemimpinan.
Aku ingat betul malam itu, saat tangis memecah langit asrama Nakula. Tak hanya peserta, manajer dan spv kami pun menangis. Belum pernah sebelumnya Rumah Kepemimpinan mengalami masalah seberat ini. Aku yang tidak berperan dalam mengurusi sistem dan segala macam hal teknis apapun itu, turut merasakan betapa beratnya ujian ini. Ditambah kebijakan dalam mempersilakan peserta untuk memilih akan tetap tinggal atau mundur, membuat kami menjadi semakin goyah, mengingat empat bulan keberadaan kami di sini sungguh tidak mudah. Ada berbagai macam hal yang belum sesuai dengan ekspektasi kami di awal, ada banyak ideologi yang kurang pas dengan kami, dan seabrek hal lain yang kalau memang mau digali terus memang tidak pernah ada sempurnanya. Malam itu kami menyanyikan hymne rumah kepemimpinan sambil memeluk saudara-saudara kami satu sama lain. Kami menyanyikan hymne rumah kepemimpinan diantara sesenggukan tangis dan desau lirih angin malam.
Di hati tlah tertanam cinta..
Rela korankan jiwa raga..
Bagi kehormatan dan cita..
Tegakkan kejayaan bangsa..

Meski jiwa gugur sebagai penebus..
Tak akan goyahkan hati..
Tlah bulat tekad..
Untuk berbakti,
Mengemban misi bersih suci..

Tanpa harap balasan jasa..
Hanya ridho Allah semata..
Rumah Kepemimpinan berjuang..
Demi Indonesia mulia..
Hari pun berganti. Satu persatu dari kami mulai goyah. Aku pun. Tapi doa kami tak pernah putus. Memohon kepada Sang pemilik hati agar ditunjukkan jalan yang terbaik. Bagiku, semua ini bukan hanya perkara uang. Karena toh sampai detik ini, kami masih baik-baik saja tanpa uang saku setiap bulannya.
Allah Maha Baik. Penandatanganan surat perjanjian ulang yang awalnya akan dilakukan pagi ini, diubah menjadi nanti malam. Allah Tahu Segalanya. Allah memberiku kesempatan menulis tulisan ini terlebih dahulu sebelum tinta terlepas dari penanya. Allah meyakinkanku untuk tetap berjuang di sini. Dengan segala konsekuensi dan halang rintang yang ada. Mungkin ke depan akan lebih banyak air mata yang tumpah, tapi seiring dengan itulah akan lebih banyak pula sujud yang merekah. Rumah Kepemimpinan akan menjadi lebih baik. Rumah Kepemimpinan akan mampu mengatasi semua ini dan ketika saatnya tiba, Rumah Kepemimpinan akan berlari berlebih kencang, berdiri lebih kokoh, dan bergandengan tangan lebih kuat bersama-sama menuju surga.
Selamat tinggal Rumah Kepemimpinan yang sedang krisis,

Selamat datang Rumah Kepemimpinan yang akan lebih kokoh bersinergis. 

Catatan Rumah Kepemimpinan 12 : Dua Saudara Kami Sudah Selangkah Lebih Dekat Menuju Surga


[Rumah Kepemimpinan sedang Berduka]
Semoga kepergianmu syahid.
Semoga perjuanganmu menjadi refleksi kami untuk terus bangkit.
Dua hari yang lalu, Rumah Kepemimpinan kembali berduka. Salah seorang saudara kami pergi mendahului kami, selangkah lebih dekat menuju surga. Hastag yang kami gaung-ganungkan setiap hari, yakni Saudara Sampai Surga, seakan benar-benar tampak nyata bahkan sebelum kami benar-benar pergi seluruhnya. Perjuangan saudara-saudara kami tidak pernah putus, sampai Allah memanggil kami kembali.
Sebelumnya, saudara kami juga sudah ada yang pergi. Membuatku merasa begitu sedih dan merasa bersalah karena belum bisa memberikan bantuan yang pantas. Kedua saudara kami pergi karena sakit. Yang satu memang sudah sakit sejak agak lama, dan yang satu sakit karena kecelakaan. Ketika mendengar kabar tentang mereka, entah kenapa hatiku sakit. Kami semua tahu, memutuskan untuk berada di Rumah Kepemimpinan bukanlah suatu yang mudah. Kami berjuang dari hal-hal yang paling sederhana seperti mengalahkan rasa lelah sampai hal yang cukup besar seperti membangun daerah. Dengan fisik yang sehat dan kuatpun terkadang kami masih suka mengeluh ini itu. Bagaimana dengan saudara kami yang sakit?
Dua saudara kami sudah membuktikan perjuangannya, sampai selangkah lebih dekat menuju surga. Kami yakin tempat kembalinya akan baik karena ia pergi saat berjuang mencari ilmu di jalan Allah. Aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya, tapi kalau ditanya apakah aku bersedia pergi saat sedang berjuang di jalan Allah, maka jawabannya adalah iya.
Lantas aku merenung. Betapa banyak kejadian tak terduga yang dialami Rumah Kepemimpinan dalam waktu dekat ini. Baru lima bulan pertama, aku merasa banyak kejadian besar yang sedikit banyak mengusik pikiranku, lantas menimbulkan pertanyaan, mengapa?
Kemudian, aku teringat mengenai tulisan pertamaku tentang filosofi angka 8. Hubungannya dengan naga dan infinity, membuatku seakan-akan melihat bahwa semua itu sedikit demi sedikit terbukti. Aku percaya soal tidak ada istilah kebetulan. Jadi, bila memang semua kejadian besar yang datangnya beruntut ini harus terjadi di angkatan 8, maka itu memang skenario terbaik dari Allah yang sungguh sebelumnya kita tidak pernah tau. Ketika aku bertanya pada supervisorku pun, angkatan sebelumnya belum pernah ada yang pergi lebih dulu ke sisi Allah pada saat pembinaan. Tapi angkatan 8? Bahkan atas izin Allah sudah ada dua saudara kami yang pergi melangkah setapak lebih dekat menuju surga.
Teringat pula catatan Rumah Kepemimpinan yang ke-10. Bagaimana ceritanya sampai harus angkatan 8 yang mengalaminya? Sungguh skenario kehidupan dari Allah untuk hambanya tidak pernah salah. Ujian yang datang silih berganti membuat kami semakin yakin, bahwa angkatan kami cukup berbeda. Akan ada hikmah dan pelajaran yang jauh lebih besar dibalik ujian kami, jika dibandingkan dengan ujian yang datang pada angkatan-angkatan sebelumnya. Entah bagaimana nanti selanjutnya, kami sungguh yakin bahwa semua ini tidak pernah datang tanpa arti. Tugas kami sekarang tinggal meyakini, kemudian menguatkan diri dan saudara-saudara kami satu sama lain. Kelak kami semua juga akan kembali ke sisi Allah satu persatu, untuk kemudian kembali berkumpul bersama-sama di surga.
Rumah Kepemimpinan, kami saudara sampai surga.

Jumat, 23 Desember 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 11 : Saya Sih Alphard, Kamu?


Selamat siang, Pembaca. Luar biasa sekali ternyata hikmah di balik tidak liburnya Rumah Kepemimpinan, aku bisa jadi lebih produktif menulis. Haha. Terima kasih RK!
Siang ini aku menyempatkan diri untuk pergi ke temapt favortiku untuk menulis. Mana lagi kalau bukan Cokelat Klasik. Sebetulnya alasannya sederhana saja sih. Aku suka sekali minuman coklat dan di sini harganya murah. Hahaha. Tempatnya juga lumayan oke. Setidaknya aku bisa menyelesaikan banyak tugas dan beberapa tulisan serta melahap sekian buku kalau sudah duduk di tempat ini. Dan kali ini, aku sedang bersemangat sekali untuk menulis tentang apa yang baru saja tadi malam kudapatkan di Rumah Kepemimpinan.
Awalnya, nama kegiatannya adalah basic skill : desain. Sepintas membayangkan, pasti belajar mengenai aplikasi yang bisa digunakan untuk membuat desain, bagaimana menggunakan tools-toolsnya, dan sebagainya. Tapi, lagi-lagi Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Pembicara yang hadir tadi malam adalah Mas Nanang Syaifurrozi. Beliau adalah CEO dari Rumah Warna. Pertama kali datang tampangnya biasa sekali. Sederhana. Tapi begitu bicara, hmm mengundang tepuk tangan yang membahana. Sebelum kutuliskan mengenai materi yang disampaikan, akan kuceritakan dulu perihal Rumah Warna. Rumah Warna berdiri sejak tahun 2002. Mas Nanang merintis usaha tersebut bersama istrinya. Pada saat itu padahal Mas Nanang belum lulus kuliah. Namun ada hal yang kemudian beliau bertekad kuat untuk berbinis. Apa itu? Nanti dulu. Oiya, perlu diketahui, Mas Nanang ini alumni UGM begitu juga istrinya*eaaa.
Hingga kini, sudah ada sekitar 80 cabang Rumah Warna di Indonesia. Hebatnya lagi, Rumah Warna bisa menjual kurang lebih 35.000 pcs setiap bulannya. Fantastis sekali. Lantas kami bertanya-tanya, bagaimana bisa sehebat itu.
Mas Nanang menjelaskan, semua itu adalah bagian dari proses. Mas Nanang mengawali bisnisnya dengan berjualan di sunmor (sunday morning). Dulu awalnya sunmor berada di GSP (Grha Sabha Pramana). Pada saat itu pun, rata-rata pedagang menjual makanan. Mas Nanang inilah yang menjadi salah satu pelopor penjual non-makanan. Ketika ditanya apa motivasinya, Mas Nanang menjawab dengan santai, “Ya kan, sore-sore jualan sambil duduk berdua sama istri asik tuh.” Lantas kami tertawa. Kemudian, dengan usaha disertai doa yang kuat, dalam setahun Mas Nanang sudah mempunyai penghasilan yang lumayan, sampai bisa membeli mobil. Tahun berikutnya, Rumah Warna semakin berkembang. Rumah Warna mulai membuka stand di berbagai mall. Hingga pada tahun 2013, Rumah Warna mampu menyewa Cherry Belle, yang harga sewanya satu tahun mecapai 300 juta. Weew.
Sebetulnya, aku tidak terlalu bisa menceritakan banyak perihal Rumah Warna. Intinya keren banget!
Lalu apa yang akan kutuliskan? Tentu pesan-pesan luar biasanya. Meskipun secara keseluruhan memang bicara soal bisnis, tetapi nasihat-nasihat yang disampaikan mas Nanang tidak hanya bisa di aplikasikan dalam bisnis saja, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.
Nasihat pertama, jadilah manusia yang kreatif. Jadilah manusia yang berbeda. Mengapa? Ya karena dengan perbedaan itulah nantinya kita akan mendapat perhatian lebih dari orang lain. Sama seperti Rumah warna, pada masa itu, orang-orang masih enggan dengan barang-barang yang berwarna mencolok. Tetapi, Rumah warna justru memproduksi tas yang colourfull. Warnanya cetar-cetar. Memang kemudian orang akan bertanya, Apaan sih kok warna warni gitu? Tapi pertanyaan itulah yang sebenarnya merupakan bentuk dari perhatian orang terhadap produk kita.
Nasihat kedua, jangan terlalu menjadi pemilih. Cukup menyedihkan dengan data yang diperlihatkan oleh Mas Nanang kemarin bahwa pengangguran di Jogja kebanyakan adalah lulusan sarjana. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, kenapa justru sarjana? Jawabannya adalah karena mereka terlalu pemilih, terlalu idealis. Misal, yang lulusan geografi tidak mau kerja kalau bukan yang sesuai dengan bidangnya, yang jurusan lain-lainnya pun begitu. Jadinya ya, sulit.
Nasihat ketiga, fokus. Kebanyakan orang Indonesia adalah tidak fokus. Hidup itu pilihan. Kalau ditanya mau jadi pegawai atau pengusaha, ya pilih saja salah satu. Jangan memilih pengusaha, tapi ketika kemudian usahanya turun, ditinggal begitu saja dan melamar menjadi pegawai, atau sebaliknya. Baik pegawai maupun pengusaha, keduanya memiliki risiko dan konsekuensinya masing-masing. So, mau jadi pegawai, profesional, atau entrepreneur, tentukan dari sekarang dan expertlah di salah satu bidang saja.
Nasihat keempat, milikilah mental entrepreneur. Seperti apa sih mental entrepreneur? Mental entrepreneur itu, kalau kita profesinya adalah guru, maka pikiran kita adalah soal membangun sekolah. Kalau profesi kita dokter, pikiran kita adalah soal membangun rumah sakit, dan sebagainya. Kalau seperti ini, kebaikannya berlipat-lipat ketimbang sekedar menjadi guru atau dokter saja. Dengan membangun sekolah, kita bisa lebih banyak membuka peluang kerja untuk orang lain, lebih banyak memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk bersekolah. Sama halnya dengan membangun rumah sakit. Kalau menjadi pejabat negara pun, harus memiliki mental entrepreneur. Bukan berarti menjual belikan jabatan lho ya. Tapi dengan mental entrepreneur itu, kita tidak akan sempat punya pikiran untuk mengorupsi uang negara, bukan?
Mas Nanang pun sekarang memberdayakan UKM yang berada di Jogja sebagai tempat produksi bagi Rumah Warna. Nah kan, membuka peluang kerja banyak sekali untuk orang lain.
Nasihat kelima, milikilah habbit yang berbeda dengan orang lain. Tentunya habbit yang baik ya. Mas Nanang bercerita, dulu semasa kuliah, saat teman-temannya yang lain bermain dan beristirahat, yang dilakukan Mas Nanang adalah menjahit. “Kalo habbit kamu masih sama kayak kebanyakan orang, ya kamu ntar jadinya sama kayak kebanyakan orang.” Ujar Mas Nanang.
Nasihat keenam, berani bermimpi besar. “Kalau kamu mimpinya setinggi langit, kalo jatuh masih dapet eternit. Tapi kalo mimpinya cuma setinggi eternit, kalo jatuh dapetnya cuma jinjit. Allah itu sesuai dengan apa yang kita usahakan. Allah memberi sesuai dengan tingkat kepantasan kita. Kalo emang pantes dapet rezeki gede ya dikasih gede. Tinggal gimana cara kita memantaskan diri aja.”
Sebelum lanjut ke nasihat berikutnya, ada sebuah rumus perubahan yang Mas Nanang ajarkan.
Be+Do= Have
Mana yang paling penting dari ketiga komponen di atas? Have. Ya, Have dapat diibaratkan sebagai mimpi atau alasan. Kalau kita sudah punya alasan, maka tidak sulit lagi untuk Be dan Do. “Misalkan, bangun pagi. Kalau kamu diberitahu besok akan ada uang 5 juta di depan pintu kamarmu saat subuh, akankah besok kamu akan dengan mudah bangun pagi? Jelas. Karena ada alasannya. Nah, alasan itulah yang harus kita temukan kenapa kemudian kita melakukan perubahan. Kalo saya dulu have nya adalah bisa membahagiakan orang tua dan ga merepotkan mereka. Sesederhana itu.” Terang Mas Nanang. Kemudian beliau melanjutkan, “Perubahan memang selalu bikin ga nyaman, ada aja cobaannya. Tapi kalau ga dilakoni, ya ga berubah-berubah.”
Nasihat ketujuh, kalau mau berbisnis, jangan hanya asal ikut-ikutan. Karena pasti rentan sekali jatuh. Dalam bisnis, kita sangat dituntut untuk melakukan inovasi. Apalagi kalau bisnis kita sudah bagus dan mulai diikuti oleh banyak orang. Jangan sombong ketika sudah berada di puncak. Kita harus tetap senantiasa melakukan pembaharuan.
Nah, bagian terakhir inilah yang paling menarik. Nasihat terakhir, tapi sebetulnya merupakan nasihat yang paling penting.
Ada tiga faktor keberuntungan, yakni positive thinking, positive feeling, dan positive motivation. Kita harus bisa menjadi manusia yang senantiasa berfikir positif, apapun yang terjadi dengan hidup kita. Orang yang bermental entrepreneur, segalanya akan tampak positif. Segalanya akan dimaknai sebagai rezeki. Mas Nanang menganalogikan rezeki adalah ibarat sebuah permen. Permen pasti ada bungkusnya, bukan? Coba pikirkan, kalau kita diberi sebuah permen yang tidak ada bungkusnya, sudah terbuka dan lengket-lengket begitu, maukah kita menerimanya? Tentu tidak. Kita pasti maunya permen yang masih terbungkus rapi. Padahal, toh ujung-ujungnya bungkusnya juga dibuang dan kita hanya akan makan permennya saja, bukan begitu? Sama seperti rezeki. Allah mengemasnya terlebih dahulu sebelum kita nikmati. Entah itu dengan musibah, ujian, cobaan, atau yang lain. Jadi kalau sedang mendapat musibah, positive thinking saja setelah ini akan mendapat rezeki. “Respon itu dinilai satu detik setelah kita mendapatkan sesuatu. Misal kecopetan, lalu kita langsung mengumpat dan marah-marah, baru beberapa hari kemudian mengatakan bahwa kita ikhlas, itu tidak ada artinya. Maka, belajarlah untuk senantiasa menyikapi segala sesuatu dengan rasa syukur dan berfikir positif.”
Ah, luar biasa sekali Mas Nanang. Sedikit banyak mirip dengan pemikiranku selama ini. Bedanya, aku meyakini bahwa di balik setiap kejadian akan ada hikmah dan pelajaran yang berharga, apapun itu. Seperti misalnya kemarin saat aku hendak pergi ke maskam UGM, tapi ternyata jalannya ditutup karena ada acara niti laku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk ke maskam UNY saja, eh, aku bertemu dengan Fathia, salah satu teman FLP ku. Hmm, tidak menyangka bukan? Kalau jalan menuju maskam UGM tidak ditutup dan aku tidak ke maskam UNY, mana mungkin aku bertemu dengan Fathia? Hal-hal kecil seperti itu saja sudah diatur sedemikan rupanya oleh Allah. Tinggal kitanya saja, peka atau tidak.
Sebagai penutup, ada cerita dari Mas Nanang yang masya Allah sekali. Jadi, Mas Nanang mempunyai tanah yang hendak dijual. Harganya 7 M, tetapi Mas Nanang mematok harga 5,5 M saja sudah oke. Sudah cukup lama, tapi belum ada yang membeli. Hingga suatu saat, ibu Mas Nanang jatuh sakit. Tanpa pikir panjang, Mas Nanang langsung membawa ibunya ke Jogja dan menemani beliau selama kurang lebih 2 minggu di rumah sakit. Selama 2 minggu itu, Mas Nanang tidak ambil pusing soal kerjaan sedikitpun. Mas Nanang fokus birrul walidain menjaga ibunya yang sakit. Saat di rumah sakit, ibu Mas Nanang sempat mengutarakan keinginannya untuk umroh bersama adik dan kakaknya yang total berjumlah 9 orang. Tanpa berfikir lama, Mas Nanang mengiyakan saja, padahal saat itu belum tahu juga mau dapat uang darimana, tanah saja belum laku-laku. Katanya, “Baik, Bu. Februari nanti berangkat.”
Setelah kurang lebih 2 minggu, ibu Mas Nanang sembuh. Keajaiban itu terjadi. Seseorang yang kemarin-kemarin hanya mampir ke toko dan menawar ini itu, tiba-tiba datang dan menyatakan bahwa ia hendak membeli tanah Mas Nanang dengan harga 6,2 M. Tanpa pikir panjang, Mas Nanang setuju dan malamnya, transaksi tersebut sudah lunas. Masya Allah..
Jadi bagaimana? Masih tidak percaya dengan kekuatan berfikir positif?
Ketika hendak pulang pun kami ribut membicarakan soal mobil Mas Nanang yang ternyata bermerek Alphard. Mobil sehari-harinya saja Alphard loh. Wkwk. 

Saya sih Alphard, kalau kamu?

Selasa, 20 Desember 2016

Hati-hati yang Tulus

10 Desember 2016

Dari kiri : Ali Bahri, Zainal, dan pemuda pemudi dusun Kiyaran
Selamat siang, Pembaca. Ini adalah tulisan yang mestinya sudah kutulis sejak malam itu, tapi baru sempat kutulis sekarang. Jadi, anggap saja kalian sedang membaca cerita ini pada malam itu ya. Wkwk
Terima kasih, Allah. Terima kasih untuk malam yang cerah ini. Terima kasih untuk hati-hati tulus yang belum bisa kupahami sampai sekarang bagaimana bisa sebaik itu.
Tidak banyak yang terjadi hari ini. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu kutuliskan, agar nanti ketika aku sudah mulai lupa dimakan usia, atau bahkan belum sampai masanya aku sudah tiada, orang-orang di sekelilingku akan tahu, pernah ada hari yang tulus mencatat rangkaian peristiwa penuh makna.
Sebuah pencapaian baru. Aku berani menyetir motor sendiri sampai ke Dusun Kiyaran. Mungkin bagi orang lain, ini memalukan. Tapi bagiku, ini sebuah pencapaian baru. Karena sebelum-sebelumnya aku selalu nebeng—entah kenapa belum ada keberanian. Padahal jalannya juga tidak ekstrem-ekstrem amat. Beda dengan Desa Turi, menurutku itu cukup ekstrem dan memang aku belum berani kalau di suruh menyetir motor ke sana sendirian. Tapi aku punya tekad untuk suat saat bisa berani menyetir sendiri ke sana.
Tapi, bukan itu poin pentingnya. Awalnya aku pun tak ada niat sama sekali untuk pergi mengajar TPA anak-anak di Dusun Kiyaran. Sebab, sore itu aku baru saja pulang dari kampus selepas mengerjakan beberapa hal. Inginnya mengistirahatkan badan untuk kemudian melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, nanti malam. Tapi entah mengapa, spontan saja jariku mengetik di grup “Aku ikut.” Dan jadilah aku berangkat menuju Dusun Kiyaran bersama empat temanku yang lain.
 Sesampainya di sana, aku dan teman-temanku mampir terlebih dahulu ke rumah mertua manajer kami. Rupanya, TPA dimulai setelah sholat maghrib. Akhirnya sambil menunggu, aku memutuskan untuk jalan-jalan melihat sekitar. Hmmm masya Allah indah sekali desanya. Sejuk, udaranya bersih sekali. Allah memang yang paling tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Menikmati alam seperti ini saja, sudah lumayan banyak mengurangi rasa lelahku.
Maghrib pun tiba. Jumlah seluruh temanku yang akhirnya bisa datang ada 11. Ini luar biasa. Sebelumnya belum pernah sebanyak ini. Kami pun membagi tugas, karena rupanya TPA di Dusun Plagrak juga sudah dimulai hari itu. Akhirnya, tujuh orang di Dusun Plagrak dan sisanya di Dusun Kiyaran. Kalian harus tahu. Anak-anak di dusun ini semangat sekali belajar Al-Qur’an. Meski disambi lari-lari dan mainan—yah namanya saja anak kecil, mereka tetap mau menyetorkan bacaan dan hafalan Al-Qur’an mereka. Bahkan ada yang masih kelas 6 SD, hafalannya sudah cukup banyak. Mmm, aku jadi teringat masa-masa SD ketika bisa hafalan tanpa beban.
Adzan Isya pun berkumandang. Kami segera membereskan meja-meja kemudian lanjut sholat isya. Setelah itu, kami kembali ke rumah mertua manajer kami untuk istirahat sejenak sambil meminum teh. Sepanjang istirahat ini, kami saling berbagi cerita. Karena tadi dibagi menjadi dua tim, maka kami saling bertukar informasi mengenai kedua dusun tersebut. Aku tidak bicara banyak. Tapi ada satu yang membuatku kagum, rupanya di Dusun Plagrak ada ibu-ibu yang semangat sekali belajar Al-Qur’an. Padahal, kalian tahu sendiri kan, TPA itu biasanya yang datang dan belajar mengaji adalah anak-anak kecil. Tapi ibu itu datang, dan minta dijari membaca Al-Qur’an. Ah, aku terenyuh. Belajar memang tidak mengenal usia bukan?
Setelah cukup beristirahat, beberapa temanku izin untuk pulang terlebih dahulu karena ada acara lain. Aku juga sebetulnya ingin pulang, tapi.. entahlah. Ada sesuatu yang menahanku untuk tetap tinggal. Setelah itu memang agenda kami adalah ikut rapat pemuda dengan remaja-remaja yang ada di Dusun Plagrak. Karena rapat tersebut hanya diadakan sebulan sekali, sayang memang kalau ada kesempatan kami malah tidak ikut. Akhirnya, kami ikut serta dan sedikit banyak memberi tahu untuk apa sebetulnya kami datang ke dusun tersebut. Yang menarik dalam rapat ini adalah, pemudanya banyak. Aku pikir, akan sedikit yang antusias dengan kumpul pemuda seperti ini. Ternyata banyak. Akan bagus sekali kalau kami benar-benar bisa bekerja sama dengan mereka untuk membangun Dusun Plagrak menjadi dusun yang lebih baik lagi.
Seusai rapat, kami memutuskan untuk pulang. Karena sudah larut, aku meminta tolong pada salah satu temanku agar bersedia menyetir motorku, dan aku membonceng. Ya, karena dia juga paham kalau aku belum terlalu cakap mengendarai motor, jadilah ia mengiyakan. Terima kasih untuk kebaikan hatimu, Megan :)
Sebetulnya, kami lapar. Karena memang dari sore belum makan. Akhirnya, kami memutuskan untuk mampir makan terlebih dahulu sebelum pulang ke asrama. Ada kejadian lucu saat kami mencari makan. Karena inginnya makan mie ayam, jadi mau tidak mau kami harus melihat dengan jeli, masih ada atau tidak warung mie ayam yang buka di sepanjang jalan. Nah, saat melihat warung mie ayam yang cukup besar, begitu berhenti dan hendak makan, rupanya habis. Tertawalah kami sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya kami menemukan warung mie ayam yang masih buka, meski tidak terlalu besar. Di sinilah kejadian yang menginspirasiku untuk kemudian mengabadikannya lewat tulisan, terjadi.
Yang tersisa dari kami saat itu adalah aku, Megan, Nadiyah, Nining, Zainal, dan Ali Bahri. Kami berenam makan sambil sesekali bercerita mengenai apa yang sudah kami dapatkan ketika mengajar di dusun tadi. Seperti biasa, aku selalu yang paling akhir selesai makan. Padahal sudah kuusahakan sesegera mungkin agar tidak ketinggalan. Begitu selesai dan hendak membayar, ibu penjualnya berkata “Sudah semua mba.” Dan aku segera menoleh ke arah Zainal. Aku tahu, pasti dia yang membayar. Karena saat makan tadi, dia sempat menemui ibu penjualnya sejenak. Aku memaksa membayar, tapi dia tetap tidak mau. Katanya, “Alhamdulillah ada rezeki dari univ.” Akhirnya, aku hanya bisa mengiyakan saja.
Allah, terima kasih atas hati-hati baik yang aku tidak tahu kenapa bisa sebaik itu. Menegurku bahwa keberkahan rezeki yang sesungguhnya bukan ketika semuanya disimpan sendiri, tapi justru ketika dibagikan kepada orang lain. Sisa perjalanan menuju asrama pun kulalui dengan perenungan. Apa yang membuatku tertahan di dusun tadi adalah karena Allah ingin mengajarkanku suatu pelajaran kehidupan melalui sosok Zainal. Pelajaran tentang keikhlasan dan pengabdian diri hanya untuk Allah, lagi-lagi tentang ikhlas yang hingga saat ini aku masih harus banyak belajar dari orang lain. Terima kasih, untuk hati-hati tulus yang menjadi perantara datangnya pelajaran kehidupan dari Allah untuk hamba-Nya yang masih bodoh ini.
Terima kasih Zainal, Ali Bahri, Megan, Nadiyah, Nining, Riyana, Emma, Fathan, Lalu, Ari, dan Huda. Mereka semua luar biasa. Kalian bisa belajar banyak pada mereka :)

Minggu, 04 Desember 2016

Catatan rumah Kepemimpinan 9 : IYLF (Inspiring Youth Leadership Forum)



Puji syukur ke hadirat Allah, Sabtu, 26 November 2016 peserta Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta kembali diizinkan untuk bertemu dengan saudara-saudara kami peserta Rumah Kepemimpinan regional 4 Surabaya dan regional 7 Makassar dalam acara Inspiring Youth Leadership Forum (IYLF). Luar biasa sekali akhirnya acara ini dapat terselenggara mengingat perjuangan kakak panitia angkatan 7 yang pontang-panting sana-sini mencara biaya demi keberlangsungan acara ini.
IYLF kali ini diadakan di desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan. Desa ini merupakan desa mertua manager Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta, Bapak Chandra Nur Triwiyanto. Desa ini juga sekaligus menjadi desa binaan untuk Leadership Project Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta angkatan 8. Tepat pukul 08.30, acara dimulai. Meski tidak semewah NLC, IYLF sedikit banyak mengingatkan kami pada NLC. Bedanya, peserta IYLF kali ini hanya RK 3, RK 4, dan RK 7. Akan tetapi, karena biaya perjalanan dari Makassar sampai Jogja cukup mahal, jadi hanya perwakilan saja saudara kami dari RK 7 yang berangkat.
Sesi 1, diisi oleh Camat Cangkringan, Yakni Bapak Hermana. Bapak Hermana banyak membahas mengenai kepemimpinan. Bagaimana menjadi pemimpin yang baik? Pertama, kita harus bisa menentukan arah. Kalau ditanya tujuan, tujuan kita pasti banyak. Ingin inilah, ingin itulah. Akan tetapi, sebagai seorang pemimpin yang baik kita harus bisa menentukan arah atau jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Jangan sampai tujuannya apa, tapi arahnya malah kemana. Kedua, kita harus bisa me-manage waktu dengan baik. Seorang pemimpin, manajemen waktunya harus baik. Bagaimana akan mengurusi orang lain kalau mengatur waktu diri sendiri saja belum bisa? Ketiga, pemimpin harus kreatif dan inovatif. Jadi, tidak ada istilah “saya tidak kreatif” Karena sejatinya kreatif itu bisa dilatih. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi 2 yakni presentasi Leadaership Project. Nah, di sini lumayan seru. Karena setiap regional dipersilakan untuk mempresentasikan Leadership projectnya masing-masing. Untuk Yogyakarta, kami mempunyai 3 Ledership Project, yakni Sahabat Lestari yang bergerak di bidang pendidikan, Le Milk yang bergerak di bidang kewirausahaan, dan satu bidang lagi yang bergerak di bidang agroteknologi. Oiya, untuk regional lain kurang lebih juga mirip-mirip bidang pergerakannya. Hanya beda pada namanya saja. Ada Laskar Pahlawan, Kampoeng Juara, dan Kutu Air. Aku cukup terkesan dengan sesi ini. Tampak sekali setiap regional bersemangat mempresentasikan Leadership Projectnya masing-masing. Gagasan-gagasannya pun luar biasa. Aku berdoa, semoga kami semua diberi kelancaran dan kekuatan selama berjuang menjalankan Leadership Project tersebut.
Mm, sepertinya aku tidak akan banyak bercerita mengenai materi ya. Kalau mau tahu banyak, boleh lihat di catatanku (haha). Ada sih di hari kedua, seorang pembicara yang sangat keren sekali, sampai-sampai membuatku merinding. Beliau adalah Bapak Wahyudi, penggagas sekaligus pemilik Kampung Dolanan yang ada di daerah Bantul. Beliau bercerita, butuh waktu kurang lebih sekitar 9 tahun untuk menjadi sebuah cita-cita yang bisa dikatakan berhasil dan luar biasa sekali. Dari beliau kami belajar, bahwasannya perjuangan memang membutuhkan waktu yang panjang. Tidak sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun. Kalau memang mau serius, ya harus tahan banting dalam waktu yang cukup lama. Jujur, beliau sangat menginspirasi, sekaligus membakar semangat kami yang memang dalam kurun waktu 1,5 tahun ke depan akan banyak berkecimpung di desa, menjalankan Leadership Project kami. Entah mengapa, sejak adanya penyampaian materi dan nasihat serta motivasi dari beliau, teman-teman Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta menjadi lebih semangat menjalankan Leadership Project. Mengingat beberapa waktu sebelum berlangsungnya acara IYLF dan presentasi Leadership Project ini ada beberapa teman Rumah Kepemimpinan regional 3 Yogyakarta yang bahkan belum tahu Leadership Project tahun ini hendak menjalankan program apa saja. Tapi, Alhamdulillah. Berkat kehadiran Pak Wahyudi, kami menjadi sadar akan pentingnya membangun desa. Semangat kami terbakar kembali untuk bisa lebih banyak mengabdi dan kembali ke desa. Ada satu pesan terakhir dari Pak Wahyudi sebelum beliau menutup sesi ini, yakni JANGAN TINGGALKAN DESA!
Oh iya ada yang lupa. Ada pemateri yang lucu dan berulang kali membuat kami tertawa. Saya mengapresiasi sekali pemateri tersebut karena dengan cara penyampaiannya yang unik, kami tidak mengantuk.  Beliau adalah Bapak Edi, selalu kepala BOP Jogja. Beliau menyampaikan empat unsur kepemimpinan yang paling penting, yakni keberanian, kejujuran, kekereatifan, dan keikhlasan.  Nah, bagaimana cara menyampaikannya? Beliau meminta salah satu dari kami untuk maju. Katanya, beliau akan memberikan pertanyaan. Jadi, semacam menguji keberanian apakah ada diantara kami yang berani maju untuk menjawab meski belum tau pertanyaannya apa. Setelah itu, ada juga diantara kami yang ditanya pernah pacaran atau tidak. Ini juga menguji apakah kami jujur atau tidak. Lalu, tiba-tiba salah satu diantara kami diberi uang, lalu diberi pertanyaan akan digunakan untuk apa uang tersebut. Nah, yang ini menguji kekreatifan. Poin yang terakhir, keikhlasan. Tidak ada peragaan apapun. Karena ikhlas memang tidak bisa ditampakkan. Keren ya? Jujur, penyampaian materi dengan cara sedikit bermain seperti ini lebih mengena dan lebih tertanam lama di pikiran. Hehe
Lalu ada juga pemateri yang keren banget. Beliau tajir melintir tapi dermawannya juga masya Allah banget. Pak Bachtiar Rakhman, seorang Solo Riding yang sudah berkeliling ke berbagai negara dengan mengendarai motor. Beliau kemudian menuliskan pengalaman-pengalamannya dalam sebuah buku berjudul Musafir Biker. Bagus lho bukunya. Penasaran? Beli lah.. (wkwk) Aku baru baca setengah saja sudah geleng-geleng kepala. Inspiratif betul lah Pak Bachtiar ini. Apalagi untuk aku yang terkadang masih suka takut kalau naik motor. Hehe
 Ah, ada yang terlewat rupanya. Saat malam ahad, kami ada semacam pementasan kecil-kecilan. Meski hampir setiap kelompok penampilannya tidak jelas (haha) tapi kami senang. Karena justru ketidakjelasan itulah yang membuat kami tertawa. Ditambah kebaikan teman-teman heroboyo yang memberikan oleh-oleh khas Surabaya, yaitu Keripik Salijali. Penasaran keripik apa itu? Beli di Surabaya ya (wkwk). Yang jelas enak dan hmm bikin ketagihan. Lalu, akhir acara ditutup dengan mannequin challenge. Bisa dibayangkan kan mannequin challenge dengan orang sebanyak itu, pastilah pegal sekali. Aku berusaha menahan tawa saking capeknya. Untung aku tidak menyulitkan diri sendiri dengan berpose yang aneh-aneh.
Dari IYLF, aku banyak mendapat pelajaran. Salah satunya adalah semangat membangun desa. Seperti yang telah kita ketahui, sebetulnya potensi sumber daya alam di desa itu banyak sekali. Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah sedikit sekali orang-orang yang mau mengolah sumber daya alam tersebut. Anak mudanya pergi semua ke kota dan jarang yang mau pulang kembali ke desa. Apa iya kita akan terus menerus membangun kota? Nah, sebagai anak muda yang punya komitmen untuk berkontribusi besar bagi bangsa, yuk memulainya dari desa. Kalau kata mas Nur Aulia Agis, mari membangun Indonesia dari desa!
Mungkin sedikit saja ya, cerita soal IYLF. Karena sebetulnya aku sedang ada sedikit masalah ._. Jadi kurang fokus menulis. Semoga yang sedikit ini tetap bisa bermanfaat.


Kamis, 01 Desember 2016

Ketika Teknik dan Sastra Bersatu



Selamat pagi, Pembaca! Hffft, akhirnya setelah sekian lama tidak menulis, di minggu yang rancu antara tenang atau tegang ini aku menyempatkan diri untuk menulis cerita-cerita yang belum sempat kutulis. Aku pernah menjanjikan sebuah cerita romantis antara sepasang insan yang baru saja menikah. Aku lupa, sepertinya sudah berjalan hampir satu bulan. Kisah romantis antara sarjana teknik dan sarjana sastra.
Sebenarnya aku tidak akan menceritakan mengenai mereka berdua sih. Ya secara aku sebetulnya tidak tahu detail cerita pertemuan mereka hingga duduk di kursi pelaminan itu seperti apa. Aku hanya akan menyampaikan nasihat yang disampaikan oleh seorang ustad pada malam akad pernikahan mereka. Satu hal sederhana yang kuingat saat itu adalah pertanyaan ustad tersebut mengenai kriteria pasangan. “Kamu ingin pasangan yang seperti apa? Cantik? Pinter? Pinter masak? Pinter ngurus anak? Kaya? Solehah? Atau mau semuanya?” Kemudian mulailah satu persatu kisah mengenai memilih pasangan diceritakan. Ustad ini sudah berpengalaman sekali dalam urusana hubungan rumah tangga. Banyak orang-orang yang datang kepada beliau untuk minta diberi nasihat hubunganya dengan urusan rumah tangga.
Dari sekian banyak kisah yang diceritakan, intinya hanya satu. Pasangan kita, siapapun itu sekarang atau esok, tidak ada yang sempurna. Kalau dia pintar masak, bisa jadi tidak pintar mengurus anak. Kalau pintar masak dan pintar mengurus anak, bisa jadi tidak cantik atau tidak kaya. Kalau cantik, kaya, pintar masak, pintar ngurus anak, bisa jadi belum solehah. Ada saja kurangnya. Tapi ketika pernikahan yang artinya adalah menyatukan dua insan, maka semua itu bukan lagi soal kurang lebih, hebat tidak, dan segala macam hal yang sifatnya adalah individual. Pernikahan adalah tentang berjuang bersama. Maka, penting untuk pasangan yang baru saja menikah, untuk mengenal satu sama lain lebih jauh. Ustad itu menyarankan untuk memberikan kertas pada pasangan, dan memintanya untuk menuliskan apa saja yang ia suka dan apa saja yang tidak ia suka. Dengan begitu, satu sama lain akan saling memahami dan berusaha untuk menghargai satu sama lain.
Ada sebuah cerita. Suatu hari ada seorang laki-laki yang datang kepada ustad tersebut, meminta dicarikan pasangan. Ketika ditanya, “Kamu maunya yang seperti apa?” Ia menjawab, “Yang bila aku memandang wajahnya, maka sejuklah hatiku, yang bila anak-anakku berada pada tanggung jawabnya, damailah jiwaku, yang bila kuajak bicara dengannya, tentramlah pikiranku, yang kehadirannya di rumahku membawa kebahagiaan dalam hidupku.” Lantas, ustad tersebut menjawab, “Saya sudah menemukan orangnya, mas.” Kemudian laki-laki tersebut berbinar-binar dan bertanya lagi, “Siapa Pak Ustad?” kemudian ustad itu menjawab, “Bidadari surga.” Laki-laki itupun terdiam. Kemudian ustad tersebut menlajutkan, “Tidak ada mas. Tidak ada di dunia ini perempuan yang sempurnanya seperti itu. Pasti ada kurangnya. Jadi kalau mas mau cari perempuan seperti yang telah disebutkan tadi, cari saja di surga.” Aku senyam-senyum saja menyimak nasihat tersebut. Untuk remaja yang masih sedikit alay sepertiku, terkadang membayangkan ingin punya pasangan yang serba bisa. Yang gantenglah, kayalah, pinterlah, dan seabrek hal-hal bagus lainnya. Padahal betul saja kata ustad tadi, tidak akan pernah ada pasangan yang sempurna. Dari sini kemudian ustadnya menyambung perihal perceraian. Bagi pasangan yang sudah saling mengerti dan memahami satu sama lain, mestinya perceraian dapat dihindarkan. Apalagi hanya karena masalah-masalah yang sepele. Ustad tersebut berpesan, ketika mulai terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangga, cobalah untuk bicara berdua kemudian mengingat-ingat, apa alasan dulu memutuskan untuk bersatu. Tanamkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Allah telah merancang skenario setiap kehidupan seseorang dengan sangat indah. Cobalah bertanya pada diri sendiri, “Diantara jutaan perempuan lain, kenapa yang akhirnya menjadi pasanganku adalah kamu? Kenapa pula harus bertemu di tempat itu? Dan kenapa harus pada jam itu?” pertanyaan itulah yang kemudian akan membuat kita ingat pada masa awal-awal bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Kita akan ingat bahwa ternyata sudah banyak sekali kisah yang telah dilukiskan bersama, telah banyak sekali rasa sakit yang berhasil dilewati hasil dari berjuang bersama.

Kalau menurutku, pernikahan memang tentang berjuang bersama. Berjuang untuk apa? Berjuang untuk menjadi lebih baik. Jadi kalau ditanya mau pasangan yang seperti apa, yang terpenting buatku adalah yang mau berjuang bersamaku menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
Mungkin aku memang bukan yang terbaik. Tapi aku yang tidak akan pernah lelah berjuang untuk terus membaik bersamamu*uhuk

Btw pasangan yang kuceritakan ini laki-lakinya lulusan teknik, dan perempuannya lulusan sastra lho. Trus kenapa? #eaaa