my graduation

my graduation

Minggu, 28 Mei 2017

Kenangan Ramadhan 2 : Jadi Pemain Sepak Bola, Boleh?



Hari kedua puasa, indah sekali rasanya. Semoga pelajaran dari Allah selalu menyertai kita ya pembaca. Aamiin..
Ceritanya, sudah sejak jauh-jauh hari aku dan komunitasku yang bergerak di bidang infaq dan sadaqoh merencanakan untuk buka bersama dengan anak yatim. Setiap bulan Ramadhan sejak tahun 2014 alhamdulillah memang sudah rutin, tetapi di Solo. Nah, karena sudah buka cabang di Jogja, jadilah buka bersama dengan anak yatim kali ini kami lakukan di Jogja, tepatnya di Panti Yatim dan Dhuafa Nurul Haq Madania. Oh iya lupa, nama komunitas kami adalah Firdausul Amal.
Siang hari pukul satu, kami berkumpul di UIN Sunan Kalijaga, sebab panti asuhan yang akan kami datangi lokasinya dekat dari sana. Pesertanya cukup banyak, aku terharu. Tidak semuanya anggota Firdausul Amal memang, ada yang hanya kali ini saja ingin ikut bukber dengan anak yatim. Tapi toh itu bukan masalah. Aku justru sangat bersyukur sekali ketika yang datang bisa sangat banyak.
Pukul dua lebih sedikit, kami berangkat. Saat itu, perwakilan Firdausul Amal cabang Solo baru ada aku dan Ismiya karena aku dan Ismi kuliah di Jogja. Sesampainya di panti, kami disambut dengan sebuah ruangan yang cukup besar dan rapi. Ada beberapa foto kegiatan panti yang tertempel di dinding-dinding. Tak lama setelah itu, alunan musik islami mulai terdengar. Aku harap-harap cemas menanti teman-temanku dari Solo yang katanya juga akan datang ke sini. Kabar baiknya, sekitar pukul setengah tiga aku melihat Ardi dan setelah itu muncul teman-temanku yang lain. Aku segera beranjak dari tempat duduk dan menyalami mereka satu persatuyang akhwat pastinya. Oh Allah, rindu sekali rasanya. Apalagi dengan Mutia, rasanya sejak lulus belum pernah kami bertemu sebab ia kuliah di Bandung.
Begitu adzan ashar berkumandang, kami segera wudhu dan sholat. Setelah itu, acara dimulai. Dibuka oleh dua pembawa acara yang lucumenurutku, yaitu Ardi dan Al. Bisa sama-sama A begitu ya? Oke tidak penting, lanjut. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh perwakilan Firdausul Amal Jogja dan Solo. Setelah itu sambutan oleh pengasuh panti. Di sinilah pelajaran Allah itu hadir. 
Nama pengasuh dari panti asuhan Nurul Haq Madania ini ialah Bapak Suyanta. Sosoknya ramah dan pandai membuat guyon di sela-sela sambutannya. Tapi sambutan kali ini berbeda. Kalau kata Ardi sih sambutan plus-plus. Yap, plus-plusnya adalah nasihat.
“Di panti ini ada balita, anak-anak, anak berkebutuhan khusus, juga lansia. Hanya saja lokasinya tidak dijadikan satu.” Terang Pak Suyanta.
“Ada yang pakai kursi roda, ada yang tuna wicara, ada yang jalannya menggunakan pantat (ngesot). Yang tuna wicara itu, kalau saya gambarkan sebuah rumah, dia menangis. Sebab sejak berada di sini ia tidak tahu siapa ayahnya, siapa ibunya, bahkan tidak tahu siapa namanya. Ya, dia dibuang ke panti ini.” cerita Pak Suyanta panjang lebar.
Lalu katanya lagi, “Yang lansia, kadang ada yang belum sampai kamar mandi sudah lepas celana, bahkan ada yang sudah jongkok dan hadapnya bukan ke tempat yang sepi. Tapi ya begitulah lansia. Kelak kalian juga akan menjadi seorang lansia, kan? Ya kalau tidak meninggal di usia muda. Nah kalian yang dari Firdausul Amal ini, saya tanya berani tidak mengunjungi yang lansia? Sebab kalau kunjungannya ke yang balita atau anak-anak itu sudah biasa sekali.”
Mulai dari sini, aku terdiam. Memang masih banyak sekali ya, orang-orang yang hidupnya tidak lebih beruntung daripada kita. Lantas masih pantaskah kita untuk sombong dan berbangga diri?
Kemudian pak Suyanta bercerita mengenai hidupnya. Dulu, beliau juga lahir dari sebuah keluarga yang miskin. Saking miskinnya, sampai tidak bisa melanjutkan sekolah menengah pertama. Tetapi dengan tekad dan usaha yang kuat, akhirnya beliau bisa melanjutkan mts sampai jenjang perguruan tinggi. Hingga akhirnya, beliau berhasil menjadi dosen di empat perguruan tinggi negri. Qadarullah, gempa jogja terjadi. Menghilangkan ribuan nyawa dan meninggalkan ratusan tangis anak-anak. Akhirnya, Pak Suyanta resign dari keempat perguruan tinggi tersebut dan memutuskan untuk berfokus pada panti asuhan. Katanya, “Saat itu yang mau dosen sudah banyak. Panti yang sedikit. Karenanya saya memutuskan untuk resign dan memilih fokus di panti.”
Aku terkagum-kagum. Luar biasa sekali, ya. Tidak heran bila Rasulullah sampai memberikan perumpamaan bagi orang yang menyantuni anak yatim, posisinya di surga kelak bersama Rasulullah akan seperti jari telunjuk dan jari tengah. Dekat sekali. 

Selesai sambutan, acara selanjutnya adalah penampilan nasyid. Ah, pembaca harus tahu. Bagus sekali penampilan nasyidnya. Mungkin bukan nasyid ya istilahnya. Hadrah, mungkin? Ya, yang semacam itulah pokoknya. Hehe.
Setelah itu kami bermain games. Di sini aku juga mendapat pelajaran berharga. Melihat bagaimana anak-anak dengan sangat bersemangatnya berebut maju ke depan dan menjawab soal. Aku hanya tiba-tiba teringat saja perkataan Pak Suyanta tadi, notabene mereka tidak mempunyai orang tua. Ah, sedih rasanya kalau melihat senyum mereka itu sebenarnya mengandung luka.
Setelah cukup lama bermain games, Ustad Sulthon selaku pembina Firdausul Amal maju untuk memberikan beberapa nasihat. Intinya, kita memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dalam kondisi dan keadaan yang seperti apa. Tetapi kita bisa memilih akan meninggal dalam kondisi dan keadaan yang seperti apa. Lalu, saat ada salah seorang anak yang ditunjuk untuk maju dan menjawab pertanyaan, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”, ia menjawab, “Pemain sepak bola, agar bisa membahagiakan orang tua.” Oh Allah, aku terenyuh sekali mendengarnya. Cita-citanya sungguh ditekadkannya untuk membuat orangtuanya bahagia. Semoga bisa tercapai ya, dek. Aamiin..
Setelah nasihat dari Ustad Sulthon, kami bersiap untuk berbuka puasa. Setelah berbuka, kami segera sholat maghrib dan bersiap untuk pulang. Oh iya, foto bersama dulu tentunya. Alhamdulillah teman-temanku dari Assalaam cukup banyak yang hadir. Terima kasih untuk Salwa, Hanif, Fifi, Fika, terkhusus Mutia, Immel, Ayu, dan Rinis yang sudah jauh-jauh datang untuk ikut kegiatan yang in sya Allah penuh manfaat ini. Terima kasih juga untuk Ustad Sulthon, Ardi, Sani, Atma, Doddy, Albagus, dan Fuad yang sudah meluangkan waktunya untuk turut serta dalam kegiatan ini.
At last, special thanks to Ismi Wakhidatul Hikmah yang sudah menjadi perantara sampainya pelajaran kehidupan yang hendak Allah berikan padaku hari ini, serta sudah berlelah lillah untuk keberlangsungan dan kelancaran kegiatan ini. Sampaikan terima kasihku juga untuk teman-teman UIN dan sahabat panti yaa. Oh iya, terima kasih juga untuk Ardi yang sudah jadi penunjuk jalanku sampai ring road. Wkwk. Semoga kegiatan ini berkah dan donatur Firdausul Amal bisa semakin banyak dan semakin semangat menebar kebaikan untuk orang lain :)
Sekali lagi, terima kasih untuk semua anggota yang juga sekaligus donatur Firdausul Amal. Terima kasih sahabat panti. Terima kasih adik-adik Panti Yatim dan Dhuafa Nurul Haq Madania. Terima kasih Allah :)

Catt : Bagi yang ingin tahu lebih banyak soal Firdausul Amal atau bahkan langsung ingin bergabung menjadi donatur, bisa langsung menghubungiku :)

Sabtu, 27 Mei 2017

Kenangan Ramadhan 1 : Tidak Jadi ke Solo, Ini Gantinya!



Terima kasih, Allah. Sudah diizinkan bertemu dengan Ramadhan, lagi.
Aku berdoa, semoga akan banyak pelajaran dan hikmah besar selama satu bulan ini. Semoga aku bisa lebih peka dengan setiap pelajaran yang Allah sampaikan lewat apapun itu.

Hari pertama puasa, inginnya menghabiskan waktu bersama keluarga. Mulai dari sahur, sampai nanti berbuka. Tapi apalah daya ketika semua orang berfikir hal yang sama, tiket kereta ludes tak  bersisa (ini cerita atau baca puisi, kok sajaknya a-a-a-a?) oke, jangan terlalu serius. Jadi, di hari pertama puasa tahun ini, kegiatanku adalah menjadi penguji placement test untuk kegiatan PBQ (Pesantren Baca Qur’an) di UGM. Bukan hal yang mengherankan ya, kalau saat Ramadhan marak kegiatan-kegiatan seperti ini. Tapi, ada pelajaran berharga yang kudapatkan dari kegiatan tersebut, sebagai ganti tidak jadi pulang ke Solo.

Awalnya, peserta yang hadir untuk placement test hanya sekitar belasan. Umurnya pun terlihat sepantaran dengankukisaran mahasiswa lah. Kupikir juga kegiatan ini khusus untuk mahasiswa saja. Sampai pada urutan peserta yang ke berapa aku lupa, pertanyaanku terjawab.
“Mba, ini nanti waktunya jam berapa ya? Soalnya saya kerja, jadi bisanya ya habis subuh gitu.”
“Oh, kerjanya sampai sore mba?” tanyaku menanggapi.
“Iya, dari pagi sampai sore.”
“Oh, ya, nanti bisa dikoordinasikan lagi kok. Karena jadwalnya masih bisa ganti.” Timpal mba Kartika yang juga duduk sebagai penguji.
Lantas aku bergumam, “Waah.. sudah kerja..”. Terlepas masih mahasiswa atau tidak, aku cukup merasa kagum saat itu. Lihat, meski sibuk bekerja, semangat untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’annya tinggi sekali. 

Kemudian sekitar pukul sepuluh, peserta yang lain mulai berdatangan. Wah, banyak juga ya, batinku. Memang sih, di awal, kami (aku, mba Kartika, dan mba Widdad) selaku penguji diberitahu kalau jumlah yang mendaftar PBQ ada 60 orang. Hanya saja, saat itu juga aku berfikir bahwa kami akan dibagi kelompok, lalu setiap penguji mendapatkan jatah menguji 10 orang katakanlah. Eh, ternyata tidak. Satu per satu, setiap peserta, diuji oleh tiga penguji sekaligus. Bisa membayangkan berapa lama? Haha. Tapi tidak ada rencana Allah yang tidak memberikan hikmah.

Para peserta sudah banyak yang beranjak pulang ketika sosok pembawa hikmah ini maju. Badannya tinggi, mengenakan gamis dan jilbab yang cukup lebar. Dari wajah dan caranya bicara, aku menduga sosok ini bukan lagi seorang mahasiswa. Umurnya sekitar 40 tahun ke atas. Saat mulai membaca, aku tersenyum. Makharijul hurufnya sudah sangat baik. Tajwidnya juga cukup. Hanya kurang lancar. Sekali dua kali salahmungkin grogi. Saat itu, entah mengapa, terbesit saja di pikiranku, “Hebat ya, belajar Al-Qur’an memang tidak kenal umur. Tapi kalau dipikir-pikir, banyak kan lembaga yang khusus ibu-ibu? Kenapa ya ibu itu mau ikut PBQ padahal rata-rata peserta lainnya adalah mahasiswa?”

Nah, Pembaca. Mumpung masih hari pertama puasa, yuk belajar dari sosok ibu yang satu ini. Sudah sekian umurnya, tapi tidak berhenti untuk terus memperbaiki bacaan Al-Qur’annya. Jangan sampai nih, yang masih muda seperti aku justru malas memperbaiki bacaan Al-Qur’an sebab merasa waktu hidup di dunianya masih lama. Tiba-tiba teringat perkataan Ustad Ransi beberapa waktu yang lalu, “Anak muda sekarang, ilmunya sedikit, gayanya selangit.” Na’udzubillah..

Special thanks to Mas Farhan yang sudah menjadi jembatan atas sampainya pelajaran kehidupan dari Allah untukku hari ini. Semangat Ramadhan, semoga kita bisa menjadi pribadi yang peka dengan pelajaran-pelajaran yang Allah sampaikan lewat alam dan kehidupan :)

Minggu, 21 Mei 2017


Alhamdulillah, buku saya sudah bisa di pesan, Pembaca :)
Silakan pm atau kontak penerbitnya langsung.
Selamat menikmati :D

Sabtu, 20 Mei 2017

Ramadhan Seminggu Lagi, Sempat Bertemu Tidak, Ya?


Selamat malam, Pembaca. Ada yang memperhatikan sudah berapa lama aku tidak menulis? Ya, aku memang sempat sakit kemarin. Demam berdarah. Itu pertama kalinya aku opname dan sungguh memberikan begitu banyak pelajaran berharga untukku. Tapi kali ini aku bukan akan cerita soal sakitku. Aku akan cerita soal kejadian sore tadi.
Jadi, setelah cukup lelah sejak pagi di kampus, sehabis ashar aku pergi ke Darus Shalihat (DS) untuk mengikuti kajian. Karena baru sekali datang ke sana, aku linglung. Alhasil aku salah parkir di tempat ikhwan. Hehe.
Pukul empat lebih sedikit, kajian dimulai. Diawali dengan putaran murottal surah Al-Mulk, lalu penyampaian materi oleh Ustad. Materi pada sore tadi adalah Ramadhan, ahsanu ‘amala. Bagus dan entah kenapa menyentuh sekali rasanya—mungkin efek rindu juga dengan pondok assalaam. Jadi, begini isinya.
Apakah sholat adalah amal baik? Tentu. Puasa? Zakat? Membaca Al-Qur’an? Apakah semua itu amal baik? Jelas. Namun, bagaimana nilai tingkatan amal baik tersebut saat kita melakukannya?
Ihsan adalah tingkatan tertinggi seorang muslim. Sedang yang terendah adalah hasan. Ketika kita masih berada pada tingkatan hasan, maka belum tentu kita akan jauh dari keburukan dan godaan setan. Mudahnya begini. Pernah melihat ahli ibadah tetapi bicaranya buruk? Nah, bisa dikatakan amal ibadah yang selama ini ia kerjakan, masih dalam tingkatan yang hasan. Lalu, harusakah kita menaikkan tingkatan tersebut menjadi ihsan? Ya, pasti. Bagaimana caranya?
Ramadhan. Amal-amal di bulan Ramadhan bisa menjadi cara bagi kita supaya bisa menaikkan tingkatan tersebut. Lantas, bagaimana caranya agar Ramadhan bisa meng-ahsanu ‘amalakan hidup kita sehingga bisa menuju tingkatan ihsan?
Pertama, cukup membawa Allah dalam setiap perkara yang kita kerjakan. Apakah mudah, tetap merasa lapang saat pemberian tulus kita disu’udzoni sebagai pemberian yang ada maunya? Mungkin mudah, mungkin tidak. Bagi yang tingkatan amal baiknya sudah ihsan, hal tersebut tidak menjadi masalah. “Untuk apa sakit hati? Urusan memberi itu urusan saya dengan Allah, tidak yang lain.”
Kedua, berjuang. Ketika Ramadhan nantinya berakhir dan ternyata diri kita tak ada rasa perjuangannya sama sekali, bisa jadi amal-amal kita selama di bulan mulai tersebut masih setingkat hasan.
Ketiga, tapaki Ramadhan dengan baik. Sebab Ramadhan adalah tamu agung, sudah semestinya kita memperlakukan ia sebagaimana tamu agung pada umumnya. Ada lima hal yang bisa kita persiapkan dalam menyambut tamu agung ini.
1.       Membersihkan hati.
Sebab hati yang kotor, adalah hati yang dibiarkan berada dalam cengkraman setan. Cengkraman ini lama-kelamaan akan menimbulkan luka. Luka yang pertama, Takabur atau sombong. Luka yang kedua, Tahallu’ atau suka mengeluh. Luka yang ketiga adalah Tasahhul atau menggampangkan hukum, dan luka yang keempat adalah tasyakkuk atau ragu dengan Allah.
Pada bagian inilah entah kenapa hatiku tersentuh sekali. Mungkin hatiku sedang sakit? Bisa jadi. Karena pembahasan ini jugalah rasanya aku semakin rindu dengan assalaam. Aku rindu dengan kajian tafsir Qur’an dengan Ustad Kadarusman, aku rindu sholat berjama’ah lima waktu di masjid dengan imam maghrib dan isya’ yang masya Allah merdunya, yah, intinya tiba-tiba aku rindu dengan masjid jami’ assalaam.
2.       Menghiasi hati.
Menghiasi hati dengan apa? Jelas dengan hal-hal yang disukai oleh bulan Ramadhan. Salah satunya adalah bertaubat. Istighfar menjadi sebuah bacaan yang luar biasa sekali ketika terus menerus diucapkan. Saat diri kita sudah bersih nantinya setelah Ramadhan, bacaan istighfar yang tetap senantiasa diucapkan bisa menjadi jalan datangnya rezeki yang tak terduga-duga.
3.       Melapangkan hati.
Menerima apapun sebagai kebaikan. Tidakkah dicela itu menyaitkan? Tentu. Bisa jadi malah sangat menyakitkan. Tetapi dengan melapangkan hati, apakah itu celaan atau pujian, semuanya tetap bisa diterima dengan kebaikan.
4.       Menerangi hati.
Ada dua cahaya yang bisa kita gunakan untuk menerangi hati, yakni ingat mati dan rindu akhirat. Bagian ini juga yang membuat hatiku sesak. Kalau bukan tempat umum, mungkin aku sudah menangis. Entah mengapa semakin besar, pikiranku soal kematian itu semakin sering. Saat berkendara, saat menghabiskan waktu bersama keluarga bahkan, aku sering terbesit pikiran soal kematian. Apalagi saat aku terbaring di rumah sakit beberapa waktu lalu. Membuatku kadang takut ketika ingat betapa hidup di dunia ternyata begitu singkat. Poin yang kedua selain ingat mati adalah rindu akhirat. Pertanyaannya, masih adakah rasa rindu itu?
5.       Menyipakan amal terbaik selama Ramadhan.
Kita bisa menyiapkan amal terbaik selama Ramadhan dengan menjalani amal-amal baik tersebut dengan kesungguhan dan kesabaran, serta beramal hanya dengan melihat Allah.
Yah, begitulah sedikit ulasan kajian yang bisa kusampaikan malam ini. Lumayan sebagai penyemangat sebelum UAS. Doakan UAS ku lancar dan hasilnya baik ya, Pembaca. Aamiin..
Doaku di akhir kajian ini adalah, Allah, semoga hamba tidak termasuk orang-orang yang prestasi dan pencapaian dunianya keren pol, tapi perbuatan baik, amal ibadah, dan persiapan hidup di akhiratnya nol. Aamiin..
Kita harus menjadi umat yang pertengahan, bukan?
Semangat UAS !