my graduation

my graduation

Rabu, 14 Juni 2017

Kenangan Ramadhan 3 : Merindukan Kejayaan Islam


Dr.Hamid Fahmy Zarkasy

Selamat malam, Pembaca. Sudah puasa hari ke berapa ini? Semoga senantiasa semangat dan istiqomah yah. Kali ini saya akan membagikan sebuah ilmu yang barusan saya dapatkan tadi pagi dari seorang yang sangat luar biasa, yakni Dr.Hamid Fahmy Zarkasy. Siapa sih beliau?
Dr.Fahmy Zarkasy adalah direktur INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), Jakarta; sekaligus wakil rektor UNIDA (Universitas DaarusSalaam). Beliau menamatkan pendidikan S2 (MAEd) dalam bidang Pendidikan di The University of Punjab, Lahore Pakistan dan S2 (M.Phil.) dalam Studi Islam di University of Birmingham United Kingdom. Studi S3 (Ph.D.) bidang Pemikiran Islam diselesaikan di Institute of Islamic Thought and Civilizations (ISTAC) Malaysia.
Pembahasan kali ini bertemakan “Mengembalikan Semangat Belajar Para Pemenang”. Dr. Fahmy Zarkasy mengawali pembahasan kali ini dengan sebuah kalimat yang sangat bagus. “Bicara Islam, artinya bicara kehidupan. Wajah Islam adalah ilmu. Bahkan kata Islam itu sendiri mengandung sebuah ilmu.”
Kita bisa mendekat kepada Allah dengan dua cara. Pertama, beribadah. Ibadah yang dimaksud di sini adalah ibadah mahdah. Seseorang yang sangat rajin beribadah hingga menjadi ‘abid (ahli ibadah), ia akan sangat mungkin dekat dengan Allah. Orang seperti ini, ia akan mempunyai ma’rifah dan biasanya dikarunia karomah (keistimewaan dari Allah yang tidak dimiliki orang lain). Puncak dari orang-orang ini dinamakan ‘arif billah. Cara kedua dalam mendekat kepada Allah adalah melalui ilmu pengetahuan. Menjelaskan sholat, puasa, zakat secara ilmiah. Puncaknya, orang-orang seperti ini disebut ‘alim ulama. Nah, kemudian yang menjadi pertanyaan, mana yang lebih tinggi, seorang ‘arif billah atau ‘alim ulama?
Ternyata jawabannya adalah lebih tinggi seorang ‘alim ulama. Mengapa begitu? Sebab, ‘arif billah mendekatkan diri kepada Allah hanya untuk diri sendiri. Sedangkan ‘alim ulama, mendekatkan diri kepada Allah dengan mencari Ilmu yang kemudian Ilmu tersebut dimanfaatkan orang banyak. Inilah mengapa dalam penggalan QS.Al-Mujadalah ayat 11, bunyinya adalah ‘ilma darojaat. Contoh yang sangat simpel, orang-orang yang menulis buku. Bisa dibayangkan bagaimana royalti pahalanya? Luar biasa besar. Setiap bukunya dibaca orang lain, maka pahalanya terus mengalir. Dari orang yang membaca tersebut kemudian mengajarkannya kepada orang lain, tambah lagi pahalanya. Sebab itulah seorang ‘alim mempunyai derajat yang lebih tinggi, ia bisa mempengaruhi jutaan manusia.
Masuk kepada ilmu. Tradisi ilmu di dalam Islam, sejatinya lebih dahsyat daripada ilmu tasawuf. Sebab, ilmu dalam Islam sumbernya adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang sangat luar biasa dan keberadaannya sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah sebuah mukjizat. Bila di masa sekarang kita ingin kembali merintis kejayaan Islam, kuncinya adalah kembali kepada Al-Qur’an. Apa yang dimaksud dengan kembali kepada Al-Qur’an? Mengaji? Menghafal? Ya. Tapi tidak hanya sekadar itu. Umat ini tidak hanya membutuhkan seorang yang hafal Al-qur’an tetapi juga yang paham isinya. Sebab dikatakan sahabat pada masa Rasul, “Kami tidak melewatkan satu surah pun kecuali kami telah membacanya, menghafalnya, memahaminya, dan mengamalkannya.” Luar biasa bukan? Umat butuh seorang yang bisa mencerahkan kehidupan ini dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Caranya, dengan konsen terhadap bidang yang ditekuni, kemudian masukkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam pembahasannya.
Al-Qur’an adalah sebuah konseptual network. Kata-kata di dalam Al-Qur’an mengandung makna yang mempunyai hubungan antara satu dengan yang lain. Contohnya, kata tazkiya yang artinya mensucikan. Di dalam Al-Qur’an, kata tazkiya ini kemudian ditemukan selalu berhubungan dengan diri atau harta, sehingga ada mensucikan diri dan mensucikan harta. Karena itulah kemudian mensucikan harta disebut dengan zakat. Zakat itu sendiri memiliki makna membuang harta (memberikan sebagian harta yang kita miliki kepada orang lain yang lebih membutuhkan). Hal ini selaras dengan mensucikan diri berupa sholat, puasa, yang sejatinya juga membuang, yakni membuang dosa. Nah, ketiga hal tersebut saling berhubungan, bukan?
Contoh lain, kata insan, basyar, dan rijal. Ketiga kata tersebut secara otomatis menjelaskan tingkatan-tingkatan manusia. Ketiga kata tersebut memiliki makna yang sama, yakni manusia, tetapi memiliki perbedaan kedudukan. Inilah yang kemudian disebut dengan konseptual network.
Kemudian masuk kepada hubungan ilmu pengetahuan dengan agama. Berfikir tentang penciptaan alam, goal-nya adalah beriman. Seperti yang disebutkan dalam QS.Al Mujadalah : 11, 
"يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ......"
"niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Dalam ayat tersebut terdapat kata iman dan ilmu. Hal ini sama halnya dengan berdzikir dan berfikir. Antara ilmu pengetahuan dan agama tidak dapat dipisahkan. Betapa banyak sekarang orang-orang yang mengatakan, jangan bawa-bawa agama dalam sains. Bagaimana itu? Padahal jelas di dalam Al-Qur’an, berdzikir dan berfikir adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan atau dikerjakan salah satunya saja.
Ada sebuah nasihat yang sangat bagus di sela pembahasan ini. “Barangsiapa mengajar ilmu, maka Allah akan ajarkan padanya ilmu yang belum ia ketahui.” Masya Allah.. Jadi, jangan tunggu pintar dulu baru mengajar. Sebab dengan mengajar itulah kemudian Allah akan mengajarkan pada kita ilmu-ilmu yang belum kita ketahui. Dr.Fahmy Zarkasy menceritakan, ulama-ulama terdahulu menulis apa-apa yang diajarkan guru-guru mereka, sama persis. Hafalan dan ingatan mereka begitu kuat. Setelah itu, mereka mengajarkannya kepada orang lain yang qadarullah dikemudian hari pun menjadi ulama. Nah, mestinya kita-kita ini, lepas mengikuti sebuah kajian, ajarkan ilmu yang kita dapat dalam kajian tersebut kepada orang lain. Begitu seterusnya, sehingga akan semakin banyak orang yang mengerti ilmu tersebut. Hubungannya dengan wasiat ilmu, Dr.Fahmy Zarkasy menyampaikan bahwa nilai dari anak yang soleh dengan ilmu yang bermanfaat adalah sama. Jadi bisa dikatakan melahirkan anak dengan melahirkan buku itu sama. Kalau tidak punya anak, maka harus punya buku. Kalau tidak punya buku, maka harus bangun masjid. Bagus lagi, punya anak, punya buku, dan bisa bangun masjid. Masya Allah…
Kembali kepada ilmu. Dalam tradisi Islam, pembelajaran sebuah ilmu asasnya adalah kebermanfaatan. Untuk apa belajar astronomi? Untuk memudahkan menentukan awal puasa Ramadhan dan waktu sholat. Semuanya kembali pada kemudahan berislam. Contoh lain, Ibnu Batutah. Beliau adalah seorang traveller muslim yang akhirnya berhasil membuat peta dunia. Al-Farobi, seorang yang sangat handal dalam memainkan musik, ia bisa menguasai penonton dengan musik-musik yang dimainkannya. Ibnu Haitsam, pakar di bidang optik, yang dengannya kita bisa menikmati kamera saat ini. Pun Ibnu Khaldun, seorang pakar Sosiologi, dan Ibnu Rusyd, ulama yang menciptakan jembatan antara agama dengan filsafat. Pecapaian umat Islam di bidang sains ini bahkan mengalahkan pencapaian filsafat di negara-negara pendahulu seperti Yunani, Romawi, Persia, dll. Nah, lalu, apa kontribusi kita untuk kemajuan Islam? Sudahkah kita menekuni bidang kita dengan menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an di dalamnya?

Begitulah garis besar materi yang Dr.Fahmy Zarkasy sampaikan pagi tadi. Ada beberapa kalimat-kalimat yang sangat menarik dan terus membuatku ingat.
“Kalau bikin skripsi soal ilmu yang dipelajari di kelas, diajarkan oleh dosen, itu biasa. Buatlah dengan menghubungkannya dengan Al-Qur’an. Sebab semua ilmu sumbernya adalah Al-Qur’an.”
“Penampilan dosen, lisannya fasih terhadap ayat-ayat Allah.”
“Ulama dam konteks scientist.
“Backgroundnya sains, wajahnya ustad, lisannya qur’an dan sains.”
“Mengaji+memahami+kaitkan dengan disiplin ilmu yang kita pelajari.”
Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang semoga bisa membangkitkan semangat, utamanya untuk diriku pribadi. Berawal dari pertanyaan seorang peserta, “Bisakah kita yang sekarang ini menjadi setaraf ‘alim ulama?”
Dr. Fahmy Zarkasy menjawab, “Bisa.” Hanya saja, generasi sekarang dengan dulu memang berbeda. “Ayah saya dulu, dari Ponorogo ke Jogja untuk mendatangi sebuah konferensi Islam. Lepas dari Jogja, beliau ke Solo jalan kaki, baru kemudian naik bis kembali ke Ponorogo. Orang dulu itu perjuangannya begitu. Berpayah-payah, kerja keras, makanya sukses. Nah kalo sekarang ini, menurut penelitian Sosiologi ya, generasinya malas. Manja-manja. Dari Surabaya ke Jogja saja dianter. Sekeluarga lagi. Enak memang, tapi yang seperti itu bukan mental pejuang.” Lantas bagaimana?
“Ya yakin. Usaha yang kuat, kerja keras. Saya senang dengan program one day one juz. Tapi masih kurang sebenarnya. Mestinya, one day one juz one tafsir. Benahi baca Al-Qur’annya, pahami isinya, belajar tafsir, lalu kaitkan dengan disiplin ilmu yang kita pelajari. Imam Syafi’I itu kalau belum paham akan sebuah buku, dibaca sekian puluh kali sampai paham. Begitu juga Ibnu Sina, seorang pakar di bidang Kedokteran ketika membaca sebuah buku filsafat karya Al-Farobi. Awalnya Ibnu Sina tidak paham. Tetapi kemudian beliau membacanya sampai 60 kali dan akhirnya paham. Setelah itu, Ibnu Sina menjadi pakar (juga) dalam bidang Filsafat dan mampu menulis buku filsafat yang jauh lebih baik dari pada karya Al-Farobi.”
Masya Allah.. luar biasa sekali ya, Pembaca. Betul-betul harus banyak belajar dari ulama-ulama terdahulu. Semangat belajarnya masya Allah :’) Sebetulnya masih ada beberapa hal yang dibahas oleh Dr. Fahmi Zarkasy, Pembaca. Hanya saja aku belum terlalu paham sehingga belum berani menuliskannya di sini. Semoga yang sedikit ini bermanfaat ya, Pembaca. Semangat mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan mengajarkannya pada orang lain J Doaku, semoga Allah memberiku kesempatan untuk bisa bertemu lagi, bahkan belajar dan menjadi murid beliau (Dr.Fahmy Zarkasy). Semoga kita semua senantiasa Allah mudahkan dalam mempelajari ilmu-Nya, mengaji dan mengkaji Al-Qur’an, menghafal, memahami, dan mengamalkan setiap isinya. Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar