my graduation

my graduation

Sabtu, 17 Juni 2017

Kenangan Ramadhan 4 : Cabut Saja Tuhan, Kalau Kesuksesan Ini Membuat Kami Lupa



Dari kiri : Ridha-Huda-Mas Fery-Rosyda
Selamat malam, Pembaca. Meski besok harus bangun jam 1 untuk SOTR, kusempatkan untuk menulis ilmu menarik yang kudapatkan hari ini. penasaran? Yuk simak :)
Fery Atmaja. Seorang moslem entrepreneur muda dengan wajah mirip seorang pemain film Thailand, kisah pebisnis sukses juga. Ada yang tahu? Ya, pemain film the Billionaire, Pachara Chirathivat. Alhamdulillah, aku dan teman-teman RK dan teman-teman peserta RK Academy diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengan beliau.
Pada awal pembicaraan, Mas Fery memberikan sebuah nasihat yang mirip dengan apa yang selama ini menjadi pedomanku, “Setiap musibah, pasti ada hikmahnya. Jadi, disyukuri saja.” Bedanya dengan pedomanku, aku menanamkan pada diriku bahwa setiap kejadian, apapun itutidak hanya musibah, pastilah mengandung hikmah dan pelajaran kehidupan. Lantas beliau mulai bercerita.
Rupanya, beliau sudah memulai bisnis sejak duduk di bangku kuliah semester 2. Padahal sebelum kuliah, beliau anak yang manja, apa-apa minta orang tua. Sampai pada suatu saat, yakni saat beliau kelas 2 SMA, ayah beliau meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.. Sejak saat itulah kemudian beliau berpikir bahwa mau tidak mau ia harus bisa membiayai hidupnya sendiri. Akhirnya, dengan tekad yang kuat, ketika duduk di bangku kuliah semeseter 2, beliau memulai untuk berbisnis. Bisnis pertama beliau adalah berjualan baju. Beliau membeli baju dari kakak beliau, kemudian menjualnya kembali kepada teman-teman beliau. “Saya selalu berangkat lebih pagi saat mau ke kampus. Saya mampir dulu kos temen-temen saya, saya gedorin pintunya satu-satu, beli..! beli..!” cerita Mas Fery.
Alhamdulillah, selain berjualan baju, Mas Fery juga mendapatkan beasiswa sehingga bisa terus kuliah dan akhirnya lulus. Setelah lulus, Mas Fery berniat untuk membuka usaha. Namun ketika meminta izin kepada ibunya, tidak diperbolehkan. “Sekolah tinggi kok hanya untuk jadi pedagang.” Begitu kata ibunya saat itu. Mas Fery diminta untuk bekerja. Sebab ridha orang tua adalah ridha Allah, Mas Fery pun menuruti permintaan ibunya tersebut. Mas Fery berkali-kali melamar pekerjaan, tidak ada satu pun yang diterima. Akhirnya ibu Mas Fery pun pasrah, lantas membolehkan beliau untuk membuka usaha. Lantas Mas Fery berkata, “Saya ini mau jadi entrepreneur, bukan pedagang. Sebab, pedagang dan entrepreneur itu beda. Kalau pedagang, dapat segitu ya Alhamdulillah. Sebatas itu saja. Tapi kalau entrepreneur, mengonsep usahanya sedemikian rupa supaya bisa terus berkembang dan memberikan banyak manfaat untuk umat.”
Lalu, mulailah Mas Fery membuka usaha pertamanya, yakni kedai jus. Singkat cerita, beliau bangkrut selama 1,5 tahun dan akhirnya kedai jus tersebut mati. Lantas apakah beliau menyerah? Tentu tidak. “Belajar bisnis itu intinya action. Kita akan berkembang dan menjadi kreatif sepanjang proses di dalam aksi tersebut. Sebab kreativitas itu tumbuh bersama proses. Belum tentu sekian banyak materi dan cara bisnis yang saya sampaikan nanti, jika diterapkan persis ke bisnis kalian bisa sukses juga.”
Selanjutnya, beliau mulai menyampaikan beberapa hal yang mesti dilakukan sebelum memulai bisnis. Pertama, memperbaiki hubungan. Memperbaiki hubungan dengan siapa? Dengan Allah, dengan keluarga, juga dengan sahabat dan teman-teman. Memperbaiki hubungan dengan Allah itu sangat penting. Sebab ketika bangkrut itu, Mas Fery merasa ada yang salah. Beliau akhirnya menemukan bahwa kesalahan beliau terletak pada niatnya. Awalnya beliau meniatkan ibadah sebagai usaha, bukan usaha sebagai ibadah. “Ibaratnya seperti ‘Aku mau tahajjud ah, biar warungku ramai, dll.’ Padahal mestinya tidak begitu. Mestinya adalah menjadikan usaha sebagai ibadah, bukan ibadah sebagai usaha. Ingat ya temen-temen, kalau kita mintanya dunia, belum tentu dunianya aja dapet. Tapi kalo kita mintanya akhirat, in sya Allah dunianya dapet, akhiratnya pun dapet.” Terang Mas Fery panjang lebar. Lalu beliau bercerita,  saat bangkrut dan akhirnya menutup kedai jusnya tersebut, beliau memutuskan untuk bersilaturrahmi. Beliau mendatangi teman-teman beliau dan saling bertukar nasihat serta informasi.
Kemudian, menyampaikan beberapa hal yang dapat mempercepat rezeki, yakni bertakwa, bersilaturrahmi, dan bersedekah. Nah, ada hal yang sanagt bagus di sini pembaca. “Balasan Allah atas sedekah kita itu, bukan hanya uang aja. Bukan hanya materi. Kesehatan, umur panjang, itu adalah balasan yang tidak mungkin kita dapatkan dari siapapun kecuali Allah.” Seketika tubuhku merinding. Betapa selama ini kita sering lupa. Ketika sudah sedekah, inginnya di balas harta yang banyak, begitu terus. Padahal benar, panjang umur dalam kebaikan dan takwa adalah nikmat yang tiada bandingnya.
Kalau boleh sedikit share, keluargaku bisa dibilang cukup. Tidak kaya sekali, tapi juga Alhamdulillah tidak pernah kurang. Mungkin tidak glamour dan sering pergi keluar negri, tapi Alhamdulillah keberkahan atas sedekah dan zakat yang tidak pernah lupa dibayarkan itu selalu ada. Ayahku selalu berkata, “Bersyukur, Nak. Banyak orang di luar sana yang kelihatannya sangat kaya tapi tidak bahagia. Bapak sehat, ibu sehat, anak-anak sehat dan berbakti serta rajin belajar adalah anugerah yang luar biasa dari Allah. Alhamdulillah kalau butuh apapun uang juga selalu ada, tidak perlu hutang sana-sini. Balasan Allah itu ga selalu harta yang banyak, Nak. Bersyukur.”
Kemudian Mas Fery melanjutkan, “Allah itu maha tahu kondisi kita. Bisa jadi nih, kalo kita dikasih rezeki lebih sedikit aja, dari apa yang harusnya kita dapet, kita jadi sombong dan jauh dari Allah. Pun saya, saya selalu berdoa, ‘Ya Allah, kalau apa yang ada pada diriku sekarang ini membuatku lupa dan jauh dari-Mu, maka ambil ya Allah. Ambil semuanya sekarang juga, jangan ditunda-tunda.’ Karena apa? Karena sebenarnya ujian terberat itu bukan saat kita jatuh, tetapi justru saat kita sukses.”
Singkat cerita, setelah bersilaturrahmi dan bertanya serta berusaha menyusun proposal bisnis untuk diajukan kepada investor guna mendapatkan modal, mulailah Mas Fery membuka warung makan Preksu (Geprek dan Susu). Sebetulnya ada beberapa cerita yang cukup menarik, Pembaca. Tapi kalau di tulis di sini akan panjang sekali. Hehe. Begitu pula dengan cara-cara bisnis yang beliau terapkan pada warung beliau ini, sebetulnya ada juga. Tapi berhubung tulisan ini kutekankan pada faktor eksternalnya, jadi perihal perbisnisan tidak akan kutulis di sini. Kalau penasaran, lihat catatanku saja ya. Wkwk.
Semoga kesuksesan tidak membuat kita lupa pada Allah ya, Pembaca :)


Rabu, 14 Juni 2017

Kenangan Ramadhan 3 : Merindukan Kejayaan Islam


Dr.Hamid Fahmy Zarkasy

Selamat malam, Pembaca. Sudah puasa hari ke berapa ini? Semoga senantiasa semangat dan istiqomah yah. Kali ini saya akan membagikan sebuah ilmu yang barusan saya dapatkan tadi pagi dari seorang yang sangat luar biasa, yakni Dr.Hamid Fahmy Zarkasy. Siapa sih beliau?
Dr.Fahmy Zarkasy adalah direktur INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), Jakarta; sekaligus wakil rektor UNIDA (Universitas DaarusSalaam). Beliau menamatkan pendidikan S2 (MAEd) dalam bidang Pendidikan di The University of Punjab, Lahore Pakistan dan S2 (M.Phil.) dalam Studi Islam di University of Birmingham United Kingdom. Studi S3 (Ph.D.) bidang Pemikiran Islam diselesaikan di Institute of Islamic Thought and Civilizations (ISTAC) Malaysia.
Pembahasan kali ini bertemakan “Mengembalikan Semangat Belajar Para Pemenang”. Dr. Fahmy Zarkasy mengawali pembahasan kali ini dengan sebuah kalimat yang sangat bagus. “Bicara Islam, artinya bicara kehidupan. Wajah Islam adalah ilmu. Bahkan kata Islam itu sendiri mengandung sebuah ilmu.”
Kita bisa mendekat kepada Allah dengan dua cara. Pertama, beribadah. Ibadah yang dimaksud di sini adalah ibadah mahdah. Seseorang yang sangat rajin beribadah hingga menjadi ‘abid (ahli ibadah), ia akan sangat mungkin dekat dengan Allah. Orang seperti ini, ia akan mempunyai ma’rifah dan biasanya dikarunia karomah (keistimewaan dari Allah yang tidak dimiliki orang lain). Puncak dari orang-orang ini dinamakan ‘arif billah. Cara kedua dalam mendekat kepada Allah adalah melalui ilmu pengetahuan. Menjelaskan sholat, puasa, zakat secara ilmiah. Puncaknya, orang-orang seperti ini disebut ‘alim ulama. Nah, kemudian yang menjadi pertanyaan, mana yang lebih tinggi, seorang ‘arif billah atau ‘alim ulama?
Ternyata jawabannya adalah lebih tinggi seorang ‘alim ulama. Mengapa begitu? Sebab, ‘arif billah mendekatkan diri kepada Allah hanya untuk diri sendiri. Sedangkan ‘alim ulama, mendekatkan diri kepada Allah dengan mencari Ilmu yang kemudian Ilmu tersebut dimanfaatkan orang banyak. Inilah mengapa dalam penggalan QS.Al-Mujadalah ayat 11, bunyinya adalah ‘ilma darojaat. Contoh yang sangat simpel, orang-orang yang menulis buku. Bisa dibayangkan bagaimana royalti pahalanya? Luar biasa besar. Setiap bukunya dibaca orang lain, maka pahalanya terus mengalir. Dari orang yang membaca tersebut kemudian mengajarkannya kepada orang lain, tambah lagi pahalanya. Sebab itulah seorang ‘alim mempunyai derajat yang lebih tinggi, ia bisa mempengaruhi jutaan manusia.
Masuk kepada ilmu. Tradisi ilmu di dalam Islam, sejatinya lebih dahsyat daripada ilmu tasawuf. Sebab, ilmu dalam Islam sumbernya adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang sangat luar biasa dan keberadaannya sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah sebuah mukjizat. Bila di masa sekarang kita ingin kembali merintis kejayaan Islam, kuncinya adalah kembali kepada Al-Qur’an. Apa yang dimaksud dengan kembali kepada Al-Qur’an? Mengaji? Menghafal? Ya. Tapi tidak hanya sekadar itu. Umat ini tidak hanya membutuhkan seorang yang hafal Al-qur’an tetapi juga yang paham isinya. Sebab dikatakan sahabat pada masa Rasul, “Kami tidak melewatkan satu surah pun kecuali kami telah membacanya, menghafalnya, memahaminya, dan mengamalkannya.” Luar biasa bukan? Umat butuh seorang yang bisa mencerahkan kehidupan ini dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Caranya, dengan konsen terhadap bidang yang ditekuni, kemudian masukkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam pembahasannya.
Al-Qur’an adalah sebuah konseptual network. Kata-kata di dalam Al-Qur’an mengandung makna yang mempunyai hubungan antara satu dengan yang lain. Contohnya, kata tazkiya yang artinya mensucikan. Di dalam Al-Qur’an, kata tazkiya ini kemudian ditemukan selalu berhubungan dengan diri atau harta, sehingga ada mensucikan diri dan mensucikan harta. Karena itulah kemudian mensucikan harta disebut dengan zakat. Zakat itu sendiri memiliki makna membuang harta (memberikan sebagian harta yang kita miliki kepada orang lain yang lebih membutuhkan). Hal ini selaras dengan mensucikan diri berupa sholat, puasa, yang sejatinya juga membuang, yakni membuang dosa. Nah, ketiga hal tersebut saling berhubungan, bukan?
Contoh lain, kata insan, basyar, dan rijal. Ketiga kata tersebut secara otomatis menjelaskan tingkatan-tingkatan manusia. Ketiga kata tersebut memiliki makna yang sama, yakni manusia, tetapi memiliki perbedaan kedudukan. Inilah yang kemudian disebut dengan konseptual network.
Kemudian masuk kepada hubungan ilmu pengetahuan dengan agama. Berfikir tentang penciptaan alam, goal-nya adalah beriman. Seperti yang disebutkan dalam QS.Al Mujadalah : 11, 
"يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ......"
"niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Dalam ayat tersebut terdapat kata iman dan ilmu. Hal ini sama halnya dengan berdzikir dan berfikir. Antara ilmu pengetahuan dan agama tidak dapat dipisahkan. Betapa banyak sekarang orang-orang yang mengatakan, jangan bawa-bawa agama dalam sains. Bagaimana itu? Padahal jelas di dalam Al-Qur’an, berdzikir dan berfikir adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan atau dikerjakan salah satunya saja.
Ada sebuah nasihat yang sangat bagus di sela pembahasan ini. “Barangsiapa mengajar ilmu, maka Allah akan ajarkan padanya ilmu yang belum ia ketahui.” Masya Allah.. Jadi, jangan tunggu pintar dulu baru mengajar. Sebab dengan mengajar itulah kemudian Allah akan mengajarkan pada kita ilmu-ilmu yang belum kita ketahui. Dr.Fahmy Zarkasy menceritakan, ulama-ulama terdahulu menulis apa-apa yang diajarkan guru-guru mereka, sama persis. Hafalan dan ingatan mereka begitu kuat. Setelah itu, mereka mengajarkannya kepada orang lain yang qadarullah dikemudian hari pun menjadi ulama. Nah, mestinya kita-kita ini, lepas mengikuti sebuah kajian, ajarkan ilmu yang kita dapat dalam kajian tersebut kepada orang lain. Begitu seterusnya, sehingga akan semakin banyak orang yang mengerti ilmu tersebut. Hubungannya dengan wasiat ilmu, Dr.Fahmy Zarkasy menyampaikan bahwa nilai dari anak yang soleh dengan ilmu yang bermanfaat adalah sama. Jadi bisa dikatakan melahirkan anak dengan melahirkan buku itu sama. Kalau tidak punya anak, maka harus punya buku. Kalau tidak punya buku, maka harus bangun masjid. Bagus lagi, punya anak, punya buku, dan bisa bangun masjid. Masya Allah…
Kembali kepada ilmu. Dalam tradisi Islam, pembelajaran sebuah ilmu asasnya adalah kebermanfaatan. Untuk apa belajar astronomi? Untuk memudahkan menentukan awal puasa Ramadhan dan waktu sholat. Semuanya kembali pada kemudahan berislam. Contoh lain, Ibnu Batutah. Beliau adalah seorang traveller muslim yang akhirnya berhasil membuat peta dunia. Al-Farobi, seorang yang sangat handal dalam memainkan musik, ia bisa menguasai penonton dengan musik-musik yang dimainkannya. Ibnu Haitsam, pakar di bidang optik, yang dengannya kita bisa menikmati kamera saat ini. Pun Ibnu Khaldun, seorang pakar Sosiologi, dan Ibnu Rusyd, ulama yang menciptakan jembatan antara agama dengan filsafat. Pecapaian umat Islam di bidang sains ini bahkan mengalahkan pencapaian filsafat di negara-negara pendahulu seperti Yunani, Romawi, Persia, dll. Nah, lalu, apa kontribusi kita untuk kemajuan Islam? Sudahkah kita menekuni bidang kita dengan menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an di dalamnya?

Begitulah garis besar materi yang Dr.Fahmy Zarkasy sampaikan pagi tadi. Ada beberapa kalimat-kalimat yang sangat menarik dan terus membuatku ingat.
“Kalau bikin skripsi soal ilmu yang dipelajari di kelas, diajarkan oleh dosen, itu biasa. Buatlah dengan menghubungkannya dengan Al-Qur’an. Sebab semua ilmu sumbernya adalah Al-Qur’an.”
“Penampilan dosen, lisannya fasih terhadap ayat-ayat Allah.”
“Ulama dam konteks scientist.
“Backgroundnya sains, wajahnya ustad, lisannya qur’an dan sains.”
“Mengaji+memahami+kaitkan dengan disiplin ilmu yang kita pelajari.”
Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang semoga bisa membangkitkan semangat, utamanya untuk diriku pribadi. Berawal dari pertanyaan seorang peserta, “Bisakah kita yang sekarang ini menjadi setaraf ‘alim ulama?”
Dr. Fahmy Zarkasy menjawab, “Bisa.” Hanya saja, generasi sekarang dengan dulu memang berbeda. “Ayah saya dulu, dari Ponorogo ke Jogja untuk mendatangi sebuah konferensi Islam. Lepas dari Jogja, beliau ke Solo jalan kaki, baru kemudian naik bis kembali ke Ponorogo. Orang dulu itu perjuangannya begitu. Berpayah-payah, kerja keras, makanya sukses. Nah kalo sekarang ini, menurut penelitian Sosiologi ya, generasinya malas. Manja-manja. Dari Surabaya ke Jogja saja dianter. Sekeluarga lagi. Enak memang, tapi yang seperti itu bukan mental pejuang.” Lantas bagaimana?
“Ya yakin. Usaha yang kuat, kerja keras. Saya senang dengan program one day one juz. Tapi masih kurang sebenarnya. Mestinya, one day one juz one tafsir. Benahi baca Al-Qur’annya, pahami isinya, belajar tafsir, lalu kaitkan dengan disiplin ilmu yang kita pelajari. Imam Syafi’I itu kalau belum paham akan sebuah buku, dibaca sekian puluh kali sampai paham. Begitu juga Ibnu Sina, seorang pakar di bidang Kedokteran ketika membaca sebuah buku filsafat karya Al-Farobi. Awalnya Ibnu Sina tidak paham. Tetapi kemudian beliau membacanya sampai 60 kali dan akhirnya paham. Setelah itu, Ibnu Sina menjadi pakar (juga) dalam bidang Filsafat dan mampu menulis buku filsafat yang jauh lebih baik dari pada karya Al-Farobi.”
Masya Allah.. luar biasa sekali ya, Pembaca. Betul-betul harus banyak belajar dari ulama-ulama terdahulu. Semangat belajarnya masya Allah :’) Sebetulnya masih ada beberapa hal yang dibahas oleh Dr. Fahmi Zarkasy, Pembaca. Hanya saja aku belum terlalu paham sehingga belum berani menuliskannya di sini. Semoga yang sedikit ini bermanfaat ya, Pembaca. Semangat mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan mengajarkannya pada orang lain J Doaku, semoga Allah memberiku kesempatan untuk bisa bertemu lagi, bahkan belajar dan menjadi murid beliau (Dr.Fahmy Zarkasy). Semoga kita semua senantiasa Allah mudahkan dalam mempelajari ilmu-Nya, mengaji dan mengkaji Al-Qur’an, menghafal, memahami, dan mengamalkan setiap isinya. Aamiin..

Minggu, 28 Mei 2017

Kenangan Ramadhan 2 : Jadi Pemain Sepak Bola, Boleh?



Hari kedua puasa, indah sekali rasanya. Semoga pelajaran dari Allah selalu menyertai kita ya pembaca. Aamiin..
Ceritanya, sudah sejak jauh-jauh hari aku dan komunitasku yang bergerak di bidang infaq dan sadaqoh merencanakan untuk buka bersama dengan anak yatim. Setiap bulan Ramadhan sejak tahun 2014 alhamdulillah memang sudah rutin, tetapi di Solo. Nah, karena sudah buka cabang di Jogja, jadilah buka bersama dengan anak yatim kali ini kami lakukan di Jogja, tepatnya di Panti Yatim dan Dhuafa Nurul Haq Madania. Oh iya lupa, nama komunitas kami adalah Firdausul Amal.
Siang hari pukul satu, kami berkumpul di UIN Sunan Kalijaga, sebab panti asuhan yang akan kami datangi lokasinya dekat dari sana. Pesertanya cukup banyak, aku terharu. Tidak semuanya anggota Firdausul Amal memang, ada yang hanya kali ini saja ingin ikut bukber dengan anak yatim. Tapi toh itu bukan masalah. Aku justru sangat bersyukur sekali ketika yang datang bisa sangat banyak.
Pukul dua lebih sedikit, kami berangkat. Saat itu, perwakilan Firdausul Amal cabang Solo baru ada aku dan Ismiya karena aku dan Ismi kuliah di Jogja. Sesampainya di panti, kami disambut dengan sebuah ruangan yang cukup besar dan rapi. Ada beberapa foto kegiatan panti yang tertempel di dinding-dinding. Tak lama setelah itu, alunan musik islami mulai terdengar. Aku harap-harap cemas menanti teman-temanku dari Solo yang katanya juga akan datang ke sini. Kabar baiknya, sekitar pukul setengah tiga aku melihat Ardi dan setelah itu muncul teman-temanku yang lain. Aku segera beranjak dari tempat duduk dan menyalami mereka satu persatuyang akhwat pastinya. Oh Allah, rindu sekali rasanya. Apalagi dengan Mutia, rasanya sejak lulus belum pernah kami bertemu sebab ia kuliah di Bandung.
Begitu adzan ashar berkumandang, kami segera wudhu dan sholat. Setelah itu, acara dimulai. Dibuka oleh dua pembawa acara yang lucumenurutku, yaitu Ardi dan Al. Bisa sama-sama A begitu ya? Oke tidak penting, lanjut. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh perwakilan Firdausul Amal Jogja dan Solo. Setelah itu sambutan oleh pengasuh panti. Di sinilah pelajaran Allah itu hadir. 
Nama pengasuh dari panti asuhan Nurul Haq Madania ini ialah Bapak Suyanta. Sosoknya ramah dan pandai membuat guyon di sela-sela sambutannya. Tapi sambutan kali ini berbeda. Kalau kata Ardi sih sambutan plus-plus. Yap, plus-plusnya adalah nasihat.
“Di panti ini ada balita, anak-anak, anak berkebutuhan khusus, juga lansia. Hanya saja lokasinya tidak dijadikan satu.” Terang Pak Suyanta.
“Ada yang pakai kursi roda, ada yang tuna wicara, ada yang jalannya menggunakan pantat (ngesot). Yang tuna wicara itu, kalau saya gambarkan sebuah rumah, dia menangis. Sebab sejak berada di sini ia tidak tahu siapa ayahnya, siapa ibunya, bahkan tidak tahu siapa namanya. Ya, dia dibuang ke panti ini.” cerita Pak Suyanta panjang lebar.
Lalu katanya lagi, “Yang lansia, kadang ada yang belum sampai kamar mandi sudah lepas celana, bahkan ada yang sudah jongkok dan hadapnya bukan ke tempat yang sepi. Tapi ya begitulah lansia. Kelak kalian juga akan menjadi seorang lansia, kan? Ya kalau tidak meninggal di usia muda. Nah kalian yang dari Firdausul Amal ini, saya tanya berani tidak mengunjungi yang lansia? Sebab kalau kunjungannya ke yang balita atau anak-anak itu sudah biasa sekali.”
Mulai dari sini, aku terdiam. Memang masih banyak sekali ya, orang-orang yang hidupnya tidak lebih beruntung daripada kita. Lantas masih pantaskah kita untuk sombong dan berbangga diri?
Kemudian pak Suyanta bercerita mengenai hidupnya. Dulu, beliau juga lahir dari sebuah keluarga yang miskin. Saking miskinnya, sampai tidak bisa melanjutkan sekolah menengah pertama. Tetapi dengan tekad dan usaha yang kuat, akhirnya beliau bisa melanjutkan mts sampai jenjang perguruan tinggi. Hingga akhirnya, beliau berhasil menjadi dosen di empat perguruan tinggi negri. Qadarullah, gempa jogja terjadi. Menghilangkan ribuan nyawa dan meninggalkan ratusan tangis anak-anak. Akhirnya, Pak Suyanta resign dari keempat perguruan tinggi tersebut dan memutuskan untuk berfokus pada panti asuhan. Katanya, “Saat itu yang mau dosen sudah banyak. Panti yang sedikit. Karenanya saya memutuskan untuk resign dan memilih fokus di panti.”
Aku terkagum-kagum. Luar biasa sekali, ya. Tidak heran bila Rasulullah sampai memberikan perumpamaan bagi orang yang menyantuni anak yatim, posisinya di surga kelak bersama Rasulullah akan seperti jari telunjuk dan jari tengah. Dekat sekali. 

Selesai sambutan, acara selanjutnya adalah penampilan nasyid. Ah, pembaca harus tahu. Bagus sekali penampilan nasyidnya. Mungkin bukan nasyid ya istilahnya. Hadrah, mungkin? Ya, yang semacam itulah pokoknya. Hehe.
Setelah itu kami bermain games. Di sini aku juga mendapat pelajaran berharga. Melihat bagaimana anak-anak dengan sangat bersemangatnya berebut maju ke depan dan menjawab soal. Aku hanya tiba-tiba teringat saja perkataan Pak Suyanta tadi, notabene mereka tidak mempunyai orang tua. Ah, sedih rasanya kalau melihat senyum mereka itu sebenarnya mengandung luka.
Setelah cukup lama bermain games, Ustad Sulthon selaku pembina Firdausul Amal maju untuk memberikan beberapa nasihat. Intinya, kita memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dalam kondisi dan keadaan yang seperti apa. Tetapi kita bisa memilih akan meninggal dalam kondisi dan keadaan yang seperti apa. Lalu, saat ada salah seorang anak yang ditunjuk untuk maju dan menjawab pertanyaan, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”, ia menjawab, “Pemain sepak bola, agar bisa membahagiakan orang tua.” Oh Allah, aku terenyuh sekali mendengarnya. Cita-citanya sungguh ditekadkannya untuk membuat orangtuanya bahagia. Semoga bisa tercapai ya, dek. Aamiin..
Setelah nasihat dari Ustad Sulthon, kami bersiap untuk berbuka puasa. Setelah berbuka, kami segera sholat maghrib dan bersiap untuk pulang. Oh iya, foto bersama dulu tentunya. Alhamdulillah teman-temanku dari Assalaam cukup banyak yang hadir. Terima kasih untuk Salwa, Hanif, Fifi, Fika, terkhusus Mutia, Immel, Ayu, dan Rinis yang sudah jauh-jauh datang untuk ikut kegiatan yang in sya Allah penuh manfaat ini. Terima kasih juga untuk Ustad Sulthon, Ardi, Sani, Atma, Doddy, Albagus, dan Fuad yang sudah meluangkan waktunya untuk turut serta dalam kegiatan ini.
At last, special thanks to Ismi Wakhidatul Hikmah yang sudah menjadi perantara sampainya pelajaran kehidupan yang hendak Allah berikan padaku hari ini, serta sudah berlelah lillah untuk keberlangsungan dan kelancaran kegiatan ini. Sampaikan terima kasihku juga untuk teman-teman UIN dan sahabat panti yaa. Oh iya, terima kasih juga untuk Ardi yang sudah jadi penunjuk jalanku sampai ring road. Wkwk. Semoga kegiatan ini berkah dan donatur Firdausul Amal bisa semakin banyak dan semakin semangat menebar kebaikan untuk orang lain :)
Sekali lagi, terima kasih untuk semua anggota yang juga sekaligus donatur Firdausul Amal. Terima kasih sahabat panti. Terima kasih adik-adik Panti Yatim dan Dhuafa Nurul Haq Madania. Terima kasih Allah :)

Catt : Bagi yang ingin tahu lebih banyak soal Firdausul Amal atau bahkan langsung ingin bergabung menjadi donatur, bisa langsung menghubungiku :)