my graduation

my graduation

Minggu, 19 Februari 2017

Kali ini, Malming Tidak Sendiri~



Dari kiri : Bang Chandra, Pak Yoyok, Rosyda, Mba Devi
Selamat pagi, Pembaca :D
Luar biasa di minggu pagi yang cerah ini aku sudah sembuh dari segala rasa sakit yang membuatku beberapa hari ini tampak begitu loyo. Penasaran apa obatnya? Yuk simak cerita kali ini :D
Sabtu pagi setelah taekwondo, aku segera mencuci baju kemudian membereskan kamar. Waktuku tidak banyak. Setelah melakukan berbagai macam pekerjaan rumah, aku segera sarapan dan berangkat ke rumah Ustadzah Husna untuk menyetorkan hafalan. Bukan menyetorkan sebenarnya. Muroja’ah. Beberapa hari ini entah kenapa aku banyak tersakiti sehingga membuatku susah fokus. Jadilah aku hanya bisa muroja’ah saja, tidak menambah hafalan.
Selesai muroja’ah, aku segera kembali ke asrama dan istirahat sebentar. Selepas dhuhur, aku harus keluar lagi karena sudah berjanji untuk menyelesaikan rancangan program kerja organisasi dan mencicil beberapa tugas. Hingga sore hari, aku memutuskan untuk menengok kampus sebentar, kemudian pulang. Menjelang maghrib, aku segera membersihkan diri, dan bersiap untuk keluar lagi. Jadwal untuk bertemu dengan Pak Yoyok (pemilik Waroeng Spesial Sambal) dimajukan malam itu. Rencana awalnya adalah malam ini, tetapi kemudian dimajukan. Alhamdulillah ya. Akhirnya malam mingguan tidak sendiri. Wkwk
Ada kejadian nyasar lagi malam itu. Kalau bisa mendapat penghargaan, mungkin aku akan dapat penghargaan ternyasar ^^’ Karena entah kenapa, setiap menuju tempat baru aku selalu nyasar meski sudah memanfaatkan google map. Tapi, tak apalah. Sesekali malam minggu menghirup udara malam jalanan kota Jogja yang ramai lebih lama. Sesampainya di lokasi, aku sedikit terheran-heran. Betul inikah tempatnya? Sepi sekali, membuatku sedikit merasa horor. Wkwk
Begitu masuk, aku sedikit malu karena rupanya Bang Chandra, Mba Devi, Pak Yoyok, dan Pak Wid sudah hadir. Ah, Rosyda sih pake acara kesasar dulu. Tak apalah. Segera setalah aku sampai, aku dipersilakan untuk makan malam terlebih dahulu. Makan malamnya lezat sekali, Alhamdulillah. Terima kasih, Pak Yoyok :D
Setelah makan, aku segera mencuci tangan dan bersiap untuk melakukan diskusi. Nah, inilah obatnya.
Diawali dengan pembahasan mengenai bentuk kerja sama pembuatan buku yang akan dilakukan antara RK dan SS, Pak Yoyok sedikit demi sedikit bercerita tentang kehidupan. Banyak sekali yang beliau ceritakan. Tapi, yang paling menjadi obat bagiku saat itu adalah cerita mengenai Nabi Musa. Pak Yoyok mendapatkan cerita ini dari orang lain juga sebetulnya. Kemudian beliau  menceritakannya kepada kami.
Cerita Nabi Musa saat dikejar pasukan Fir’aun kalian pasti ingat. Lantas apa yang diperintahkan Allah kepada Nabi Musa? Yap. Benar sekali. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut, hingga kemudian laut itu terbelah. Kalau dipikir-pikir, mengapa tidak Allah saja yang langsung membelahkan lautan tersebut untuk Nabi Musa? Lebih mudah bukan? Tapi mengapa Nabi Musa masih diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya? Ini pertanyaan pertama.
Pertanyaan kedua, mengapa harus dengan tongkat? Mengapa Allah tidak memerintahkan untuk melemparkan batu, atau pasir, atau yang lain? Bisa jadi bukan? Tapi mengapa justru dengan tongkat yang ada di genggaman Nabi Musa?
Jawabannya adalah, karena segala sesuatu itu perlu adanya usaha. Bahkan seorang nabi pun, tidak bisa meminta kepada Allah lalu seketika “bluk” terjadi. Nabi Musa pun perlu untuk memukulkan tongkatnya sebagai bentuk dari sebuah usaha. Lantas, mengapa dengan tongkat? Karena itu adalah yang terdekat dengan Nabi Musa. Apa yang terdapat dalam genggaman Nabi Musa saat itu adalah tongkat. Sehingga kemudian Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya untuk membelah laut. Lalu, apa yang bisa diambil dari cerita ini?
Tentu, berusalah semaksimal mungkin dengan memanfaatkan apa yang paling dekat dengan diri kita. Ketika Pak Yoyok ditanya, bisnis apa yang paling menguntungkan, beliau menjawab bukan dengan teori ekonomi dan semacamnya. Beliau berkata, “Ya saya ambil yang paling dekat dengan saya. Karena saya hobi masak, suka masak, maka saya buka warung.” Setiap orang memiliki jalannya sendiri, bukan? Tinggal bagaimana kemudian memaksimalkan usaha dengan cara atau hal yang paling dekat dengan diri kita.
Aku menghela nafas, terharu. Terima kasih, Pak Yoyok..
Banyak pelajaran yang kudapatkan dari beliau. Diantaranya, meski SS sudah memiliki lebih dari 70 cabang dan 3500 karyawan, Pak Yoyok selaku pimpinan tertinggi tidak kemudian serta merta santai dan asik jalan-jalan. Beliau masih ngantor, masak, menguji rasa masakan, memindahkan pot, mencari ikan, bahkan kulakan bahan-bahan makanan. Sehingga, tidak heran ketika beliau lebih mudah ditemui di malam hari karena siang hari beliau begitu padat.
Tak hanya itu, Pak Yoyok adalah sosok yang senantiasa merasa cukup. Beberapa kasus yang menurut pakar ekonomi adalah sebuah kerugian, Pak Yoyok tidak menganggapnya demikian. Sehingga ketika ditanya apakah SS pernah jatuh, beliau mengatakan tidak. Karena bagi beliau, selama kurun waktu 15 tahun ini, SS tidak pernah merasa jatuh, bahkan beliau menemukan adanya keindahan pada angka minus. Pak Yoyok mempunyai prinsip, bahwa angka-angka yang terlihat itu bukanlah yang sebenarnya. Justru angka-angka yang sebenarnya adalah angka-angka yang tak terlihat, dan angka-angka itulah yang tak ternilai harganya. Seperti loyalitas tim, kekeluargaan, keberkahan, kebahagiaan, dan sebagainya. “Ini adalah tentang kecerdasan batin menjaring nilai-nilai tak ternilai” Ungkap beliau.
Sebagai penutup, beliau memberikan analogi dari sebuah keberkahan. Ketika katakanlah ada si A dan si B yang sama-sama mendapatkan gaji 5 juta. Ketika si A dengan 5 jutanya merasa lebih bahagia, lebih bermanfaat, dan lebih memberikan keindahan, di situlah letak berkahnya. Bukan seperti si B yang ketika dengan 5 jutanya itu ia justru terus merasa kurang dan berfikirnya adalah bagaimana cara untuk terus bisa mendapat uang yang lebih dan lebih lagi.
Terima kasih, Pak Yoyok. Apa yang saya tuliskan di sini tidak ada apa-apanya dengan apa yang saya rasakan tadi malam. Begitu luar biasa, menyembuhkan hati saya yang sempat sakit.

Nantikan buku perjalanan kehidupan SS ya. Doakan proses pembuatan buku ini lancar dan berkah :D

Selasa, 14 Februari 2017

Belajar dari Ibu Sutar : Saya Sudah Kempot dan Ompong


Tak banyak pribadi yang mau memperbaiki kesalahan di masa senja. Kebanyakan dari mereka memilih untuk melanjutkan saja, apa-apa yang sudah pernah didapat tanpa peduli apakah hal tersebut sudah benar atau masih salah. Namun, lain halnya dengan sosok ibu yang satu ini. Di usianya yang sudah cukup tua, semangatnya untuk memperbaiki bacaan Al-Quran tak pernah habis.
Ibu Sutar namanya. Beliau merupakan salah satu warga dari Padukuhan Plagrak, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Usianya sekitar 60 tahun. Beliau memiliki 2 anak, yakni satu laki-laki dan satu perempuan. Anak laki-lakinya merantau di Semarang, sedang anak perempuannya tinggal di rumah. Ibu Sutar telah memiliki 2 orang cucu, yang pertama kelas 5 SD, dan yang kedua masih berumur 4 tahun.
Meski telah memasuki usia lanjut, Ibu Sutar tidak membatasi dirinya untuk terus belajar. Beliau dengan senang hati datang ke Masjid Plagrak setiap Sabtu malam untuk belajar iqra’. Bersama teman-teman dari Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta, Ibu Sutar kembali belajar bacaan Al-Quran dari nol. Kalau ditanya sudah bisa membaca Al-Quran atau belum, maka tentu jawabannya adalah sudah. Akan tetapi, masih ada beberapa kesalahan yang mesti dibenahi. Apakah Ibu Sutar malu? Tidak. Beliau justru senang sekali. Kedatangan teman-teman dari Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta memberikan harapan baru bagi Ibu Sutar untuk bisa memperbaiki bacaan Al-Quran agar menjadi benar dan lebih baik lagi.
Di tengah tengah pengajaran, Ibu Sutar tertawa karena merasa lucu dengan bentuk mulut yang benar ketika membaca Al-Quran, lantas menutup wajahnya dengan buku. “Saya sudah kempot dan ompong, Mba. Malu jadinya.” Lantas beliau tertawa lagi. Sungguh yang membuat beliau malu bukanlah ketika harus kembali belajar memperbaiki bacaan Al-Quran dari nol, tetapi karena gigi beliau yang satu persatu mulai tanggal. Namun, seiring dengan berkurangnya nikmat jasmani tersebut, Allah memberikan ganti berupa nikmat rohani yang jauh lebih besar. Wajah beliau amat berseri ketika belajar al quran, suaranya lantang, dan semangatnya membara.
Siapapun yang melihat bagaimana Ibu Sutar belajar iqra, tentu akan menitikkan air mata meski sedikit. Sebab, beliau mengulangi bacaan dari iqra satu. Dari huruf-huruf tunggal seperti alif, ba, ta, tsa, dan selanjutnya. Apakah beliau belum bisa? Sudah. Lantas untuk apa mengulang? Untuk memperbaiki  bacaan yang dulu sudah diajarkan tetapi rupanya kurang sempurna. Beliau belajar lagi bagaimana mengucapkan huruf ja yang benar, huruf ka, huruf ‘a, dan huruf-huruf yang lain.
Ibu Sutar belajar di Masjid Plagrak bersamaan waktunya dengan anak-anak. Tidak banyak ibu-ibu yang mau dan bisa seperti ini. Belajar satu tempat dengan anak-anak kecil yang bisa jadi sudah lebih mahir membaca al qurannya. Tetapi, Ibu Sutar tidak malu. Beliau mengungkapkan bahwa kehadiran teman-teman dari Rumah Kepemimpinan sangat berarti bagi beliau. Beliau pun meminta agar teman-teman dari Rumah Kepemimpinan bisa datang lebih sering, tak hanya satu minggu sekali. Karena sebetulnya beliau juga belajar mengaji setiap hari. Akan tetapi, beliau sendirian. Tak ada yang mengajari dan membetulkan jika salah.
Dari Ibu Sutar kita bisa mengambil hikmah besar bahwa belajar sungguh tidak mengenal usia. Keriputnya jemari mestinya tak mengahalangi kita untuk bisa terus belajar. Pandangan yang mulai kabur serta pendengaran yang mulai luntur, mestinya menjadi saksi atas tekad kuat dan semangat kita untuk terus bisa memperbaiki diri. Dari Ibu Sutar kita belajar, bahwa hidup bukan tentang cepat tidaknya menjadi yang terhebat, tapi keras tidaknya perjuanganmu menjadi yang terbaik.